Pages - Menu

Menu

Minggu, 06 Desember 2015

POLICY AND DECIOUS MAKING





PEMBAHASAN
             A.    Kebijakan (policy)
a)      Pengertian Kebijakan (policy)
Kebijakan adalah sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak.[1]
Menurut para ahli kebijakan adalah suatu ucapan atau tulisan yang memberikan petunjuk umum tentang penetapan ruang lingkup yang memberi batas dan arah umum kepada seseorang untuk bergerak. Secara etimologis kebijakan adalah terjemahan dari kata policy. Kebijakan dapat berupa berbentuk keputusan yang dipikirkan secara matang dan hati-hati oleh pengambil keputusan.
Menurut James Anderson (1979) kebijakan adalah Suatu pola tingkah yang terarah kepada tujuan dan diikuti oleh seseorang atau beberapa orang dalam menangani suatu masalah (a purposive course of action followed by an actor or a set of actors  in dealing with a problem or matter of concern). “pola tingkah laku yang terarah pada tujuan” berhubungan dengan kenyataan bahwa kebijakan adalah sesuatu yang gelap dan abstrak yang mendorong kepada keputusan-keputusan selanjutnya. [2]
Sering diperdebatkan antara kata kebijakan dengan kata kebijaksanaan, Di lingkungan Ilmu Pemerintahan pada tahun 80-an abad yang lalu, pernah terjadi polemik atau perdebatan akademik tentang terjemahan konsep policy dalam bahasa Indonesia, mengingat banyaknya ragam bahasa dan ungkapan yang digunakan seperti arti-bijaksana. Tetapi sementara itu, kata kebijaksanaan dalam pemakaian sehari-hari menjadi tercemar, karena kebijaksanaan diartikan sebagai kepandaian menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya): berkat – beliau, terlepaslah kita dari bahaya besar. Oleh karena itu, kata kebijakan digunakan untuk policy, dan kata kebijaksanaan dibiarkan “mengambang”. Yang dimaksud dengan kebijakan dalam Kybernology dan dalam konsep kebijakan Pemerintahan, adalah sistem nilai kebijakan dan kebijaksanaan diatas yang lahir dari kearifan aktor atau lembaga yang bersangkutan.[3]

