Pages - Menu

Menu

Rabu, 09 Desember 2015

Tasawuf Abdul Karim al-Jilli



PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Seorang filsuf dan negarawan terkenal asal Irlandia, Edmund Burke, pernah berkata, “seseorang tidak dapat melihat masa depan anak keturunannya tanpa melihat latar belakang nenek moyang mereka.” Sementara seorang Novelis kenamaan asal Inggris, Aldous Huxley, menulis, “Orang-orang tidak banyak mempelajari sejarah, padahal yang diajarkan sejarah merupakan hal terpenting dari semua pelajaran,”[1]
Mengetahui biografi seorang tokoh merupakan suatu cara untuk dapat mengenal dan memahami tokoh. Seperti halnya seorang tokoh sufi, Mengetahui perjalanan hidup mereka merupakan satu cara untuk bisa mengikuti langkah mereka dalam menapaki tahap tasawuf. Karena dari biografi mereka kita akan tahu awal mula mereka belajar ilmu tersebut.
Salah satu tokoh sufi yang terkenal ialah Abdul Karim al-Jilli, beliau merupakan salah satu tokoh sufi yang terkenal dengan ajaran Insan Al-Kamil. Penulis berharap dengan adanya makalah ini dapat membantu memahami biografi serta ajaran-ajarannya dari tokoh sufi Abdul Karim al-Jilli.
1.2.Rumusan Masalah
  1. Bagaimana Riwayat Hidup Abdul Karim al-Jilli?
  2. Bagaimana Ajaran-ajaran  Tasawuf Abdul Karim al-Jilli ?
  3. Bagaimana Cara Pendekatan Kaum Sufi Pada Tuhan ?

