Pages - Menu

Menu

Minggu, 06 Desember 2015

TAWAKAL DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN


             

            A.    Pengertian Tawakal
Kata tawakal berasal dari bahasa Arab At-Tawakkul yang dibentuk dari kata wakkala, yang secara kebahasaan berarti menyerahkan, mempercayakan, atau mewakili urusan kepada orang lain.[1] Menurut istilah, tawakal adalah menyerahkan segala perkara, ikhtiar dan usaha yang dilakukan kepada Allah, serta berserah diri sepenuhnya kepada-Nya untuk mendapatkan manfaat atau menolak madharat.[2]
Menurut Al-Harawi dalam Manazilu An-Sa’iri, tawakal merupakan tingkatan spiritualitas yang sulit dicapai oleh orang awam, tapi mudah diraih oleh insan pilihan. Tawakal adalah meyerahkan urusan kepada yang berkuasa menanganinya dengan kepercayaan yang utuh, maksudnya ialah menyerahkan seluruh perkara kepada Allah, bersandar kepada kekuasaan-Nya dalam mengatur siklus alam semesta,mendahulukan perbuatan-Nya ketimbang perbuatan kita, dan mengutamakan kehendak-Nya di atas kehendak kita.[3]
Tawakal juga berarti penyandaran hati kepada Allah dengan mempercayai-Nya sepenuhnya, serta kasadaran hati untuk melarikan diri dari pengawasan kekuatan dan sumber manapun.[4] Tawakal adalah titik permulaan dari berbagai hal yang khusus berhubungan dengan perintah atau perjalanan ruhani, dengan menyandarkan diri kepada Allah dan bersikap penuh (tsiqoh) kepada-Nya, kemudian dilanjutkan dengan menetapkan hati dalam kawasan keberlepasan diri dari segala bentuk kekuatan dan daya manusia.
Menyerahkan urusan terbagi mejadi dua macam, yaitu pasrah dan tawakal. Penyerahan urusan pun bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, Allah Swt memasrahi manusia untuk memelihara apa yang diserahkan kepada mereka. Kedua, manusia mengangkat Allah Swt sebagai wakil dan bersandar kepadaya.
            Tawakal sejatinya adalah tingkatan spiritual yang memiliki keterkaitan dengan Asmaul Husna. Lebih khusus lagi tawakal berkaitan dengan Asma Al- Af’al (Nama-nama Allah yang berkaitan dengan perbuatan-Nya) dan Asma Shifat (Nama-nama Allah yang berkaitan dengan sifat-Nya).
Tawakal berkaitan dengan Al-Ghafaru (Maha Pengampun), Al-Tawabu (Maha Menerima Taubat), Al-Affuwun (Maha Pemaaf), Ar-Ra’ufu (Maha Belah Kasih),  dan Al-Rahimu (Maha Penyayang). Tawakal juga berkaitan dengan nama Al-Fattahu (Maha Pembuka Rahmat), Al-Wahhabu (Maha Pemberi), Ar-Razaqu (Maha Pemberi Rizqi), Al-Mu’ti (Maha Memberi), Al-Muhsinu (Maha Baik), Dan Juga Berkaitan Dengan Nama Al-Mu’izzu ( Maha Memuliakan), Al-Mudzilu (Maha Merendahkan), Al-Hafizu (Maha Menjaga), Al-Rafiu (Maha Tinggi).
Karena keterkaitan ini, ada ulama yang memaknai tawakal sebagai pengetahuan tentang Allah Swt, artinya,semakin dalam pengetahuan seseorang tentang Allah Swt, maka semakin kuat tawakalnya. 
Dalam kitab Ihyaul ulumuddin Imam Ghazali menerangkan bahwa:
“ ketahuilah bahwa ilmu itu menimbulkan keadaan, dan keadaan membuahkan kerja. Sesungguhnya ada orang yang mengira bahwa pengertian tawakal itu ialah meninggalkan usaha (tenaga) dengan badan dan meninggalkan perhatian dengan pikiran, jatuh ketanah bagai perca yang dilemparkan atau bagai daging di atas tempat pencencangan,menyerah semata-mata.”[5]
Ini adalah dugaan orang yang bodoh dan jahil, Karena hal yang seerti itu terlarang menurut syara’ (agama)disebabkan agama mewajibkan orang yang bertawakal itu seberapa bisa mencapai suatu kedudukan yang wajar menurut agama, dengan meninggalkan larangan dan menjalankan perintah agama.
“sesungguhnya pengaruh tawakal itu terbukti dalam gerak gerik seseorang,berusaha keras dengan segala kemampuan dan pengetahhuannya, supaya tujuannya tercapai. Usaha seseorang dengan ikhtiah dan kemampuannya, adakalanya untuk mendapatkan manfaat yang telah dipunyainya. Menoleh bahaya yang mungkin dating menimpanya,seperti perampok,pencuri dan binatang buas atau untuk menghilangkan bahaya yang dideritanya,seumpama penyakit dan sebagainya. Maka gerak gerik seseorang selalumengikuti apayang disebut tadi,yaitu menarik manfaat atau memeliharanya,menolah bahaya atau menghilangkannya.[6]
Simbol-simbol bagi tawakal ada tiga, yaitu : menyingkirkan sifat ketergantungan, menghilangkan bujukan yang berkaitan dengan tabiat, dan berpedoman pada kebenaran dalam mengikuti tabiat.[7]
           B.     Macam-macam Tawakal
            Separuh agama adalah tawakal,separuhnya lagi kepasrahan. Tawakal adalah permintaan tolong, sedangan kepasrahan adalah ibadah. Ada empat golongan orang bertawakal:
1.      Orang yang bertawakal dalam mengukuhkan iman, menegakkan ajaran agama Allah Swt, meninggikan kalimat-Nya, memerangi musush-musuh-Nya,mencintai-Nya, serta melaksanakan perintah-Nya. Mereka adalah para wali Allah dan insan pilihan
2.      Orang yang bertawakal agar bisa beristiqomah,terpelihara hubungan baiknya dengan Allah dan tidak bergantung kepada manusia.
3.      Orang yang bertawakal untuk mendapatkan kebutuhannya, seperti rezeki, kesehatan, pertolongan menghadapi musuh, memperoleh jodoh, anak dan sebagainya.
4.      Orang yang bertawakal dalam mewujudkan perbuatan dosa dan tindak kejahatan.
Golongan keempat ini tidak akan mampu mewujudkan kebejatan mereka  tanpa seizin Allah Swt dan tawakal mereka kepada-Nya.[8]