b)      Tipe-tipe Model Kebijakan
Model kebijakan (Policy model) adalah gambaran sederhana mengenai aspek-aspek yang terpilih dari suatu kondisi masalah yang disusun untuk tujuan-tujuan tertentu. Model      kebijakan dapat dinyatakan sebagai konsep, diagram, grafik, atau persamaan matematika. Model kebijakan dapat digunakan tidak hanya untuk menerangkan, menjelaskan, dan memprediksikan elemen-elemen suatu kondisi masalah melainkan juga untuk memperbaikinya dengan merekomendasikan serangkaian tindakan untuk memecahkan masalah-masalah tertentu. Model-model kebijakan dapat membantu membedakan hal-hal yang mendasar dan yang tidak mendasar dari suatu masalah, mempertegas hubungan di antara faktor-faktor atau variebel-variebel penting, dan membantu menjelaskan dan memprediksikan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan-pilihan kebijakan.[4]
    Theodore Lowi telah mengusulkan  suatu tipologi di mana ia berusaha memikirkan tipe kebijakan sebagai cara penentuan kebijakan. Ia membagi kebijakan atas tiga tipe: distributuif, redistributif, dan yang bersifat peraturan. Ia menyatakan bahwa setiap arena kebijakan dicirikhaskan oleh suatu tipe penentuan kebijakan yang berbeda. Kebijakan distributif  adalah kebijakan–kebijakan yang mengalokasikan sumber-sumber dari masyarakat kepada banyak kelompok-kelompok lain yang berbeda-beda. Seperti ada sesuatu bagi orang lain walaupun kecil dan tidak ada seorang pun yang dibebani dengan pembayaran yang besar kepada pemerintahan. Misalnya, pinjaman-pinjaman sekolah, latihan kerja, dll.
    Kebijakan-kebijakan redistributif adalah kebijakan-kebijakan yang mengalokasikan keuntungan-keuntungan  kepada kelompok-kelompok tertentu, tetapi ada kelompok-kelompok lain yang dapat diidentifikasikan yang harus menanggung biaya. Misalnya, urusan-urusan kesejahteraan. Kelas menengah dan kelas kaya diharapkan membayar pajak yang tinggi untuk membiayai pelayanan-pelayanan  bagi mereka yang membutuhkannya dan tidak sanggup membiayainya. Kalau tidak sesuatu punbagi orang yang tidak ditetapkan siapa yang harus memberi dan siapa yang harus membayar, maka arena kebijakan akan menimbulkan konflik dan ciri khasnya adalah koalisi yang tetap antara kaum kaya dan kaum lemah.
    Di dalam skema Almonddan Powell, politik pengaturan berkaitan dengan kontrol pemerintah. Lowi mengatakan bahwa penentuan kebijakan dalam bidang pengaturan ditandai oleh konflik yang sungguh dan koalisi yang tidak tetap. Misalnya, perusahaan-perusahaan penerbangan bersaing dalam transportasi muatan dan karena itu mereka mengusahakan kerelaan dari pemerintah.
    Dari tiga tipe generalisasi yang menyangkut hubungan antara tipe pengambilan keputusan dan tipe kebijakan berdasarkan skema Lowi. Hal ini merupakan suatu daftar komprehensif dari semua cara yang dipakai oleh para peneliti dalam mengkategorisasikan kebijakan. Daftar ini memenuhi syarat sebagai suatu basis diskusi  mengenai pemakaian dan batas-batas untuk menciptakan tipe-tipe kebijakan.
    Sebelum membuat generalisasi-generalisasi mengenai kebijakan, Terlebih dahulu harus yakin akan hakikat kebijakan-kebijakan itu sendiri. Langkah kita harus menentukan entah semua kebijakan itu sama secara fundamental ataukah berbeda-beda, apabila terdapat perbedaan langkah selanjutnya harus menspesifikasikan perbedaan-perbedaan itu. Hal inilah yang harus dilihat di dalam pengembangan kategori-kategori atau tipe-tipe kebijakan. Karena sulitnya untuk mengembangkan kategori-kategori yang dapat dipakai untuk mengklasifikasikan kebijakan-kebijakan tanpa makna rangkap atau overlapping.
    Langkah selanjutnya dalam  hal penentuan kebijakan adalah bagaimana kebijakan itu ditetapkan. Mahasiswa-mahasiswa ilmu politik membayangkan bahwa penentuan kebijakan adalah suatu proses yang berlalu terus yang tidak dapat selesai dengan penentuan suatu program. Keputusan-keputusan yang tetap penting untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan, hal ini penting pula  karena untuk mencapai hasil akhir.[5]
c)      Analisis Kebijakan
    Analisis kebijakan adalah suatu bentuk analisis  yang menghasilkan dan menyajikan informasi sedemikian  rupa sehingga dapat memberi landasan dari para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan.
           Tiga Pendekatan dalam Analisis Kebijakan
PENDEKATAN
PERTANYAAN UTAMA
TIPE INFORMASI
Empiris
Adakah dan akankah ada (fakta)
Deskriptif dan prediktif
Valuatif
Apa manfaatnya (nilai)
Valuatif atau penilaian
Normatif
Apakah yang harus diperbuat (aksi atau tindakan)
Preskriptif atau memberi petujuk or ketentuan.