PEMBAHASAN
2.1.Riwayat Hidup
Nama lengkapnya adalah Abdul Karim bin Ibrahim Al-Jili. Ia lahir pada tahun 1363 M di Jilan (Gilan), sebuah provinsi di sebelah selatan Kasfia dan wafat pada tahun 1417 M.  Nama Al-Jili diambil dari tempat kelahirannya di Gilan. Ia adalah seorang sufi terkenal dari Baghdad. Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui oleh para ahli sejarah, tetapi sebuah sumber mengatakan bahwa ia pernah melakukan perjalanan ke india tahun 1387 M. kemudian belajar tasawuf dibawah bimbingan Abdul Qadir Al-Jailani, seorang pendiri dan pemimpin tarekat Qadiriyah yang sangat terkenal. Di samping itu, berguru pula pada Syekh Syarafuddin Isma’il bin Ibrahim Al-Jabarti di Zabid (Yaman) pada tahun 1393-1403 M.[2]
Ia mendapatkan gelar kehormatan ”syaikh” yang biasa dipakai di awal namanya. Selain itu, ia juga mendapat gelar ”Quthb al-Din” (kutub/poros agama), suatu gelar tertinggi dalam hirarki sufi. Namanya dinisbatkan dengan Al-jili karena ia berasal dari Jilan. Akan tetapi, Goldziher mengatakan, penisbatan itu bukan pada Jilan, tetapi pada nama sebuah desa dalam distrik Bagdad ”jil’.
Dalam tulis menulis, Al-Jilli termasuk seorang sufi yang kreatif. Karangannya yang mengenai tasawuf tidak kurang dari dua puluh buah. Namun, karyanya yang sangat terkenal adalah kitab Al-Insan Al-Kamil fi Ma’rifat Al-Awakhir Wa Al-Awail yang terdiri atas dua juz dan berisi 63 bab. Buku Al-Insan Al-Kamil fi Ma’rifat Al-Awakhir tersebut pernah menggemparkan ulama-ulama sunni dan ulama fiqih pada masa itu, meskipun isinya hanya menjelaskan buah pikiran ibn,Arabi dan Jalal Al-Din Ar-Rumi. Oleh karena itu,Al-Jilli terkenal sebagai penerus dan pembela ajaran Ibn Arabi dan Jalal Ad-Din Ar-Rumi, meskipun dalam beberapa persoalan mereka berbeda pendapat.
Apabila Ibn Arabi mendapat pengaruh dari pendahulunya, baik dalam pemikiran maupun dalam falsafatnya,maka ia juga telah memberi pengaruh besar kepada sufi generasi berikutnya, antara lain Abd Al-Karim Al-Jilli, terutama mengenai konsep Insan Kamil.
Dengan menerima gagasan tentang wahdat al-wujud,Al-Jilli berusaha melacak asal-usul wujud sejati yang disebut ahadiyah, huwiyah, dan aniyah.
Manusia pada hakikatnya adalah pemikir kosmis yang mempertalikan wujud mutlak dengan alam materi. Sebaliknya, melalui tiga tahapan yang sesuai dengan penerapan mistik,seorang sufi dapat berharap dapat menelusuri asal-usul, sehingga akhirnya dengan menjadi Insan Kamil yang bersih dari segala sifat dan nama (atribut) kembali kepada yang mutlak dari yang mutlak.[3] 
Ajaran Al-Jilli secara garis besar meliputi pengertian tentang Zat Mutlak, masalah Roh, tentang Nur Muhammad, dan Insan Kamil.
2.2.Ajaran Tasawuf Al-Jilli
1.      Zat Mutlak
Zat mutlak, menurut Al-Jilli , adalah sesuatu yang dihubungkan kepadanya nama dan sifat zatiyah dan bukan pada wujudnya. Dalam arti bahwa setiap nama atau sifat yang dihungkan kepada sesuatu, maka sesuatu itu disebut dzat, baik wujud maupun tidak wujud dzat Allah itu gaib dengan sendirinya tidak dapat dicapai atau dijangkau dengan isyarat apapun. Dengan demikian, untuk mencapai dzat yang tertinggi harus ditempuh melalui jalan kyasaf ilahi. Tanpa mengetahu kyadat tersebut , maka pendekatan terhadat dat ilahi ttidak mungkin dapat dicapai karena dzat tersebut berada diluar jangkauan pengetahuan biasa dan panca indera. Kyasaf tersebut, menurut Al-Jilli, dapat ditempuh melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
a.       Fana dari dirinya sendiri untuk mencapai kehadirat Tuhan
b.      Fana dari Tuhan untuk mencapai rahasia-rahasia rububiyah
c.       Fana dari ketergantungan dari sifat Tuhan untuk berhubungan dengan dat Tuhan.
2.      Roh
Ajaran Al-Jilli yang lainnya adalah Roh. Menurutnya, roh adalah malaikat yang diciptakan Tuhan dari cahaya-Nya, kemudian dari malaikat ini Tuhan menciptakan Alam. Malaikat merupakan makhluk yang terdekat disisi Allah. Oleh karena itu , ia diberi tempat di alam ufuq, alam jabarut, dan alam malakut.
Sedangkan ruh Al-Qudus merupakan wajah yang khas dari wajah Tuhan yang dengan wajah itu terciptalah yang wujud dialam ini. Ruh Al-Qudus berarti roh yang suci dari semua yang maujud.roh itu disebut juga dengan wajah ilahi yang ada dalam semua makhluk.
3.      Nur Muhammad
Nur Muhammad Al-Jilli, adalah sebagai gambaran (shuroh) Allah yang bersifat Azali yang muncul dalam semua bentuk (shuroh) para nabi, dari Adam sampai Isa, akhirnya muncul penampakan diri dalam bentuk Nabi Muhammad itu sendiri.
Penampakan Nur Muhammad tidak terhenti hingga Muhammad wafat. Tetapi tetap masih berlanjut kedalam diri para wali.hal ini yang menimbulkan eratnya hubungan serta rasa cinta antara para sufi dengan Muhammad hingga membawa kepada leburnya (fana) antara yang emmncintai dengan yang dicintai. Bagi kalangan sufi tertentu, masalah ini diekspresiakan dengan teori fana fi al rasul . kaum mistik tersebut tidak langsung menuju Tuhan, tetapi terlebih dahulu fana fi al-rasul dan selanjutnya fana fi Allah.[4]
Nur Muhammad merupakan ciptaan Allah yang pertama dan darinya bersumber segala sesuatu. Dengan adanya Nur Muhammad tersebut, Tuhan tidak lagi langsung mengatur dunia. Nur Muhammad  sebagai daya kosmik yang mengatur segala yang ada didunia ini.
4.      Insan Kamil
Insan kamil berasal dari bahasa Arab, yaitu dari dua kata insan dan kamil.[5]Secara umum,istilah “insan kamil” sering dinamakan orang sebagai manusia sempurna.pengertian insan kamil menurutAl- Jilli dirumuskan sebagai berikut:
“insan kamil pertama sejak adanya wujud hingga akhir lamanya, yang mengkristal pada setiap zaman”
“Dan insan kamil adalah Nabi Muhammad”
“Maka insan kamil merupakan asalnya wujud, atau menjadi poros yang kemudian berkembang atasnya roh wujud dari awal hingga akhirnya.[6]
Menurut Al-Jilli, insan kamil adalah nuskhah atau copy Tuhan, seperti disebutkan dalam hadits:
خلق الله ادم على صورةالرحمن
“Allah Menciptakan Adam dalam bentuk yang Maha Rahman”
خلق الله ادم على صورته
“Allah menciptakan adam dalam bentuk-Nya”
Sebagai mana diketahui, Tuhan memiliki sifat-sifat seperti hidup,pandai,mampu berkehendak,mendengar,dan sebagainya. Manusia (Adam) pun memiliki sifat-sifat seperti itu. Proses yang terjadi setelah ini adalah setelah Tuhan menciptakan substansi, Huwiyah Tuhan dihadapkan dengan huwiyah Adam, aniyah-Nya disandingkan dengan aniyah Adam, dan akhirnya Adam berhadapan dengan Tuhan dalam segala hakikat-Nya. Melalui konsep ini, bahwa Adam dilihat dari sisi penciptaannya merupakan salah seorang insan kamil dengan segala kesempurnaannya. Sebab, pada dirinya terdapat sifat dan nama Ilahiah.[7]
Al-Jilli berpendapat bahwa nama-nama dan sifat-sifat ilahiah itu pada dasarnya merupakan milik insan kamil sebagai suatu kemestian yang inheren dengan esensinya. Sebab, sifat-sifat dan nama-nama tersebut tidak memiliki tempat berwujud, melainkan kepada insan kamil.
Al-Jilli mengemukakan bahwa perumpamaan hubungan Tuhan dengan insan kamil adalah bagaikan cermin dimana seseorang tidak akan dapat melihat bentuk dirinya,kecuali melalui cermin itu.
Demikian pula halnya dengan insan kamil, ia tidak dapat melihat dirinya, kecuali dengan cermin Tuhan, sebagaimana Tuhan tidak dapat melihat diri-Nya, kecuali melalui insan kamil.
إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا ﴿٧٢
Artinya: Al-Jilli berkata bahwa duplikasi Al-kamal (kesempurnaan) adalah sama dengan semua yang dimiliki oleh manusia, bagaikan cermin yang saling berhadapan. Ketidak sempurnaan manusia disebabkan oleh hal-hal yang bersifat ardhi, termasuk ketika manusia berada dalam kandungan ibunya(Al-Ahzab(33):72)
Lebih lanjut, Al-Jili berkata bahwa duplikasi Al-Kamal (kesempurnaan) dimiliki manusia, bagaikan cermin yang saling berhadapan. Ketidaksempurnaan manusia disebabkan oleh hal-hal yang bersifat Ardhi, termasuk bayi yang berada dalam kandungan ibunya. Al-Kamal dalam konsep Al-Jili mungkin dimilki oleh manusia secara profesioanal dan mungkin pula secara actual seperti yang terdapat dalam wali-wali dan nabi-nabi meskipun dalam intensitas yang berbeda. Intensitas Al-Kamal yang paling tinggi terdapat dalam diri Nabi Muhammad SAW sehingga manusia yang lain, baik nabi-nabi ataupun wali-wali, bila dibandingkan dengan Muhammad bagaikan al-kamil (yang sempurna) dengan al-akmal (yang paling sempurna).