            C.     Delapan Fondasi Tawakal
           Tawakal pada dasarnya terbangun di atas beragam fondasi yang hanya sempurna jika semua fondasi tersebut tersusun rapi dan saling melengkapi.ragam fondasi itu ialah:
1.      Mengetahui Allah Swt, pengetahuan inilah anak tangga pertama yang harus dipijaki dalam mendaki tangga tawakal.
2.      Meyakini adanya hukum sebab-akibat.
3.      Mengukuhkan hati pada tauhid.
4.      Menyandarkan hati kepada Allah Swt dan merasa nyaman bergantung kepada-Nya.
5.      Berbaik sangka kepada Allah Swt.
6.      Menyerahkan hati kepada Allah Swt secara utuh dan tidak membangkan-Nya
7.      Pasrah. Inilah ruh dan hakikat tawakal
8.      Ridho (buah tawakal).
           D.    Ayat-Ayat Tentang Perintah Tawakal
1.      QS. Ali-Imran [3]:122
إِذْ هَمَّت طَّائِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلَا وَٱللَّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ
“Ketika dua golongan dari pihak kamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong mereka. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.”[9]

2.      QS. 'Ali `Imran [3] : 159
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ  وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ  فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ  فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ  إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”[10]
3.      QS. Ali-Imran [3]:160

إِن يَنصُرْكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِن يَخْذُلْكُمْ فَمَن ذَا ٱلَّذِى يَنصُرُكُم مِّن بَعْدِهِۦ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

