Pages - Menu

Menu

Rabu, 09 Desember 2015

AGAMA YAKIN PANCASILA




A.    Latar Belakang
Telah kita ketahui bahwa berbagai macam kepercayaan dan aliran-liran kebatinan telah timbul di dalam masyarakat kita di indonesia ini. Gerakan semacam ini banyak sekali, terutama tumbuh di Jawa Tengah, tetapi ada juga dari daerah lain.
            Menurut catatan resmi dari PAKEM (Pegawas Aliran Kebatinan Masyarakat), di Jawa Tengah saja terdapat kurang lebih 103 gerakan kebatinan yang tercatat, dan di Sumatra tidak kurang dari 96 gerakan.[1]
            Berbagai ragam pula namanya. Ada yang menamakan dirinya “ngelmu sejati”, “Islam Hak”, “Agama Kuring” dan ada pula yang meluas sampai ke luar negeri diantaranya Kebatinan Subud (Susila Budi Dharma) yang dipipin oleh Pak Subuh. Orang dari luar negeri, baik dari luar negeri, baik dari universitas-universitas ataupun darinkaum orientalist banyak yang berkedatangan ke tanah air kita mengadakan riset tentang kebatinan itu.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah mengenai Agama Yakin Pancasila?
2.      Apa saja nama-nama dari Agama Yakin Pancasila?
3.      Apa yang menjadi landasan dalam Agama Yakin Pancasila?
4.      Bagaimana ajaran dari Agama Yakin Pancasila?
5.      Bagaimana cara  penyebaran Agama Yakin Pancasila?
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Agama Yakin Pancasila
Setelah Indonesia merdeka, lahirlah organisasi PERMAI (Peri Kemanusiaan) pada tanggal 7 Nopember 1948 oleh Mei Kartawinata.[2] Mei Kartawinata ini sekaligus  diangkat sebagai Bapak Ruhani. Oleh karena itu aliran kepercayaan ini namanya banyak sekali, orang-orang kadang-kadang menyebut Agama Kuring atau PERMAI, juga disebut Agama Pancasila atau Peri Kemanusiaan. Di daerah Tulungaggung orang menyebut Agama Petrap atau Traju Trisna, juga disebut Ilmu Sejati dan Jawi-Jawi Mulya.  Di Bandung sering dinyatakan dengan nama Agama Yakin Pancasila atau Agama Sunda atau Perjalanan.
M. Kartawinata berasal dari Ciparai         Bandung. Lahir pada tanggal 1 Mei 1987 di kebon Jati Bandung,  Pendidikannya Sekolah Rakyat  atau HIS (Hollands Inlands School) di zaman pemerintahan Belanda. Ketika masih remaja ia tinggal bersama kakak iparnya dikediaman Sultan Kanoman Cirebon. Ia banyak mengetahui ajaran kebatinan di kalangan keluarga keraton Cirebon, seperti ilmu sejati. Di cirebon disinyalir bahwa M. Kartawinata terdapat hubungan yang erat dengan Muhammad Ishak dan tinggal di Cirebon. Kedua orang ini namanya tercemar di daerah Cirebon terutama pada zaman pendudukan Belanda tahun 1947/1948. Pada waktu itu Muhammad Ishak mengajarkan ilmu yang disebut orang ilmu sambelun, sehingga Muhammad Ishak juga dikenal dengan sebutan Kyai Sambelun. Kedua orang tersebut tampak membantu Belanda yang ada di daerah Cirebon. Dengan demikian orang banyak menaruh curiga   juga terhadap M. Kartawinata. Setelah itu M. Kartawinata kembali ke Subang dan mendirikan aliran Perjalanan pada tahun 1927. Pada waktu di Cirebon dia disinyalir membantu Belanda, sebaliknya di Subang ia memimpin perjuangan melawan Belanda dengan menggunakan aliran Perjalanan sebagai sarananya.
Muhammad Ishak lahir pada tahun 1890 didesa Bodeh Plumbon Kabupaten Cirebon. Ia pernah belajar tarekat Nahdhatul Arifin, yaitu tarekat yang memberikan tuntunan kepada seseorang yang ingin mencapai makrifat billah, yaitu mengetahui Allah dengan sebenar-benarnya. Untuk mencapai makrifat billah, seseorang harus mengetahui rahasia alif, lam, mim yaitu Allah, Muhammad, Adam, sempurnanya harus mengetahui pula Al-qur’an dan hadist. Akan tetapi bukan al-qur’an dan hadist dalam bentuk tulisan Arab yang ditulis diatas kertas, melainkan tulisan yang sejati. Demikianlah yang disebut ilmu sambelun.
Di samping memimpin aliran Yakin Pancasila, Mei Kartawinata dalam kehidupan sehari-hari juga meiliki kemampuan mengobati orang sakit secara tradisional tanpa meminta bayaran. Melalui sarana inilah ia menyampaikan ajarannya kepada orang lain. Mei Kartawinata meninggal pada tahun 1967 di Jalan Cikutra Cidadas Bandung.
Murid-murid M. Kartawinata terdapat di Bandung, Majalengka, Sala, Bogor, Krawang, Tegal, Pekalongan, Pemalang dan Brebes. Berkaitan dengan  teman M. Kartawinata yakni M.Rasyid dan Sumitra, namun riwayat hidup mereka tidak diketahui dengan jelas. Pada tahun 1926 M, M. Rasyid dan Sumitra datang ke Subang untuk bekerja di percetakan tempat dimana Mei Kartawinata bekerja. Yang mana kedua orang tersebut memiliki ilmu kanuragan atau kesaktian. Sedangkan M. Kartawinata tidak menyukai ilmu kanuragan. Yang terpenting bagi Mei Kartawinata adalah hidup damai dan saling menghormati antara sesama. Ia selalu peduli terhadap orang lain. Karena ia mempunyai kemampuan pengobatan alternatif, bila ada orang sakit ia berusaha untuk mengobatinya.
B.     Nama-nama Lain Agama Yakin Pancasila
Aliran yang didirikan pada tanggal 17 September 1927 di Cemerta Kabupaten Subang oleh Mei Kartawinata bersama dua orang temannya, mempunyai nama lain, yaitu:
a.       Aliran Kuring, sebelum kemerdekaan. Mei Kartawinata ketika menerangkan ajarannya di mana-mana selalu menyebut “ inilah Agama Kuring” (artinya agama saya), maksudnya “agama asli Sunda”.
b.      “Permai” (perikemanusiaan), sesudah kemerdekaan. Pada tanggal 7 November 1948, Mei Kartawinata diangkat sebagai Bapak Rohani.
c.       “Agama Yakin pancasila” juga disebut “Agama Sunda”, disebut lagi “Perjalanan” di Bandung.
d.      “Agama Petrap” juga disebut “Traju Trisna”, disebut lagi “Ilmu sejati” dan “Jawa Jawi Mulya”. Di Tulungagung.

C.     Landasan Ajaran Agama Yakin Pancasila     
Ajaran agama yakin pancasila didasarkan pada wangsit yang diterima oleh Mei Kartawinta. Ia menerima wangsit itu berkali-kali sampai ada sepuluh kali yang disebut Dasa Wasita seperti berikut :
Wangsit pertama : “Janganlah dirimu dihina dan direndahkan oleh siapa pun, sebab dirimu tidak lahir dan tidak besar oleh sendirinya, tetapi dirimu dilahirkan dan dibesarkan penuh dengan cinta kasih ibu dan bapakmu. Bahkan dirimu itu sendirilah yang melaksanakan segala kehendak dan cita-citamu yang seyogyanya kamu berterima kasih kepadanya.”
Wangsit kedua : “Brang siapa menghina dan merendahkan dirimu, sama juga artinya dengan menghina dan merendahkan ibu bapakmu bahkan leluhur bangsamu.”
Wangsit ketiga : “Tiada lagi kekuatan dan kekuasaan yang melebihi kekuatan dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, Belas dan Kasih. Sifat belas dan kasih itu pun dapat mengatasi dan menyelesaikan segala pertentangan atau pertengkaran, bahkan dapat memadukan paham dan usaha untuk mencapai tujuan yang lebih maju serta menyempurnakan akhlak dan meluhurkan budi pekerti manusia.”
Wangsit keempat : “Dengan kagum dan takjub kamu menghitung tetesan air yang mengalir yang menuju kesatuan mutlak, yaitu lautan sambil memberikan manfaat kepada kehidupan manusia, binatang,  pepohonan atau tetumbuhan. Akan tetapi kamu belum pernah mengagumi dan takjub kepada dirimu sendiri yang telah mempertemukan kamu dengan dunia beserta segala isinya. Bahkan kamu belum pernah menghitung kedip matamu. Sungguh betapa nikmatnya apa yang kamu rasakan, padahal semua itu sebagai hikmah dari Tuhan Yang Maha Esa.”
Wangsit kelima : “Kemanpun kamu pergi dan di mana pun kamu berada Tuhan Yang Maha Esa akan selalu bersama denganmu.”
Wangsit keenam : “Perubahan besar alam kehidupan manusia akan menjadi pembalasan terhadap segala penindasan serta mencetuskan atau melahirkan kemerdekaan hidup bangsa.”
Wangsit ketujuh : “Apabila pengetahuan disertai kekuatan raga dan jiwamu digunakan secara salah untuk memuaskan hawa nafsu, akan menimbulkan dendam, kebencian, pembalasan, dan perlawanan. Sebaliknya apabila pengetahuan dan kekuatan raga dan jiwamu digunakan untuk menolong sesama akan menumbuhkan rasa kasih sayang dan persaudaraan yang mendalam.”
Wangsit kedelapan : “Cintailah sesama hidupmu tanpa memandang jenis dan rupa, sebab apabila telah meninggalkan jasad, siapa pun akan berada dalam keadaan yang sama. Ia tidak mempunyai daya dan upaya. Justru selama itu, selama kamu masih hidup, berusahalah agar kamu dapat memelihara kelangsungan hidup sesama sesuai dengan kodrat-Nya menurut kehendak Tuhan Yang Maha Esa.”
Wangsit kesembilan : “Batu di tengah sungai, jikalau olehmu digarap menurut kebutuhan, kamu menjadi kaya karenanya. Dalam hal itu yang membuat seseorang kaya raya bukanlah pemberian batu itu, tetapi yang membuat kaya raya adalah hasil kerjamu sendiri.”
Wangsit kesepuluh : “Geraklah untuk kepentingan sesamamu, bantulah yang sakit untuk mengurangi penderitaannya. Kemudian hari akan tercapailah masyarakat kemanusiaan yang menggerakkan kemerdekaan dan kebenaran” (Rozak, 2002:178-185).
Dari kesepuluh butir Dasa Wasita  di atas, semuanya berisi ajaran moral sebagai pedoman hidup manusia dalam hidup bersama, khususnya anggota atau warga aliran agama yakin pancasila. Setelah wangsit itu diterima, maka didirikan aliran Perjalanan. Nama perjalanan tampaknya diambil dari gambaran air yang mengalir mulai dari sumbernya melalui sungai sampai akhirnya ke lautan. Sepanjang perjalanan, air telah memberikan unsur yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia. Gambaran perjalanan air ini sebagai ibarat perjalanan kehidupan manusia sebagai individu agar senantiasa berdarma bakti dan berbuat baik kepada sesama untuk mencapai kesejahteraan bersama. Konsep ini juga dipandang selaras dengan konsep Pancasila yang mengandung makna sosial religius. Karenanya aliran Perjalanan juga dipandang mempunyai peranan dalam kehidupan negara yang berdasarkan Pancasila. Berdasarkan konsep ini pulalah agaknya, aliran ini disebut “Agama Yakin Pancasila”.

D.    Ajaran Agama Yakin Pancasila
Agama yakin pancasila berasaskan pancasila, ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, menjunjung tinggi segala agama dan menghormati segala bangsa dengan jalan perikemanusiaan menuju keselamatan dunia akhirat untuk tiap warganya.
Aliran kebatinan “agama yakin pancasila” mempunyai pedoman hidup sejarah diri dan dalam kehidupan bernegara yang harus sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 dan tidak boleh menyimpang dari dua dasar tersebut dan aliran kebatinan Perjalanan tidak mempunyai kitab seperti aliran kebatinan lainnya, misalnya kebatinan Pangestu memakai kitab Sasangko Jati, dan Sapto Darmo menggunakan Kitab Cendro. Aliran Kebatinan “Perjalanan” meyakini bahwa setiap manusia adalah kitab yang ditulis oleh Tuhan.
Ajaran yang diberikan diambilkan dari ajaran agama Islam dengan tafsiran semaunya sendiri. Kalau melihat asas penjelasannya dan tujuannya baik sekali, tetapi di dalam penjelasannya sering menyinggung agama Islam seperti apa yang telah diterangkan diatas, bahwa Islam adalah agama impor dari Arab. Murid-muridnya dilarang mengucapkan Assalamu’alaikum dengan tafsiran siapa salah dihukum. Juga tidak boleh membaca Bismillahirahmanirrahim, harusnya.
Bis ala ya ala, saimah jadi manusa. . . . . .les,” artinya
Bis ala ala, satu rumah menjadi manusia,  kemudian hilang.”
Sembahyangnya sewaktu-waktu saja asal niat jadi dan sah, tempatnya dimana saja, waktu mengambil air sembahyang mengucapkan : Masa a kajaro, masa a keluar, Gusti Allah anu muji, Gusti Pangeran anu dipuji, artinya: Masakan (Manabisa) a masuk dan keluar, Allah yang dipuji Tuhan yang memuji.
Semua ajaran yang diberikan M. Kartawinata ada kecenderungan anti Islam, oleh karena itu sering menimbulkan keributan atau kegaduhan.
a.       Ajaran Tentang Tuhan dan Penciptaannya
Menurut ajaran Aliran Yakin Pancasila, Tuhan memiliki sejumlah nama, yaitu: Hyang Mahaagung, Hyang Maha Murba, Hyang Sukma, Hyang Widi, Hyang Manon, Hyang Maha Adil, dan lain-lain.
Tuhan dalam ajaran aliran ini disamping memiliki sejumlah nama juga memilki sejumlah sifat sebanyak 13, yaitu: wujud, terdahulu, kekal abadi, beda, mandiri, tunggal, mahakuasa, mahakersa, mahatahu, mahahidup, mahadengar, mahalihat, dan mahaucap. Sifat-sifat tersebut juga identik dengan 13 sifat Tuhan di dalam ajaran Islam yaitu: wujud (ada), qidam (dahulu tanpa permulaan), baqa (kekal), mukhalafah lilhawadisi (berbeda dengan segala yang baru), qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri), wahdaniat (esa), qudrat (kuasa), iradat (berkehendak), ilmu (mengetahui), hayat (hidup), sama’ (mendengar), bashar (melihat), dan kalam (berkata).
Berdasarkan nama yang menyertakan kata “Hyang” dan sifat Tuhan yang terdapat di aliran perjalanan tampak sedikit unsur Islam dan Hindu. Hal ini dianggap wajar, dikarenakan Mei Kartawinata (pendiri aliran Perjalanan) pernah hidup dilingkungan kraton Cirebon. Selain itu ia juga pernah belajar di pesantren dan mempelajari ilmu ahli sunah.
Menurut aliran ini, Tuhan merupakan pencipta alam semesta seisinya. Tuhan memulai penciptaan dengan menciptakan panas matahari , rasa dingin, kemudian air. setelah diciptakan air, kemudian muncul kehidupan pasda tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia. Menurut aliran kepercayaan ini ada ketergantungan antara binatang, manusia, tumbuhan dan alam semesta yang disebut dengan hukum kehidupan nyakra manggilangan atau tumimbal lahir (kelahiran kembali).

b.      Ajaran Tentang Manusia
Konsep manusia menurut aliran agama yakin pancasila, manusia tercipta dari badan jasmani dan rohani. Kemudian Tuhan juga menciptakan Aku (ingsun) yang mewakili kesadaran akan dirinya. Melalui kesadaran Aku ini, manusia mampu menjadi kawula Gusti atau abdi Tuhan, yang wajib kumawula atau mengabdi kepada Tuhan, wajib bersifat kewalian (seperti wali), kegurujatian (seperti guru sejati), kerasajatian (memiliki rasa sejati), dan kegustian (seperti gusti). Oleh karena itu, manusia dalam ajaran agama ini dilarang melakukan tujuh M, yaitu main (berjudi), maling (mencuri), madon (melacur), mabok, madat, maksiat, dan mateni (membunuh). Menurut agama ini bila manusia dapat memelihara rasa jatinya dan kesucian batinnya, maka ia akan kembali ke jatinya, pulang ke asalnya.
c.       Ajaran Tentang Mistik
Di dalam agama Yakin Pancasila sebenarnya juga mengandung ajaran mistik walaupun tidak dijelaskan secara luas. Ajaran tentang mistik ini tampak di dalam wangsit keempat dan kelima, sebagai berikut.
Di dalam wangsit keempat disebutkan: “Dengan kagum dan takjub kamu menghitung tetesan air yang mengalir menuju kasatuan mutlak yaitu lautan…” kemudian di dalam wangsit yang kelima disebutkan: “Ke mana pun kamu pergi dan di manapun kamu berada Tuhan Yang Maha Esa akan selalu bersama denganmu”
Ajaran tentang manusia, bahwa kesatuan hamba dengan Tuhan yang disebut “rasa kejatian” (memiliki rasa sejati) dapat tercapai ketika kesadaran Aku-manusia akan Tuhannya selalu kumawula (mengabdi kepada Tuhan).
Untuk itu, kesadaran Aku-manusia harus dilatih penghayatannya dengan jalan membersihkan batinnya dari pengaruh sagala nafsu yang buruk yang dapat mengotori perasaannya. Penghayatan seperti ini harus dilatih terus-menerus secara berkelanjutan, hingga tercapai apa yang disebut “rasa kajatian”. Melalui rasa kejatian, seseorang akan dapat menghubungkan hidup Akunya dengan Yang Maha Hidup, sehingga diperoleh kekuatan Ilahi yang dapat mempertajam pikiran dan memperhalus perasaan. Kekuatan dan pancaran Ilahi ini merupakan daya spiritual yang dapat dimanfaatkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat hidup manunggal dengan sesamanya.[3]

E.     Cara Penyebaran Agama Yakin Pancasila
Cara menyebarkan agama yakin pancasila ini metodenya seperti metode penyebaran aliran sapta darma, yaitu dengan cara memberikan obat-obatan kepada orang yang sedang sakit, dengan memberikan air dengan tanpa meminta bayaran. Diantara kalangan mereka yang sembuh membentuk propaganda yang aktif sekali di dalam kalangan aliran kepercayaan ini karena tidak ada batas antara laki-laki dan perempuan, sehingga sering terdapat perbuatan cabul. Hal inilah yang menjadi noda dalam kalangan M. Kartawinata. Orang-orang yang telah tergabung didalam aliran ini tidak boleh keluar dari organisasinya, apabila keluar dianggap penghianat.
Aliran yakin pancasila yang merupakan kepercayaan asli orang sunda ini disebarkan oleh M. Kartawinata dengan memanfaatkan kemampuannya mengobati orang sakit secara tradisional tanpa memungut biaya. Oleh karena itu masyarakat banyak yang simpati dan mengikuti aliran tersebut.
Di Subang Mei Kartawinata memimpin perjuangan melawan Belanda dengan menggunakan aliran Perjalanan sebagai sarana. Dari situlah masyarakat mulai mengikuti aliran yakin pancasila.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan diatas, maka dari sini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Sejarah Agama Yakin Pancasila adalah aliran yang dicetuskan oleh Mei Kartawinata.
2.      Nama lain dari Agama Yakin Pancasila antara lain Aliran Kuring, Permai, Agama Sunda, Agama Petrap, Traju Trisna, Ilmu Sejati, dan Jawa Jawi Mulya.
3.      Landasan Agama Yakin Pancasila didasarkaan pada wangsit yang telah diteris oleh Mei Kartawinata.
4.      Ajaran dari Agama Yakin Pancasila adalah mirip dengan ajaran islam namun berasaskan pancasila.
5.      Metode penyebaran Aliran Yakin Pancasila yaitu melalui memberikan obat-obatan tradisional kepada orang yang sedang sakit dengan memberikan air dan tidak meminta upah atau bayaran.
DAFTAR PUSTAKA
Hamka. Perkembangan Kebatinan di Indonesia. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1990.
Kartapradja, Kamil. Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di Indonesia. Jakarta: CV. HAJI MASAGUNG, 1986.
Salim. Faham Ketuhanan dalam Islam dan Kebatinan. 1991, Stain Kediri: Kediri (Skripsi).
Sabrang,Negara Agama Buhun, dan KTP. 2009. Sabrangetan blogspot.com/(diakses pada 24 Maret 2015, pkl 09.15).




[1] Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia, hlm. 01.
[2] Prof. Kamil Kartapradja, Aliran Kebatinan dan Kepercayaan di Indonesia (Jakarta: CV. MASAGUNG, 1986), 101.
[3] Sabrangetan.blogspot.com/(diakses pada 24 Maret 2015, pkl 09.15)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar