Pages - Menu

Menu

Minggu, 06 Desember 2015

Kerajaan Mughol


 PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kemunculan tiga kerajaan Islam yaitu Kerajaan Turki Ustmani, Kerajaan Safawi di Persia dan Kerajaan Mughal di India telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan peradaban islam. Kerajaan Usmani meraih puncak kejayaan dibawah kepemimpinan Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M) di kerajaan safawi, Syah Abbas I membawa kerajaan tersebut meraih kemajuan dalam 40 tahun periode kepemerintahannya dari tahun 1588-1628 M. Dan di Kerajaan Mughal meraih masa keemasan di bawah Sultan Akbar (1542-1605 M).
Seperti takdir yang telah Allah tentukan di setiap kejayaan tentu akan berganti dengan kemunduran bahkan sebuah kehancuran. Demikian pula yang terjadi pada ketiga kerajaan tersebut. Setelah pemerintahan yang gilang gemilang dibawah kepemimpinan tiga raja itu, masing-masing kerajaan mengalami fase kemunduran. Akan tetapi penyebab kemunduran tersebut berlangsung dengan kecepatan yang berbeda-beda. Demikian pula yang terjadi pada Kerajaan Mughal (India) yang telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan peradaban Islam. Selain itu juga ada masa kemajuan yang terjadi di setiap kerajaan tersebut, yang dari masing-masing kerajaan berbeda-beda dalam kemajuannya.

1.2.Rumusan Masalah

1.      Bagaimana Asal Usul Kerajaan Mughol?
2.      Seperti apa pemerintahan kerajaan Mughal?
3.      Bagaimana Sistem politik dan militer kerajaan Mughol?
4.      Kemajuan yang Dicapai Kerajaan Mughol?
5.      Kemunduran Dan Kehancurannya Kerajaan Mughol?
PEMBAHASAN
2.1. Asal-usul Kerajaan Mughal
Kerajaan Mughal merupakan kelanjutan dari kesultanan Delhi.[1] Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di India. Jika pada dinasti-dinasti sebelumnya Islam belum menemukan kejayaannya, maka kerajaan ini justru bersinar dan berjaya. Keberadaan kerajaan ini dalam periodisasi sejarah Islam dikenal sebagai masa kejayaan kedua setelah sebelumnya mengalami kecemerlangan pada dinasti Abbasiyah.
Kerajaan Mughal didirikan oleh Zahiruddin Babur salah satu dari cucu Timor Lenk.[2] Ayahnya Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia berambisi dan bertekat akan menaklukkan Samarkand yang menjadi kota penting di Asia Tengan pada masa itu. Pada mulanya, ia mengalami kekalahan, tetapi karena mendapat bantuan dari Raja Safawi, Ismail I akhirnya berhasil menaklukkan Samarkand pada tahun 1494 M.
Pada tahun 1504 M, ia menduduki Kabul, ibu kota Afganistan. Setelah Kabul dapat ditaklukkan, Babur meneruskan ekspansinya ke India. Kala itu Ibrahim Lodi, penguasa India, dilanda krisis sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Alam Khan, paman dari Ibrahim Lodi, bersama-sama Daulat Khan, Gubernur Lahore, mengirim utusan ke Kabul. Meminta bantuan Babur untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahim Lodi di Delhi. Dan permohonan itu langsung diterimanya. Pada tahun 1525 M, Babur berhasil menguasai Punjab dengan ibu kota Lahore. Setelah itu, ia memimpin tentaranya menuju Delhi. Pada tanggal 2 April 1526 M, terjadilah pertempuran yang Dahsyat di Panipat. Ibrahim Lodi beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu. Babur menjadi pemenang dan menegakkan pemerintahannya disana. Dengan demikian berdirilah kerajaan Mughal di India.
Setelah kerajaan Mughol berdiri, raja-raja Hindu diseluruh India menyusun angkatan perang yang besar untuk menyerang Babur. Namun, pasukan Hindu dapat dikalahkan Babur. Pada tahun 1530 M, Babur meninggal dunia dalam usia 48 tahun setelah memerintah selama 30 tahun. Dan pemerintahan selanjutnya dipegang oleh anaknya Humayyun.
2.2.Pemerintahan Kerajaan Mughal
a.      Pemerintahan Babur
Zahiruddin Babur adalah raja pertama sekaligus pendiri kerajaan Mughal.[3] Masa kepemimpinannya digunakan untuk membangun fondasi pemerintahan. Awal kepemimpinannya, Zabur masih menghadapi ancaman pihak-pihak musuh, utamanya dari kalangan Hindu yang tidak menyukai berdirinya kerajaan Mughal. Orang-orang Hindu ini segera menyusun kekuatan gabungan, namun Babur berhasil mengalahkan mereka dalam suatu pertempuran. Sementara itu dinasti Lodi berusaha bangkit kembali menentang pemerintahan Babur dengan pimpinan Muhammad Lodi. Pada pertempuran di dekat Gogra, Babur dapat menumpas kekuatan Lodi pada tahun 1529. Setahun kemudian yakni pada tahun 1530 Babur meninggal dunia.
b.      Pemerintahan Humayun
Periode pemerintahannya banyak diwarnai kerusuhan dan berbagai pemberontakan. Pada tahun 1539 M, Sher Khan Suri menginvasi pemerintahan Humayun di Delhi. Pasukan Humayun hancur dan negara dalam kondisi tak menentu sedangkan Humayun berhasil meloloskan diri dan diterima baik oleh Sultan Syafawi. Shah Tahmasph yang kemudian membantu memberinya pasukan militer sebanyak 12.000 dan kemudian terkumpul menjadi 14.000 orang. Humayun mencoba kembali merebut kekuasaannya di Delhi. Pada tahun 1555 M ia menyerbu Delhi yang saat itu diperintah Sikandar Sur. Akhirnya ia bisa memasuki kota ini dan ia bisa memerintah kembali sampai tahun 1556 M. Pada tahun 1556 M, ia meninggal dunia dan digantikan oleh putranya yang bernama Jalaludin Muhammad Akbar.
c.       Pemerintahan Akbar
Akbar adalah raja Mughal paling kontroversial. Masa pemerintahannya dikenal sebagai masa kebangkitan dan kejayaan Mughal sebagai sebuah dinasti Islam yang besar di India.
Ketika menerima tahta kerajaan ini Akbar baru berusia 14 tahun, sehingga seluruh urusan pemerintahan dipercayakan kepada Bairam Khan, seorang penganut Syi’ah. Diawal masa pemerintahannya, Akbar menghadapi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher Khan Shah yang masih berkuasa di Punjab. Pemberontakan yang paling mengancam kekuasaan Akbar adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra. Pasukan pemberontak berusaha memasuki kota Delhi. Bairam Khan menyambut kedatangan pasukan tersebut sehingga terjadilah peperangan dahsyat yang disebut Panipat II pada tahun 1556 M. Himu dapat dikalahkan dan ditangkap, kemudian dieksekusi. Dengan demikian, Agra dan Gwalior dapat dikuasai penuh.
Setelah Akbar dewasa ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh sangat kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran Syi’ah. Bairam Khan memberontak, tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 M.[4] Setelah persoalan-persoalan dalam negeri dapat diatasi, Akbar mulai menyusun program ekspansi. Ia berhasil menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orisca, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. Wilayah yang sangat luas itu diperintah dalam suatu pemerintahan militeristik.
Keberhasilan ekspansi militer Akbar menandai berdirinya Mughal sebagai sebuah kerajaan besar. Dua gerbang India yakni kota Kabul[5] sebagai gerbang kearah Turkistan, dan kota Kandahar sebagai gerbang ke arah Persia, dikuasai oleh pemerintahan Mughal. Menurut Abu Su’ud, dengan keberhasilan ini Akbar bermaksud ingin mendirikan negara bangsa (nasional). Maka kebijakan yang dijalankannya tidak begitu menonjolkan spirit Islam, tetapi bagaimana mempersatukan berbagai etnis yang membangun dinastinya. Keberhasilan Akbar mengawali masa kemajuan Mughal di India.
d.      Pemerintahan Jahangir
Pemerintahan Jahangir adalah masa-masa stabil. Ia memerintah didasarkan pada pandangan yang pragmatis dalam melihat sebuah fungsi kepemimpinan. Menurutnya kedaulatan raja adalah pemberian Tuhan. Dengan demikian, tidak begitu menjalankan hukum Tuhan (syari’ah). Yang diperlukan adalah bagaimana memelihara kelestarian kehidupan duniawi ini, dan Tuhan memilih seorang pemimpin itu.
Ia menerapkan hukum islam hanya sebatas pada lembaga pengadilan saja seperti pada masa ayahnya (Akbar). Dalam kasus umum, hukum islam hanya berlaku bagi umat islam, sedangkan hukum kriminal berlaku bagi seluruhnya. Jahangir adalah sultan yang toleran dan sekuler serta punya kebijakan-kebijakan politik yang liberal, seperti yang diteladani dari ayahnya.
e.       Pemerintahan Syeh Jehan
Bibit-bibit disintegrasi mulai tumbuh pada pemerintahan Syeh Jehan. Hal ini sekaligus menjadi ujian terhadap politik toleransi Mughal. Dalam masa pemerintahannya, Raja Jujhar Singh Bundela berupaya memberontak dan mengacu keamanan, namun berhasil dipadamkan. Raja Jujhar Singh Bundela kemudian diusir. Pemberontakan yang paling hebat datang dari Afghan Pir Lodi atau Khan Jahan, seorang gubernur dari provinsi bagian selatan. Pemberontakan ini cukup menyulitkan. Namun pada tahun 1631, pemberontakan inipun dipatahkan dan Khan Jahan dihukum mati.
Pada masa ini para pemukim Portugis di Hughli Bengala mulai berulah. Disamping mengganggu keamanan dan toleransi hidup beragama, mereka menculik anak-anak untuk dibaptis masuk agama kristen. Tahun 1632, Shah Jehan berhasil mengusir para pemukim Portugis dan mencabut hak-hak istimewa mereka. Shah Jehan meninggal dunia pada 1657, setelah menderita sakit keras. Setelah kematiannya, terjadi perang saudara. Perang saudara tersebut pada akhirnya menghantar Aurangzeb sebagai pemegang Dinasti Mughal berikutnya.
f.        Pemerintahan Aurangzeb
Aurangzeb menghadapi tugas yang berat. Kedaulatan Mughal sebagai entitas muslim India nyaris hancur akibat perang saudara. Maka pada masa pemerintahannya dikenal sebagai masa pengembalian kedaulatan umat Islam. Periode ini merupakan masa konsolidasi II kerajaan Mughal sebagai sebuah kerajaan dan sebagai negeri Islam. Aurangzeb berusaha mengembalikan supremasi agama Islam yang mulai kabur akibat kebijakan politik keagamaan Akbar.[6]
Raja-raja pengganti Aurangzeb merupakan penguasa yang lemah sehingga tidak mampu mengatasi kemerosotan politik dalam negeri. Raja-raja sesudah Aurangzeb mengawali kemunduran dan kehancuran kerajaan Mughal.
Bahadur Syah mengganti kedudukan Aurangzeb. Lima tahun kemudian terjadi perebutan antara putra-putra Bahadur Syah. Jehandar dimenangkan dalam persaingan tersebut dan sekaligus dinobatkan sebagai raja Mughal oleh Jenderal Zulfiqar Khan meskipun Jehandar adalah yang paling lemah di antara putra Bahadur. Penobatan ini tentang oleh Muhammad Fahrukhsiyar, keponakannya sendiri. Dalam pertempuran yang terjadi pada tahun 1713, Fahrukhsiyar keluar sebagai pemenang. Ia menduduki tahta kerajaan sampai pada tahun 1719 M. Sang raja meninggal terbunuh oleh komplotan Sayyid Husein Ali dan Sayyid Hasan Ali. Keduanya kemudian mengangkat Muhammad Syah. Ia kemudian dipecat dan diusir oleh suku Asyfar di bawah pimpinan Nadzir Syah. Tampilnya sejumlah penguasa lemah bersamaan dengan terjadinya perebutan kekuasaan ini selai memperlemah kerajaan juga membuat pemerintahan pusat tidak terurus secara baik. Akibatnya pemerintahan daerah berupaya untuk melepaskan loyalitas dan integritasnya terhadap pemerintahan pusat.
2.3.Sistem Kerajaan Mughol Dalam Bidang Politik Dan Militer
Sistem yang menonjol adalah politik sulh e-kul atau toleransi universal. Sistem tersebut sangat tepat karena mayoritas masyarakat India adalah Hindu, sedangkan Mughal adalah sistem Islam. Di sisi lain terdapat juga rasa atau etnis lain yang juga terdapat di India. Lembaga yang merupakan produk dari system ini adalah Din-i-Ilahi dan Mansabdhari.
Di bidang militer, pasukan Mughol dikenal sebagai pasukan yang kuat. Mereka terdiri dari pasukan gajah, berkuda dan meriam. Wilayahnya dibagi dalam system distrik-distrik. Setiap distrik dikepalai oleh sipah salar dan sub distrik dikepalai oleh Faujdar. dengan system inilah pasukan Mughal berhasil menaklukkan daerah-daerah disekitarnya.
2.4.  Kemajuan yang Dicapai Kerajaan Mughal
Bidang Politik dan Administrasi Pemerintah
a.       Perluasan wilayah dan konsolidasi kekuatan. Usaha ini berlangsung hingga masa pemerintahan aurangzeb.
b.      Menjalankan roda pemerintahan secara militeristik.
c.       Pemerintahan daerah dipegang oleh seorang Sipah Salar (kepala komandan), sedang sub-distrik dipegang oleh Faujdar (komandar). Jabatan-jabatan sipil juga diberi jenjang kepangkatan yang bereorak kemiliteran.
d.      Akbar menerapkan politik toleransi universal (sulakhul). Dengan politik ini, semua rakyat India dipandang sama. Mereka tidak dibedakan karena perbedaan etnis dan agama. Politik ini dinilai sebagai model toleransi yang pernah dipraktekan oleh penguasa islam.
e.       Para pejabat dipindahkan dari sebuah jagir kepada jagir lainnya untuk menghindarkan mereka mencapai interes yang besar dalam sebuah wilayah tertentu. Jagir adalah sebidang tanah yang diperuntukan bagi pejabat yang sedang berkuasa. Dengan demikian tanah yang diperuntukan tersebut jarang sekali menjadi hak milik pejabat, kecuali hanya hak pakai.
2.5.Kemunduran Dan Kehancurannya
Banyak faktor penyebab kemunduran dan kehancurannya, antara lain:
  1. Perebutan kekuasaan antara keluarga. Hampir semua keturunan Babur umumnya memiliki watak yang keras dan ambisius sebagai keturunan Ttimur Lenk yang juga wataknya demikian.
  2. Pemberontakan oleh umat hindu. Umat hindu yang mayoritas dan umat Islam yang minoritas tapi memegang otoritas kekuasaan. Hal ini menimbulkan ketidaksenangan sebagian garis keras orang-orang hindu kepada pemerintahan Islam. Pemberontakan-pemberontakan dari pihak hindu beberapa kali terjadi seperti yang dipimpin oleh Hemu di Delhi dan Agra masa Akbar I, pemberontakan yang dipimpin oleh guru Tegh Bahadur di masa Aurangzeb, Pemberontakan di Panipat yang dipimpin oleh Rraja Udaipur, dll.
  3. Serangan dari kerajaan atau kekuatan luar. Serangan pihak luar semula dilakukan oleh Raja Safawi di Persia, kemudian dari Afghanistan. Pangkal perselisihan antara Mughal dan Safawi karena rebutan daerah Kandahar.
  4. Kelemahan Ekonomi. Kemunduran politik Mughal sangat menguntungkan bangsa-bangsa Barat untuk menguasai jalur perdagangan. Akhirnya terjadilah persaingan dagang di pantai selatan India antara Inggris, Portugis, Belanda dan Perancis, yang dimenangkan Inggris. Selanjutnya Inggris melalui Persyarikatan Dagang India Timur atau The East India Company (EIC) menguasai perdagangan India.
  5. Intervensi Politik dan Militer dari kekuatan imperialis Barat. Konflik laten antara kekuasaan Islam dengan umat hindu dimanfaatkan oleh Barat dengan melakukan politik devide et impera.
  6. Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal.
  7. Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antaragama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya
  8. Semua pewaris tahta kerajaan pada paro terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.
KESIMPULAN
Zahiruddin Babur adalah raja pertama sekaligus pendiri kerajaan Mughal. Akbar adalah raja Mughal paling kontroversial. Masa pemerintahannya dikenal sebagai masa kebangkitan dan kejayaan Mughal sebagai sebuah dinasti Islam yang besar di India.
Raja-raja pengganti Aurangzeb merupakan penguasa yang lemah sehingga tidak mampu mengatasi kemerosotan politik dalam negeri. Raja-raja sesudah Aurangzeb mengawali kemunduran dan kehancuran kerajaan Mughal.
Islam telah mewariskan dan memberi pengayaan terhadap khazanah kebudayaan India. Sepertinya tepat yang ditulis oleh Roger Garaudy bahwa “Islam telah membawakan kepada manusia suatu dimensi transenden (ketuhanan) dan dimensi masyarakat (umat) .
Dengan hadirnya Kerajaan Mughal, maka kejayaan India dengan peradaban Hindunya yang nyaris tenggelam, kembali muncul.Kemajuan yang dicapai Kerajaan Mughal telah memberi inspirasi bagi perkembangan peradaban dunia baik politik, ekonomi, budaya dan sebagainya. Misalnya, politik toleransi (sulakhul), system pengelolaan pajak, seni arsitektur dan sebagainya.
Kerajaan Mughal telah berhasil membentuk sebuah kosmopolitan Islam-India daripada membentuk sebuah kultur Muslim secara eksklusif.Kemunduran suatu peradaban tidak lepas dari lemahnya kontrol dari elit penguasa, dukungan rakyat dan kuatnya sistem keamanan. Karena itu masuknya kekuatan asing dengan bentuk apapun perlu diwaspadai.
DAFTAR PUSTAKA
M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007
Tarikh, Ali K. Sejarah Islam Pra Modern. Jakarta : Srigunting, 2000
Thohir, Ajid. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada,1993






[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada,1993), hal.147
[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban ., hal.211
[3] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), hlm. 314
[5] Ali K. Tarikh, Sejarah Islam Pra Modern, (Jakarta : Srigunting, 2000), hlm. 354.
[6] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, hlm. 203

Tidak ada komentar:

Posting Komentar