Insan Kamil  menurut konsepAl-Jilli ialah perencanaan dzat Allah (Nuktah Al-Haqq) melalui proses empat tajalli seperti tersebutdi atas sekaligus sebagai proses maujudat yang terhimpun dalam diri Muhammad SAW.
Menurut Arberry, konsep insan kamil Al-Jilli dekat dengan konsep hulul Al-Hallaj dan konsep ittihad  Ibn Arabi, yaitu integrasi sifat lahut dan Nasut dalam suatu pribadi sebagai pancaran dari Nur Muhammad. Adapun Ibn Arabi mentransfer konsep Hulul Al-Hallaj dalam paham ittihad  ketika menggambarkan insan kamil sebagai wali- wali Allah, yaitu diliputi oleh Nur Muhammad.[8]
Dengan demikian, dari sudut pandang manusia, Tuhan merupakan cermin bagi manusia untuk melihat dirinya. Ia tidak mungkin melihat dirinya tanpa cermin itu sebaliknya, karena Tuhan mengharuskan diri-Nya agar sifat-sifat dan nama-Nya tidak terlihat, Tuhan menciptakan Insan Kamil sebagai cermin bagi diri-Nya. Dari sini, tampak bahwa ada hubungan antara Tuhan dan Insan Kamil.
Insan Kamil  bagi Al-Jilli merupakan proses tempat beredarnya segala yang wujud (aflak al wujud) dari awal sampai akhir. Di samping itu, Insan Kamil  dapat muncul dan menampakkan dirinya dalam berbagai macam. Ia diberi nama dengan nama yang tidak diberikan kepada orang lain, nama aslinya adalah Muhammad, nama kehormatannya Abu Al-Qosim, dan gelarnya syamsu Ad-Din.
Dari uraian di atas, Al-Jilli menunjukan penghargaan dan penghormatan yang tinggi kepada Nabi Muhammad sebagai Insan Kamil yang paling sempurna. Sebab meskipun beliau telah wafat,Nur nya tetap abadi dan mengambil bentuk pada diri orang-orang yang masih hidup.
Kajian Insan Kamil yang dibawa al-Jili meninggalkan pengaruh yang besar pada sufi-sufi sesudahnya. Hal ini terlihat pada semakin banyaknya komentar atas kitab al-Insal al-Kamil serta semakin meluasnya pemakaian istilah-istilah yang menyangkut konsep Insan Kamil dalam masyarakat, terutama di kalangan sufi. Diantara komentar atas Kitab a-Insan al-Kamil adalah Mudihat al-Hal fi Ba’d Masmuat al-Dajjal oleh Ahmad ibn Muhammad al-Madani (w. 107 H/1660 M), Kasyf al-Bayan an ‘Asrar al-Adyan fi Kitab al-Insan al-Kamil wa Kamil al-Insan oleh Abd al-Ghani al-Nabulusi (w. 1143 H/ 1731 M), dan komentar-komentar yang ditulis Ali Zadah Abd al-Baqi ibn ‘Ali (w. 1159 H/1745 M), dan Syaikh Ali ibn Hijazi al-Buyumi (w.1183 H/1710 M).
2.3.Cara Pendekatan Kaum Sufi Pada Tuhan
Untuk mendekatkan diri pada Tuhan, seorang sufi harus menempuh jalan panjang berupa stasiun-stasiun atau disebut maqamat dalam istilah Arab.
Sebagai seorang sufi, Al- Jilli dengan membawa filsafat insan kamil merumuskan beberapa maqam yang harus dilalui seorang sufi, yang menurut itilah Al-Jilli disebut  martabah atau jenja/ tingkat.
a.       Islam: Islam yang didasarkan pada lima pokok atau rukun dalam pemahaman kaum sufi tidak hanya dilakukan secara ritual saja. Tetapi harus dipahami dan dirasakan lebih dalam.
b.      Iman : membenarkan dengan sepenuh kayakinan akan rukun iman dan melaksanakan dasar-dasar islam. Iman merupakan tangga pertama untuk mengungkap tabir aam ghaib dan alat yang membantu seseorang mencapai tingat atau maqam yang lebih tinggi. Iman menunjukan sampainya hati mengetahui sesuatu yang jauh diluar jangkaun akal. Sebab sesuatu yang diketahui akal tidak selalu membawa kepada keimanan.
c.       Sholah : yakni dengan maqam ini telah menunjukan bahwa seorang sufi mencapai tingkat menyaksikan efek atau atsar dari nama dan sifat Tuhan, sehingga dalam ibadahnya ia merasa seakan-akan berada dihadapannya
d.      Ihsan : persyaratan yang harus ditempuh dalam maqam ini adalah sikat istiqamah dalam taubat, inabah, zuhud, tawakal, tafwidh, ridho, dan ikhlas.
e.       Sahadah : seorang sufi dalam maqam ini telah mencapai  iradah yang bercirikan, mahabah kepada Tuhan tanpa pamrih, mengingat-Nya secara terus menerus, dan meninggalkan hal-hal yang menjadi keinginan pribadi.
f.       Sidiqiyah : istilah ini menggambarkan tingkat pencapaian hakikat yang ma’rifat yang diperoleh secara bertahap dari ilmu al- yaqin, ain al-yaqin  sampai  haqq al yaqin.
g.      Qurbah : maqam ini merupan maqam yang memukinkan seorang sufi dapat menampakkan diri dalam sifat dengan nama yang mendekati sifat dan mana Tuhan.

PENUTUP
Kesimpulan
Nama lengkap al-Jilli  adalah Abdul Karim bin Ibrahim Al-Jili. Ia lahir pada tahun 1363 M di Jilan (Gilan), sebuah provinsi di sebelah selatan Kasfia dan wafat pada tahun 1417 M.  Ia mendapatkan gelar kehormatan ”syaikh” yang biasa dipakai di awal namanya.
Ajaran Al-Jilli secara garis besar meliputi pengertian tentang Zat Mutlak, masalah Roh, tentang Nur Muhammad, dan Insan Kamil. Zat mutlak, menurut Al-Jilli , adalah sesuatu yang dihubungkan kepadanya nama dan sifat zatiyah dan bukan pada wujudnya. Ajaran Al-Jilli yang lainnya adalah Roh. Menurutnya, roh adalah malaikat yang diciptakan Tuhan dari cahaya-Nya, kemudian dari malaikat ini Tuhan menciptakan Alam. Malaikat merupakan makhluk yang terdekat disisi Allah. Oleh karena itu , ia diberi tempat di alam ufuq, alam jabarut, dan alam malakut.
Nur Muhammad Al-Jilli, adalah sebagai gambaran (shuroh) Allah yang bersifat Azali yang muncul dalam semua bentuk (shuroh) para nabi, dari Adam sampai Isa, akhirnya muncul penampakan diri dalam bentuk Nabi Muhammad itu sendiri. Menurut Al-Jilli, insan kamil adalah nuskhah atau copy Tuhan, pengertian insan kamil menurutAl- Jilli dirumuskan sebagai berikut:
“insan kamil pertama sejak adanya wujud hingga akhir lamanya, yang mengkristal pada setiap zaman”
“Dan insan kamil adalah Nabi Muhammad”
“Maka insan kamil merupakan asalnya wujud, atau menjadi poros yang kemudian berkembang atasnya roh wujud dari awal hingga akhirnya.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Misriy, Badruttamam Bsya.  Tasawuf Anak Muda. Jakarta: Pustaka Group.2009.
Khan, Muhammad Mojlum. 100 Muslim . Jakarta: Noura Books Mizan Publika. 2012.
Rusli, Rislan. Tasawuf Dan Tarekat: Studi Pemikiran Dan Pengalaman Sufi. Jakatra:Pt Rajagafindo Persada. 2013.
Solihin, M. Dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf. Bandung: Penerbit Pustaka Setia. 2008.
Solihin, M. Tasawuf Tematik: Membedah Tema-Tema Penting Tasawuf . Bandung: Penerbit Pustaka Setia. 2003.
Solihin, Tokoh-Tokoh Sufi Lintas Zaman. Bandung: Cv Pustaka Setia. 2003.



[1] Muhammad Mojlum Khan, 100 Muslim (Jakarta: Noura Books Mizan Publika, 2012)Hlm. xi
[2] M.Solihin Dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf  (Bandung:Penerbit Pustaka Setia, 2008) Hlm. 184
[3] Rislan Rusli, Tasawuf Dan Tarekat: Studi Pemikiran Dan Pengalaman Sufi (Jakatra:PT Rajagafindo Persada, 2013) Hlm.151
[4] Rislan Rusli, Tasawuf Dan Tarekat., Hlm. 153

[5] Badruttamam Bsya Al-Misriy, Tasawuf Anak Muda (Jakarta:Pustaka Group,2009) Hlm.29
[6] M.Solihin,Tasawuf Tematik: Membedah Tema-Tema Penting Tasawuf  (Bandung:Penerbit Pustaka Setia, 2003) Hlm. 101
[7] M.Solihin Dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf,. Hlm 185
[8] Solihin, Tokoh-Tokoh Sufi Lintas Zaman (Bandung:CV Pustaka Setia, 2003)Hlm. 185

Tidak ada komentar:

Posting Komentar