Analisis kebijakan diambil dari berbagai macam disiplin dan profesi yang tujuannya bersifat deskriptif, evaluatif, dan preskriptif. Analisis kebijakan diharapkan dapat menghasilkan informasi dan argumen-argumen yang masuk akal mengenai tiga macam pertanyaan: (1) nilai yang pencapaiannya merupakan tolok ukur utama untuk melihat apakah masalah telah teratasi, (2) fakta yang keberadaannya dapat membatasi atau meningkatkan  pencapaian nilai-nilai, dan (3) tindakan yang penerapannya dapat menghasilkan pencapaian nilai-nilai.
    Didalam menghasilkan informasi dan argumen-argumen yang masuk akal mengenai tiga pertanyaan diatas seorang analis dapat memakai satu atau lebih dari tiga pendekatan analisis, yaitu: empiris, valuatif, dan normatif. Pendekatan empiris ditekankan pada penjelasan berbagai sebab dan akibat dari suatu kebijakan publik tertentu. Pertanyaan utama bersifat faktual (apakah sesuatu ada?)  dan macam informasi yang diperoleh adalah bersifat deskriptif.Pendekatan valuatif, ditekankan pada penentuan bobot atau nilai beberapa kebijakan. Disini pertanyaannya berkenaan dengan nilai (berapa nilainya?) dan tipe informasi yang diperoleh bersifat valuatif. Pendekatan normatif ditekankan pada rekomondasi serangkaian tindakan yang akan datang yang dapat menyelesaikan masalah-masalah publik. Pertanyaannya berkenaan dengan tindakan (apa yang harus dilakukan?)dan tipe informasi yang dihasilkan bersifat preskriptif.[6]

            B.     Pengambilan Keputusan (Decision-Making)
1.      Pengertian Pengambilan Keputusan
Ada beberapa definisi tentang pengambilan keputusan, dalam hal iniarti pengambilan keputusan sama dengan pembuatan keputusan.
a.      G. R. Terry
Pengambilan keputusan dapat didefinisikan sebagai “pemilihan alternatif  kelakuan tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada”.
1.       Harold Koontz dan Cyril O’Donnel
Pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara alternatif-alternatif mengenai sesuatu cara bertindak—adalah inti dari perencanaan. Suatu rencana dapat dikatakan tidak ada, jika tidak ada keputusan suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.
2.      Drs. H. Malayu S.P Hasibuan
Pengambilan keputusan adalah suatu proses penentuan keputusan yang terbaik dari sejumlah alternative untuk melakukan aktifitas-aktifitas pada masa yang akan datang.
3.      Richard C. Snyder
Seorang peneliti yang telah memberi batasan atau yang telah menetapkan konsepsi decision making. Snyder ini juga seorang ahli politik yang telah merumuskan suatu kerangka untuk menganalsa ilmu politik yang didasarkan pada konsepsi/pengertian decision making.
Menurut Richard C. Snyder pengambilan keputusan atau decision making diperoleh dari urutan tindakan yang diseleksi dari sejumlah masalah yang terbatas yang ditetapkan secara sosial, dari suatu proyek untuk melahirkan keadaan peristiwa yang khusus pada masa mendatang oleh para pembuat keputusan.  Inti-isi decision making menurut Snyder ini bersifat pilihan. Jika tidak ada alternatif, maka tidak ada kebutuhan atau tidak perlu ada keputusan yang diusahakan untuk dibentuk. Snyder menetapkan decision making sebagai berikut: proses pemilihan antara alternatif urutan tindakan.  Dari definisi Snyder ini berharap bisa mempersempit/memperkecil bidang studi sehingga bisa memulai penelitian dan juga cukup luas untuk menjangkau tanggung jawab penelitian yang luas yang telah dilakukan didalam decision making.[7]
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah proses pemilihan alternatif solusi untuk masalah. Secara umum pengambilan keputusan adalah upaya untuk menyelesaikan masalah dengan memilih alternatif solusi yang ada.
2.      Proses Pengambilan Keputusan
      Setiap keputusan yang diambil itu merupakan perwujudan dari kebijakan yang telah digariskan. Oleh karena itu, analisis proses pengembalikan keputusan pada hakekatnya sama saja dengan analisis proses kebijakan. Proses pengambilan keputusan meliputi:
a.       Identifikasi masalah
Dalam hal ini pemimpin diharapkan mampu mengidentifikasi masalah yang ada di dalm suatu organisasi.
b.      Pengumpulan dan penganalisisan data
Pemimpin diharapkan dapat mengumpulkan dan menganalisis data yang dapat membantu memecahkan masalah yang ada.
1)      Pembuatan alternatif-alternatif kebijakan
Setelah masalah dirinci dengan tepat dan tersusun baik, maka perlu dipirkan cara-cara pemecahannya, pemecahannya melalui alternatif-alternatif beserta konsekuensinya. Oleh karena itu seorang pemimpin mengadakan perkiraan dibutuhkan adanya informasi yang secukupnya dan metode perkiraan yang baik. Perkiraan itu terdiri dari berbagai macam pengertian.
a.       Perkiraan dalam arti proyeksi
Perkiraan yang mengarahj pada kecenderungan dari data yang telah terkumpul dsn tersusun secara kronologis.
b.      Perkiraan dalam arti prediksi
Perkiraan yang dilakukan dengan menggunakan analisis sebab akibat.
c.       Perkiraan dalam arti konjeksi
Perkiraan yang didasarkan pada kekuatan intuisi/perasaan .
2)      Pembuatan alternatif-alternatif kebijakan
Dalam pelaksanaan keputusan berarti seorang pemimpin harus mampu menerima dampak yang positif maupun negatif. Apabila mendapat alternatif yang negatif pemimpin harus mempunyai alternatif yang lain.
3)      Pemantauan dan pengevaluasian hasil pelaksanaan
Setelah keputusan dijalankan seharusnya pemimpin seharusnya dapat mengukur dampak dari keputusan yang telah dibuat. [8]

c.       Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
1.      Komposisi kelompok, Terdapat 4 hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun komposisi kelompok.
a.       penerimaan tujuan umum; mempengaruhi kerjasama dan tukar informasi
b.      pembagian (divisibilitas) tugas kelompok; tidak semua tugas dapat dibagi
c.       komunikasi dan status struktur; biasanya yang posisinya tertinggi paling mendominasi dalam kelompok.
d.      ukuran kelompok; semakin besar kelompok semakin menyebar opini, konsekuensinya adalah semakin lemah partisipasi individu dalam kelompok tersebut.
2.      Kesamaan anggota kelompok Keputusan kelompok akan cepat dan mudah dibuat bila anggota kelompok sama satu dengan yang lain.
3.      Pengaruh polarisasi kelompok. Seringkali keputusan yang dibuat kelompok lebih ekstrim dibandingkan keputusan individu. Hal itu disebabkan karena adanya perbadingan sosial. Tidak semua orang berada di atas rata-rata. Oleh karena itu untuk mengimbanginya perlu dibuat keputusan yang jauh dari pendapat orang tersebut.
C.     Hubungan antara kebijakan dan pengambilan keputusan
Walaupun manajer mungkin bisa, atau tidak mau mengatakan kepada manajemen lebih rendah harus mengambil keputusan apa, sering sangat penting untuk mengucapkan garis pedoman atau batas – batas yang akan dipertimbangkan oleh bawahan bilamana mengambil keputusan. Ini biasanya disebut kebijakan atau nilai-nilai atau prinsip-prinsip organisasi. Kebijkan manajemen menghendaki agar keputusan penetapan tenaga tidak boleh pilih kasih, tetapi tingkat bawahan diperbolehkan untuk memilih orang-orang mereka.
Pendapat Anderson yang membedakan pengambilan keputusan dengan pembuatan kebijakan. Anderson mengemukakan bahwa pengambilan keputusan melibatkan pilihan dari sebuah alternatif diantara sekelompok alternatif lain yang bersaing (Anderson, 1978:9). Dari berbagai alternatif yang tersedia, sekelompok aktor yang terlibat dalam pembuatan kebijakan harus berkompromi untuk menentukan sebuah pilihan yang disepakati untuk dilaksanakan. Sedangkan pembuatan kebijakan berkaitan dengan pola tindakan yang melibatkan banyak keputusan dan terjadi secara rutin maupun tidak. Pendapat ini sesuai dengan definisi menurut Bintoro tjokroamidjojo yang mengemukakan bahwa apabila pemilihan alternatif dilakukan sekali dan selesai maka kegiatan itu disebut pembuatan keputusan. Sebuah kegiatan dinamakan perumusan kebijakan adalah apabila pemilhan alternatif itu terus menerus dilakukan dan tidak pernah selesai.
Dalam formulasi, sebuah rancangan kebijakan dibahas dengan melibatkan berbagai pihak baik yang mendukung maupun menentang kebijakan tersebut. Menurut Anderson formulasi merupakan kompetisi untuk mencapai kesepakatan (compete for acceptance) dan memiliki karakteristik melibatkan berbagai macam kepentingan untuk didiskusikan dan dikompromikan (Anderson, 1978:66). Berbagai pendapat yang muncul saling beradu argumentasi dan mempengaruhi satu dengan yang lain dengan tujuan mecapai kesepakatan. Ketika rancangan kebijakan selesai diformulasikan, berarti telah melewati ajang yang tidak mudah dan bisa jadi berliku. Menurut Nigro dan Nigro terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan keputusan atau kebijakan. a) adanya pengaruh tekanan-tekanan dari luar. b) adanya pengaruh kebiasaan lama (konservatisme). c) Adanya pengaruh sifat-sifat pribadi. d) adanya pengaruh dari kelompok luar, dan e) adanya pengaruh keadaan masa lalu (dalam Irfan Islamy, 1994:26).
KESIMPULAN
Kebijakan (policy) adalah sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak.  Tipe-tipe model kebijakan terdiri atas tiga tipe: distributuif, redistributif, dan yang bersifat peraturan. Di dalam menganalisis kebijakan terdapat tiga pendekatan yaitu empiris, valuatif, dan normative.
Pengambilan keputusan dapat didefinisikan sebagai “pemilihan alternatif  kelakuan tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada”.  Setelah pengambilan keputusan langkah selanjutnya adalah Proses Pengambilan Keputusan.
Setiap keputusan yang diambil itu merupakan perwujudan dari kebijakan yang telah digariskan. Oleh karena itu, analisis proses pengembalikan keputusan pada hakekatnya sama saja dengan analisis proses kebijakan. Proses pengambilan keputusan meliputi:
a.       Identifikasi masalah
b.      Pengumpulan dan penganalisisan data
c.       Pembuatan alternatif-alternatif kebijakan
d.      Pembuatan alternatif-alternatif kebijakan
e.       Pemantauan dan pengevaluasian hasil pelaksanaan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
1.      Komposisi kelompok.
2.      Kesamaan anggota kelompok Keputusan kelompok akan cepat dan mudah dibuat bila anggota kelompok sama satu dengan yang lain.
3.      Pengaruh polarisasi kelompok.
Hubungan antara kebijakan dan pengambilan keputusan
Anderson mengemukakan bahwa pengambilan keputusan melibatkan pilihan dari sebuah alternatif diantara sekelompok alternatif lain yang bersaing (Anderson, 1978:9). Dari berbagai alternatif yang tersedia, sekelompok aktor yang terlibat dalam pembuatan kebijakan harus berkompromi untuk menentukan sebuah pilihan yang disepakati untuk dilaksanakan. Sedangkan pembuatan kebijakan berkaitan dengan pola tindakan yang melibatkan banyak keputusan dan terjadi secara rutin maupun tidak.
Daftar Pustaka
Dunn, William N. Pengantar Analisis Kebijakan Publik edisi kedua. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1999.
Ndraha, Taliziduhu. Kybernology 2. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003.
Mary Grisez Kweit Robert W. Kweit. Konsep dan Metode Analisa Politik. Jakarta: Bina Aksara, 1986.
Cobb, Roger W dan Charles D. Elder. Participation in American Politics.  Boston: Allyn dan Bacon, 1972.


[1]Kamus Besar Bahasa Indonesia
[2] Mary Grisez Kweit Robert W. Kweit, Konsep dan Metode Analisa Politik (Jakarta: Bina Aksara, 1986), h. 207.
[3] Taliziduhu Ndraha, Kybernology 2 (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 492-493.
[4] William N. Dunn, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, edisi kedua (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1999), h. H232-233.
[5] Mary Grisez Kweit Robert W.Kweit,  h. 211.
[6] William N. Dunn, h. 97-98.
[7] Mary Grizes Kweit Robert W. Kweit, h. 184-185.
[8] Roger W. Cobb dan Charles D. Elder, Partisipation in American Politics (Boston: Allyn dan Bacon,1972), h. 96

Tidak ada komentar:

Posting Komentar