 “Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.”[11]
4.      QS. An-Nisa'[4]:1
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَٱتَّقُوا ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَاءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan.Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. “[12]
5.      QS. An-Nisa' [4] : 81
وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِندِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِّنْهُمْ غَيْرَ ٱلَّذِى تَقُولُ وَٱللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ  فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ  وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا
“Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: "(Kewajiban kami hanyalah) taat". Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung.”[13]
6.      QS. An-Naml [27] : 79
فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ  إِنَّكَ عَلَى ٱلْحَقِّ ٱلْمُبِينِ
“Sebab itu bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata”.
7.      QS. Al-Ma'idah[5]:11
يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱذْكُرُوا نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَن يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنكُمْ وَٱتَّقُوا ٱللَّهَ وَعَلَى ٱللَّه فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu, ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerangmu dengan tangannya, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakal.”[14]
8.      QS.Ash-Shu`ara'[26]:217
وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْعَزِيزِ ٱلرَّحِي
“Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha perkasa, Maha Penyayang.”[15]
           E.      Munasabah / Asbabun Nuzul
QS. Ali Imran Ayat:122
Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan perang uhud (Syawal 3 H) Pada perang badar (Ramadhan 2 H) Kaum musyrikin menderita kekalahan total dan banyak pemimpin mereka yang mati sehingga mereka terpaksa kembali ke makkah dalam keadaan yang menyedihkan dan sangat memalukan, tetapi mereka tidak tinggal diam dengan pimpinan Abu Sufyan dan orang-orang terkemuka dikalangan kaum Quraisy, mereka menyiapkan kekuatan yang lebih besar untuk membalas kekalahan mereka pada perang badar. Akhirnya mereka dapat mengumpulkan tiga brigade dan brigade terbesar terdiri dari 3000 orang terbagi atas 700 orang tentara berbaju besi, 200 orang tentara berkuda dan selebihnya tentara biasa dengan persenjataan yang lengkap. Disamping itu mereka membawa pula beberapa orang  perempuan untuk membangkitkan semangat bertempur dikalangan mereka, dipimpin Hindun istri Abu Sufyan sendiri.
Pada mulanya Rasulullah ingin bertahan saja di madinah, tetapi kebanyakan para sahabat berpendapat bahwa sebaliknya kaum muslimin menghadapi serangan kaum musyrikin itu diluar kota Akhirnya Rasulullah menerima pendapat mereka dan keluarlah beliau memimpin 1000 orang tentara untu menghadapi lebih dari 3000 tentara kaum musyrikin yang berkobar-kobar semangatnya.di tengah jalan atas hasutan Abdullah bin Ubay bin Salul, 300 orang tidak ikut berperang dan kembali ke Madinah sehingga mereka yang tinggal hanya 700 orang, di antara 100 orang berbaju besi dan 2 orang berkuda.
Rasulullah memilih tempat dikaki bukit Uhud dan menyiapkan 50 orang pemanah di atas bukit itu serta memerintahkan agar mereka jangan meninnggalkan tempat walau dalam keadaan bagaimanapun. Kewajiban mereka memanah pasukan kuda musuh yang hendak maju menyerang Karena kuda tidak tahan terhadap tusukan panah. Demikianlah tentara yang hanya nerjumlah 700 orang itu Rasulullah ditempatkan pada tempat-tempat yang strategis untuk menghadapi musuh yang jauh lebih besar dengan persenjataan lengkap.[16]
QS. Ali Imran :159
Sebab – sebab turunya ayat ini kepada Nabi Muhammad saw adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Ibnu Abbas ra menjelaskan bahwasanya setelah terjadinya perang Badar, Rasulullah mengadakan musyawarah dengan Abu Bakar  ra dan Umar bin Khaththab ra untuk meminta pendapat mereka tentang para tawanan perang, Abu Bakar ra berpendapat, mereka sebaiknya dikembalikan kepada keluargannya dan keluargannya membayar tebusan. Namun, Umar ra berpendapat mereka sebaiknya dibunuh. Yang diperintah membunuh adalah keluarganya. Rasulullah kesulitan dalam memutuskan. Kemudian turunlah ayat ini sebagai dukungan atas Abu Bakar (HR. Kalabi).
F.      Tafsiran Ayat Al-Qur’an
a.       QS.Ali Imran :122
إِذْ هَمَّت طَّائِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلَا وَٱللَّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُون
Tafsir Al- Misbah
Ayat ini masih lanjutan uraian tentang apa yang diperintahkan oleh ayat sebelumnya untuk direnungkan. Uraian ayat ini masih berkisar pada peristiwa yang terjadi sebelum berkecamuknya perang. Hanya saja, dalam ayat ini mitra bicara ditujukan kepada seluruh kaum muslimin, berbeda dengan ayat yang lalu yang hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. Ini karena penekanan pada ayat ini lebih banyak menunjukkan aktivitas dan niat yang menyertai sebagian pasukan kaum muslim yang akan terlibat dalam peperangan tersebut. Ketika itu, ada dua golongan dari (pasukan) kamu, yaitu Bani Salamah yang merupakan segolongan dari suku Khazraj dan Bani Haritsah dari suku Aus, yang terbesik dalam pikirannya untuk menggagalkan niatnya berperang karena takut mati setelah mengetahui bahwa sepertiga pasukan yang dipimpin oleh petinggi  orang munafik, Abdullah Bin Ubay, telah meninggalkan medan perang, padahal Allah adalah penolong bagi dua golongan itu, karena keduanya terdiri dari orang-orang yang beriman dan apa yang terbetik dalam pikiran mereka itu sangat manusiawi sehingga Allah mentoleransinya. Allah akan menolong siapa saja yang beriman,karena itu hendaklah kepada Allah SWT saja orang-orang mukmin bertwakal, tidak kepada selain-Nya, tidak juga kepada perlengkapan dan personil, apalagi kalau personil itu terdiridari orang-orang munafik.
Penggalan terakhir ayat ini, menurut Al Biqa’I , lebih baik dipahami mengandung pesan sebagai berikut: Allah adalah penolong bagi kudua golongan itu, karena mereka beriman dan berserah diri kepada-Nya, dan bukannya kehendak mundur itu bersumber dari tekad mereka. Mereka bahkan menjadikan Allah sebagai penolong dan berserah diri kepada-Nya, guna mengukuhkan kamu dan menghindarkan kelemahan atasmu, karena itulah hendaklah semua kaum mukminin percaya dan berserah diri kepada-Nya agar mereka semua pun memperoleh pertolongan-Nya.
Agaknya makna inilah-yang merupakan pujian buat mereka- yang menjadikan kedua golongan itu merasa berbahagia dengan turunnya ayat ini, karena dengan tegas ayat ini menyatakan bahwa Allah swt Adalah penolong mereka. Demikian diriwayatkan oleh Imam Bukhori.
Ada juga ulama yang memahami firman-Nya: padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu, merupakan kecaman bagi kedua golongan itu. Mereka dikecam karena bermaksud meninggalkan medan perang, padahal seharusnya mereka tahu persis bahwa Allah akan membantu orang-orang mukmin dan tentu saja membantu mereka juga kalau mereka benar-benar mukmin.[17]
b.      QS.Ali-Imran: 159-160
Kelemah lembutan adalah sifat Allah Swt yang sangat ingin kita tanamkan. Ia merupakan sifat Nabi, sang pemimpin sempurna, yang ingin kita teladani. Jika Nabi tidak memiliki sifat mulia ini,seandainya hatinya tidak lemah lembut, manusia tidak akan berbondong-bondong masuk islam Al-Quran mengisyaratkan bahwa keinginan memiliki sifat-sifat mulia mengakar kuat dalam setiap hati manusia. Ketika orang beriman melihat sifat-sifat ini termanifestasi secara jelas, maka ia akan mencarinya, sesuai dengan tingkat kekuatan atau kelemahan imannya.
     Kemudian Allah mengamanatkan nabi-Nya dengan berfirman “maafkanlah mereka” kita dapat memaafkan kesalahan orang terhadap orang lain, dan kita tidak dapat menebus perbuatan dosa orang lain yang berkaitan dengan hak Allah. Karena kemulyaan fitrahnya kita dapat memaafkan kesalahan orang.
     Disinilah Rasulullah diberi pimpinan, bahwa kalau hati telah bulat, azam telah padat, hendaklah ambil keputusan dan bertawakal kepada Allah. Tidak boleh  ragu, tidak bleh bimbang dan hendaklah menanggung segala resiko. Serta lebih menguatkan hati yang telah berazam itu hendaklah bertawakal kepada Allah. Artinya, bahwa perhitungan kita sebagai manusia sudah cukup dan kita pun percaya, bahwa diatas kekuatan dan ilmu manusia itu ada lagi kekuasaan tertinggi lagi mutlak dari Tuhan.
 QS. Ali ‘Imran ayat 159
Prof Hamka Menjelaskan tentang QS. Ali Imran ini, dalam ayat ini bertemulah pujian yang tinggi dari Allah terhadap Rasul-Nya, karena sikapnya yang lemah lembut, tidak lekas marah kepada ummat-Nya yang tengah dituntun dan dididiknya iman mereka lebih sempurna. Sudah demikian kesalah beberapa orang yang meninggalkan tugasnya, karena laba akan harta itu, namun Rasulullah tidaklah terus marah-marah saja. Melainkan dengan jiwa besar mereka dipimpin.[18] Dalam ayat ini Allah menegaskan, sebagai pujian kepada Rasul, bahwasanya sikap yang lemah lembut itu, ialah karena ke dalam dirinya telah dimasukkan oleh Allah rahmat-Nya. Rasa rahmat, belas kasihan, cinta kasih itu telah ditanamkan Allah ke dalam diri beliau, sehingga rahmat itu pulalah yang mempengaruhi sikap beliau dalam memimpin
Meskipun dalam keadaan genting, seperti terjadinya pelanggaran – pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam perang uhud sehingga menyebabkan kaum muslimin menderita, tetapi Rasulullah tetap bersikap lemah lembut dan tidak marah terhadap pelanggar itu, bahkan memaafkannya, dan memohonkan ampunan dari Allah untuk mereka. Andaikata Nabi Muhammad saw bersikap keras, berhati kasar tentulah mereka akan menjauhkan diri dari beliau.
 QS.Ali Imran Ayat:160
Tafsir Al-Jalalain
(Jika Allah menolong kamu) terhadap musuhmu seperti di perang Badar (maka tak ada orang yang akan mengalahkan kamu, sebaliknya jika Dia membiarkan kamu) tanpa memberikan pertolongan seperti waktu perang Uhud (maka siapakah lagi yang dapat menolongmu setelah itu) artinya setelah kekalahan itu, maksudnya tak ada lagi. (Hanya kepada Allahlah) bukan kepada lain-Nya (orang-orang beriman itu harus bertawakal). Ayat berikut ini diturunkan ketika hilangnya sehelai permadani merah di waktu perang Uhud lalu sebagian orang mengatakan barangkali Nabilah yang mengambilnya (Ali Imran:160).[19]

c.       QS. An-Nisa Ayat:1
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَٱتَّقُوا ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَاءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Surat An  nisa adalah salah satu diantara dua surat Al- Qur’an yang Allah mulai dengan satu seruan dan satu perintah. Allah memulai keduanya dengan menyeru seluruh manusia. Kemudian memerintahkan kepada mereka supaya bertaqwa kepada sang khaliq yang merupakan satu-satunya sumber keutamaan dan tempat menerima nikmat penciptaan, nikamat mendapatkan dan melaksanakan cara hidup yang utama, serta nikmat mendapatkan balasan atas amal-amal baik dan buruk.
Dengan demikian, al-Qur’an memandang seluruh manusia dengan berbagai kebangsaan, bahasa, dan daerah mereka sebagai satu keluarga. Masing-masing mempunyai hak dan kewajiban. Tidak ada kedhaliman, kesemena-menaan, kelas-kelas, dan penindasan diantara mereka. Yang ada hanyalah kecintaan, kasih sayang, keadilan dan persamaan. Ini adalah dasar yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an di dalam ayat-ayatnya. Dengan dasar ini, al-Qur’an menyeru umat manusia agar saling ikhlas antara mereka, saling menolong, saling mengingatkan supaya berbuat kebenaran dan saling mengingatkan supaya berbuat sabar.
Para penganut kebudayaan bebas,untuk beberapa saat hendaknya melucuti diri mereka dari belenggu pengingkaran dan fanatisme,guna memahami hakikat factual yang telah di tetapkan oleh wahyu illahi. Mereka dapat kembali menemukan petunjuk dan memulihkan kesegaran diri mereka dari payahnya kuburasialisme, sukuisme, dan fanatic agama. Semuanya dipersiapkan untuk mengisi rumah pembantaian manusia, tempat mereka menyirami bumi dengan darah-darah kaum kerabat dan saudara-saudara seumat semanusia yang dimuliakan dan dilebihkan oleh Allah atas kebanyakan makhluk-Nya. [20] 
Surat ini menetapkan adanya persamaan antara kaum wanita dengan kaum laki-laki dalam hal-hal yang termasuk dalam kekhusuan umat manusia. Kaum wanita di syariatkan untuk mendapatkan mata pencaharian sebagai mana halnya dengan kaum laki-laki. Keduanya dibimbing kepada pencarian karunia dan kebaikan yang berupa harta, dengan jalan beramal dan tanpa merasa iri hati. Laki-laki tidak diperbolehkan merampas pekerjaan wanita yang telah diciptakan untuknya. Begitupun wanita, tidak diperbolehkan tamak terhadap apa-apa yang berada diluar keahlian kodratinya.[21]
Disamping itu Nabi Muhammad selalu bermusyawarah dengan mereka dalam segala hal, apalagi dalam urusan peperangan. Oleh karena itu kaum muslimin patuh melaksanakan putusan – putusan musyawarah itu karena keputusan itu merupakan keputusan mereka sendiri bersama Nabi. Mereka tetap berjuang dan berjihad dijalan Allah dengan tekad yang bulat tanpa menghiraukan bahaya dan kesulitan yang mereka hadapi. Mereka bertawakal sepenuhnya kepada Allah, karena tidak ada yang dapat membela kaum muslimin selain Allah.

Adapun kandungan dari QS. Ali ‘Imran ayat 159 adalah sebagai berikut:
Pertama: Para ulama berkata, “Allah SWT memerintahkan kepada Nabi-Nya dengan perintah-perintah ini secara berangsur-angsur. Artinya, Allah SWT memerintahkan kepada beliau untuk memaafkan mereka atas kesalahan mereka terhadap beliau. Setelah mereka mendapat maaf, Allah SWT memerintahkan beliau utnuk memintakan ampun atas kesalahan mereka terhadap Allah SWT. Setelah mereka mendapat hal ini, maka mereka pantas untuk diajak bermusyawarah dalam segala perkara”.
Kedua: Ibnu ‘Athiyah berkata, “Musyawarah termasuk salah satu kaidah syariat dan penetapan hokum-hukum. Barangsiapa yang tidak bermusyawarah dengan ulama, maka wajib diberhentikan (jika dia seorang pemimpin). Tidak ada pertentangan tentang hal ini. Allah SWT memuji orang-orang yang beriman karena mereka suka bermusyawarah dengan firman Nya “sedang urusan mereka (diputuskan dengan musyawarat antara mereka”
Ketiga: Firman Allah SWT: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”. Menunjukkan kebolehan ijtihad dalam semua perkara dan menentukan perkiraan bersama yang didasari dengan wahyu. Sebab, Allah  SWT mengizinkan hal ini kepada Rasul-Nya. Para ulama berbeda pendapat tentang makna perintah Allah SWT kepada Nabi-Nya ntuk bermusyawarah dengan para sahabat beliau.
Sekelompok ulama berkata, “Musyawarah yang dimaksudkan adalah dalam hal taktik perang dan ketika berhadapan dengan musuh untuk menenangkan hati mereka, meninggikan derajat mereka dan menumbuhkan rasa cinta kepada agama mereka, sekalipun Allah SWT telah mencukupkan beliau dengan wahyu-Nya dari pendapat mereka”.
Kelompok lain berkata, “ Musyawarah yang dimaksudkan adalah dalam hal yang tidak ada wahyu tentangnya,” pendapat ini diriwayatkan dari Hasan Al Basri dan Dhahak. Mereka berkata, “Allah SWT tidak memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk bermusyawarah karena Dia membutuhkan pendapat mereka, akan tetapi Dia hanya ingin memberitahukan keutamaan yang ada di dalam musyawarah kepada mereka dan agar umat beliau dapat menauladaninya.
Keempat: Tertera dalam tulisan Abu Daud, dari Abu Hurairah ra. Dia berkata. “Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “Orang yang diajak bermusyawarah adalah orang yang dapat dipercaya”. Para ulama berkata, “Kriteria orang yang layak untuk diajak musyawarah dalam masalah hokum adalah memiliki ilmu dan mengamalkan ajaran agama. Dan criteria ini jarang sekali ada kecuali pada orang yang berakal”. Hasan berkata, “Tidaklah sempurna agama seseorang selama akalnya belum sempurna”.
Maka apabila orang yang memenuhi kriteria di atas diajak untuk bermusyawarah dan  dia bersungguh-sungguh dalam memberikan pendapat namun pendapat yang disampaikannya keliru maka tidak ada ganti rugi atasnya. Demikian yang dikatakan oleh Al Khaththabi dan lainnya.
Kelima:keriteriaorang yang diajak bermusyawarah  dalam  masalah  kehidupan di masyarakat adalah memiliki akal, pengalaman dan santun kepada orang yang mengajak bermusyawarah. Sebagian orang berkata, “Bermusyawarahlah dengan orang yang memiliki pengalaman, sebab dia akan memberikan pendapatnya kepadamu berdasarkan pengalaman berharga yang pernah dialaminya dan kamu mendapatnya dengan cara gratis”.
Keenam: Dalam musyawarah pasti ada perbedaan pendapat. Maka, orang yang bermusyawarah harus memperhatikan perbedaan itu dan memperhatikan pendapat yang paling dekat dengan kitabullah dan sunnah, jika memungkinkan. Apabila Allah  SWT telah menunjukkan kepada sesuatu yang Dia kehendaki maka hendaklah orang yang bermusyawarah menguatkan tekad untuk melaksanakannya sambil bertawakal kepada-Nya, sebab inilah akhir ijtihad yang dikehendaki. Dengan ini pula Allah SWT memerintahkan kepada Nabi-Nya dalam ayat ini.
Ketujuh: Firman Allah SWT  “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah”. Qatadah berkata, “Allah SWT memerintahkan kepada Nabi-Nya apabila telah membulatkan tekad atas suatu perkara agar melaksanakannya sambil bertawakal kepada Allah SWT, bukan tawakal kepada musyawarah mereka.
Kedelapan: Firman Allah SWT“Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”. Tawakal artinya berpegang teguh kepada Allah SWT sembari menampakkan kelemahan. Para ulama berbeda pendapat tentang Tawakal. Suatu kelompok sufi berkata, “Tidak akan dapat melakukannya kecuali orang yang hatinya tidak dicampuri oleh takut kepada Allah, baik takut kepada bintang buas atau lainnya dan hingga dia meninggalkan usaha mencari rezeki karena yakin dengan jaminan Allah SWT.

KESIMPULAN

Tawakal adalah meyerahkan urusan kepada yang berkuasa menanganinya dengan kepercayaan yang utuh,maksudnya ialah menyerahkan seluruh perkara kepada Allah, bersandar kepada kekuasaan-Nya dalam mengatur siklus alam semesta,mendahulukan perbuatan-Nya ketimbang perbuatan kita, dan mengutamakan kehendak-Nya di atas kehendak kita.
Adapun Ayat-Ayat yang membahas Tentang Perintah Tawakal yakni QS. Ali-Imran [3]:122,QS. 'Ali `Imran [3] : 159, QS. Ali-Imran [3]:160, QS. An-Nisa'[4]:1, QS. An-Nisa' [4] : 81 , QS. An-Naml [27] : 79 , QS. Al-Ma'idah[5]:11, QS.Ash-Shu`ara'[26]:217. Adapun kandungan surat dari:
Surat Ali Imran: 122
1.      Allah Swt mengingatkan kaum muslimin tentang peristiwa perang uhud agar mereka selalu waspada terhadap kaum Yahudi, menafikin dan musrikin, dan selalu bersifat sabar dan takwa kepada Allah dalam menghadapi masa depan
2.      Pada perang Uhud Nabi Muhammad telah mengatur siasat perang dengan sebaik-baiknya dan menempatkan pasukannya pada tempat yang strategis.
Surat Ali Imran:159-160
1.      Allah memuji akhlaka Nabi Muhammad, dan sifat-sifatnya yangs selalu bersikap lemah-lembut dan tidak bersikap keras terhadap para pengikutnya serta memaafkan dan memintakan ampun bagi mereka atas kesalahan-kesalahan mereka
2.      Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar bermusyawarah dalam segala urusan, didalam melaksanakan hasil musyawarah, agar bertawakal kepada Allah
3.      Apabila seseorang akan memperoleh pertolongan Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi.begitu pula sebaliknya, siapa yang mendapat kemurkaan Allah tidak seorangpun dapat membelanya.
Surat An-Nisa:1
1.      Manusia wajib bertakwa kepada Allah dan wajib memelihara hubungan silaturrohim
2.      Manusia pertama yang dijadikan Allah adalah Adam
3.      Asal keturunan manusia adalah dari Adam dan Hawa

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hafidz,  Ahsin W. Kamus Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: AMZAH. 2006.
Fathullah, Ahmad Lutfi. Al-Qur’an Al-Hadi. Jakarta: Pusat Kajian Hadis. 2008.
Gulen, Muhammad Fethullah. Tasawuf Untuk Kita Semua : Menepaki Bukit-Bukit Zamrut Kalbu Melalui Istilah-Istilah Dalam Sufisme. Jakarta:Republika Penerbit,2014.
Hamka. Tafsir Al-Azhar Juzu III.Jakarta:PT.Citra Serumpun Padi,1983.
Hs, Fachruddin. Ensklopedia Al-Qur-An Buku 2. Jakarta:PT RINEKA CIPTA, 1992.
Ihyaulumuddin IV.
Islam,Khasanah. Klasik, Terapi Tawakal Oleh 10 Ulama Klasik Psikologi. Ahsan Books,2011.
Shihab,Quraish. Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al-Qur’an Vol.2. Penerbit Lentera Hati, 2000.
Solihin.  Tasawuf  Tematik: Membedah Tema-Tema Penting Tasawuf . Bandung: PUSTAKA SETIA,. 2003.
Syaltut,Mahmud. Tafsir Al-Qur’an Karim Pendekatan Syaltut Dalam Menggali Esensi Al-Quran 2.  Bandung: CV.DIPONEGORO,1990.



[1] Ahsin W. Al-Hafidz, Kamus Ilmu Al-Qur’an (Jakarta: AMZAH,2006)Hlm. 293-294
[2] Ahsin W. Al-Hafidz, Kamus Ilmu.,294
[3] Khasanah Islam, Klasik, Terapi Tawakal Oleh 10 Ulama Klasik Psikologi (Ahsan Books,2011), 15.
[4] Muhammad Fethullah Gulen, Tasawuf Untuk Kita Semua : Menepaki Bukit-Bukit Zamrut Kalbu Melalui Istilah-Istilah Dalam Sufisme (Jakarta:Republika Penerbit,2014), 135.
[5] Fachruddin Hs, Ensklopedia Al-Qur-An Buku 2(Jakarta:PT RINEKA CIPTA, 1992), 478
[6] Ihyaulumuddi IV.258-259
[7] Solihin, Tasawuf Tematik: Membedah Tema-Tema Penting Tasawuf  (Bandung: PUSTAKA SETIA, 2003)Hlm. 22
[8] Khasanah Islam, Klasik, Terapi Tawakat.,21.
[9] Ahmad Lutfi Fathullah, Al-Qur’an Al-Hadi (Jakarta: Pusat Kajian Hadis, 2008)
[10] Ahmad Lutfi Fathullah, Al-Qur’an Al-Hadi.,
[11] Ibid
[12] Ibid
[13] Ibid
[14] Ibid
[15] Ibid
[16] Al-Qur’an Dan Tafsirnya Jilid II (Jakarta: Penerbit Lentera Abadi, 2010), 34-35
[17] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al-Qur’an Vol.2 (Penerbit Lentera Hati, 2000), 190-191
[18] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juzu III (Jakarta:PT. Citra Serumpun Padi,1983), 129.
[19] Fathullah, Ahmad Lutfi. Al-Qur’an Al-Hadi

[20] Mahmud Syaltut, Tafsir Al-Qur’an Karim Pendekatan Syaltut Dalam Menggali Esensi Al-Quran 2 ( Bandung: CV.DIPONEGORO,1990).332
[21] Mahmud Syaltut, Tafsir Al-Qur’an Karim., 335.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar