Pages - Menu

Menu

Senin, 30 November 2015

Membangun Kerjasama / Keperdulian Masyarakat Berbasis Karakter



A.    LATAR BELAKANG
Gambaran tentang orang Indonesia yang ramah, berbudaya, dan berbudi pekerti yang luhur telah memudar. Kesan yang muncul adalah kekerasan, dan tindakan tidak manusiawi terjadi hampir diseluruh pelosok negeri dan berlangsung dalam waktu yang lama. Hal ini salah satu faktornya terjadi dikarenakan kegagalan dalam menanamkan pendidikan nilai dan kerjasama serta keperdulian masyarakat. 
Ketika ingin menumbuhkan nilai-nilai dalam masyarakat dibutuhkan kerjasama antar masyarakat agar dapat menjadi masyarakat yang baik dan berbudi pekerti yang luhur. Selain itu diperlukan juga keperdulian antar masyarakat yang berbasis karakter agar dapat menjadi masyarakat yang baik, ramah dan akhlak mulia yang lainnya. Akan tetapi bagaimana cara menumbuhkan kerjasama serta keperdulian masyarakat yang berbasis karakter?

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian kerjasama, kepedulian, dan karakter?
2.      Bagaimana Pentingnya membangun karakter?
3.      Bagaimana manusia sebagai makhluk individu dan social?
4.      Bagaimana Membangun kerjasama / kepedulian masyarakat berbasis karakte


A.    PENGERTIAN KERJASAMA, KEPEDULIAN, DAN KARAKTER
Dalam bahasa Inggris kata kerjasama disebut sebagai cooperation. Kerjasama adalah suatu usaha antara perorangan atau kelompok manusia diantara kedua belah pihak untuk tujuan bersama sehingga mendapatkan hasil yang lebih cepat dan lebih baik. Pengertian kerjasama dijabarkan ke dalam beberapa dimensi, antara lain:
1.      Sebuah tindakan atau bekerja bersama untuk mencapai tujuan atau keuntungan bersama; bertindak bersama
2.       Bantuan aktif dari orang/organisasi/kelompok lain (entah itu banyak atau sedikit).
3.      Kerjasama dalam pandangan ekonomi, merupakan gabungan individu yang saling membantu untuk mencapai hasil produksi, pembelian atau distribusi demi keuntungan bersama.
4.      Kerjasama dalam pandangan sosiologi adalah aktifitas yang dilakukan bersama demi mencapai hasil yang saling menguntungkan.
5.      Kerjasama dalam pandangan Ekologis, berarti interaksi saling menguntungkan antara organisme hidup dalam sebuah wilayah terbatas.
Kepedulian ialah minat atau ketertarikan kita untuk membantu orang lain. Lingkungan terdekat kita yang berpengaruh besar dalam menentukan tingkat kepedulian sosial kita.
Karakter didefinisan oleh Ryan dan Bohlin, mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahi kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good ). Dalam pendidikan karakter, kebaikan itu sering kali dirangkum dalam sederet sifat-sifat baik. Dengan demikian, maka pendidikan karakter adalah sebuah upaya untuk membimbing perilaku manusia menuju standar-standar baku.[1]
(Hornby & Parnwell, 19972: 49) karakter adalah kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi. Hermawan Kertajaya (2010: 3) mendifinisikan karakter adalah “ ciri khas” yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut ialah “asli” dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan mesin pendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespon sesuatu.[2]
B.     PENTINGNYA MEMBANGUN KARATER
Krisis Akhlak disebabkan oleh tidak efektifnya pendidikan nilai dalam arti luas (dirumah, disekolah, diluar rumah, dan sekolah). Karena itu, dewasa ini banyak komentar terhadap pelaksanaan pendidikan nilai yang dianggap belum mampu menyiapkan generasi muda bangsa menjadi warga Negara yang lebih baik. Pendidikan nilai mencakup kawasan budi pekerti,  nilai, norma, dan moral. Budi pekerti ialah buah dari budi nurani. Budi nurani bersumber pada moral moral bersumber pada kesadaran hidup yang berpusat pada alam pikiran (BP-7,1993:25).
Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Menurut Freud kegagalan penanaman kepribadian yang baik di usia dini ini akan membentuk pribadi yang bermasalah pada masa dewasanya kelak.
Pembentukan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan yang melibatkan aspek “knowledge, feeling, loving, dan action”. Pembentukan karakter diibaratkan sebagai pembentukan seseorang menjadi body builder (binaragawan) yang memerlukan “latihan otot-otot akhlak” secara terus menerus agar menjadi kokoh dan kuat.
Thomas Lickona (1991) mendifinisikan orang yang berkarakter sebagai sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara bermoral, yang dimanifestasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain dan karakter mulia lainnya. Dapat disimpulkan bahwa karakter sangat memberi kontribusi untuk menjadikan masyarakat menjadi masyarakat yang baik dan berkarakter.[3]
C.    MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN SOSIAL
Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai individu. Dalam diri individi ada unsur jasmani dan rohaninya, atau ada unsur fisik dan psikisnya, atau ada unsur raga dan jiwanya.
Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Seorang individu adalah perpaduan antara faktor fenotip dan genotip. Faktor genotip adalah faktor yang dibawa individu sejak lahir, ia merupakan faktor keturunan, dibawa individu sejak lahir. Kalau seseorang individu memiliki ciri fisik atau karakter sifat yang dibawa sejak lahir, ia juga memiliki ciri fisik dan karakter atau sifat yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan (faktor fenotip). Faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Istilah lingkungan merujuk pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Ligkungan fisik seperti kondisi alam sekitarnya. Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan di mana seorang individu melakukan interaksi sosial. Kita melakukan interaksi sosial dengan anggota keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial yang lebih besar.
Karakteristik yang khas dari seseorang dapat kita sebut dengan kepribadian. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor bawaan (genotip)dan faktor lingkungan (fenotip) yang saling berinteraksi terus-menerus.
Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.
Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia membutuhkan orang lain dan lingkungan sosialnya sebagai sarana untuk bersosialisasi. Bersosialisasi disini berarti membutuhkan lingkungan sosial sebagai salah satu habitatnya maksudnya tiap manusia saling membutuhkan satu sama lainnya untuk bersosialisasi dan berinteraksi. 
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, yang artinya manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama dan kepedulian dalam menjalankan kehidupan.
Anggota keluarga adalah orang yang terdekat dengan kita. Setiap hari kita berkumpul dengan keluarga. Selain keluarga kita juga hidup dalam lingkungan masyarakat,  baik di lingkungan sekolah, tetangga, komplek, dan lingkungan lainnya. Kita harus selalu rukun dengan orang yang berada di sekitar kita. Kita bisa bekerja sama kalau rukun. Hidup rukun termasuk perilaku gotong royong. Gotong royong artinya bekerja sama saling membantu. Bekerja sama tidak mengharap imbalan.
H. Kusnadi (2003) mengatakan bahwa berdasarkan penelitian kerja sama mempunyai beberapa manfaat, yaitu sebagai berikut: 
1.      Kerja sama mendorong persaingan di dalam pencapaian tujuan dan peningkatan produktivitas.
2.      Kerja sama mendorong berbagai upaya individu agar dapat bekerja lebih produktif, efektif, dan efisien.
3.      Kerja sama mendorong terciptanya sinergi sehingga biaya operasionalisasi akan menjadi semakin rendah yang menyebabkan kemampuan bersaing meningkat.
4.      Kerja sama mendorong terciptanya hubungan yang harmonis antarpihak terkait serta meningkatkan rasa kesetiakawanan.
5.      Kerja sama menciptakan praktek yang sehat serta meningkatkan semangat kelompok.
6.      Kerja sama mendorong ikut serta memiliki situasi dan keadaan yang terjadi dilingkungannya, sehingga secara otomatis akan ikut menjaga dan melestarikan situasi dan kondisi yang telah baik. 
D.    MEMBANGUN KERJASAMA / KEPEDULIAN MASYARAKAT BERBASIS KARAKTER
Sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat dipisahkan dari komunitasnya dan setiap orang di dunia ini tidak ada yang dapat berdiri sendiri melakukan segala aktivitas untuk memenuhi kebutuhannya, tanpa bantuan orang lain. Secara alamiah, manusia melakukan interaksi dengan lingkungannya, baik sesama manusia maupun dengan makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu, salah satu kunci sukses suatu kegiatan adalah sukses dalam kerja sama.
Kerjasama adalah usaha bersama antar individu atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Beberapa bentuk kerjasama antara lain:
a.       Kerjasama spontan yaitu, kerjasama serta merta, tanpa adanya perintah atau tekanan tertentu
b.      Kerjasama langsung yaitu, kerjasama yang berasal dari perintah atasan atau penguasa
c.       Kerjasama kontrak yaitu, kerjasama atas dasar atau perjanjian tertentu
d.      Kerjasama tradisional yaitu, kerjasama sebagai system social. Misalnya gotong royong
Apabila dilihat dari pelaksanaan, kerjasama memiliki bentuk-bentuk sebagai berikut:
a.       Kerukunan, yaitu kerjasama yang meliputi gotong royong dan tolong menolong
b.      Bargaining yaitu, pelaksanaan pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih sesuai perjanjian
c.       Kooptasi yaitu, proses penerimaan nsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau unsur politik dalam ogranisasi demi kesetabilan organisasi yang bersangkutan
d.      Koalisi yaitu, perpaduan dua organisasi atau lebih dengan tujuan yang sama
e.       Jointh-venture yaitu, kerjasama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu.

Pembangunan pada dasarnya merupakan proses upaya terencana yang ditujukan bagi perbaikan dan kemaslahatan masyarakat secara berkeadilan.Bentuk kerjasama dalam penerapan pendidikan karakter yang sangat erat kaitannya dengan pendidikan agama ialah:
1.      Bentuk kerjasama informal individual, dimana kerjasama ini didasarkan oleh rasa keinsyafan, kedua belah pihak akan pentingnya menjalin kerjasama diantara keduanya
2.      Formil organisatoris, bentuk penyelenggara pendidikan organisasi, seperti Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (Komite Sekolah/Majlis Madrasah).[4]

Seseorang dengan kepedulian dan kepekaan social yang tinggi seraya menyadari bahwa setiap harta yang dimiliki oleh seseorang terdapat hal orang lain yang harus dipenuhi. Bahkan Rasulullah SAW begitu marah apabila terdapat umatnya yang perutnya kenyang sedang dia membiarkan terdapat tetangganya yang kelaparan. Oleh karenanya Islam mengajarkan untuk menunaikan zakat, mengingat zakat hakikatnya adalah membersihkan harta. Bahkan penunaian zakat ini menjadi salah satu tiang dari agama Islam (rukun Islam) yang wajib ditunaikan dan dilaksanakan oleh umat Islam. Hal ini karena Allah SWT ingin benar- benar memastikan bahwa seorang muslim harus memiliki sebuah karakter yang tinggi berupa kepekaan dan kepedulian kepada sesame sehingga mereka merasa memiliki tanggung jawab yang tinggi tidak hanya kepada dirinya, tetapi juga tanggung jawab terhadap sekitarnya,orang lain dan masyarakat.
Seorang pemimpin yang besar ialah dia yang mampu menggunakan hatinya untuk peduli dan peka terhadap berbagai persoalan umat maupun masyarakat yang dipimpinnya. Kepedulian dan kepekaan merupakan wujud tanggung jawab kepemimpianan yang diembankan pada dirinya.
Empati adalah suatu suasana sikap psikologi pribadi yang berusaha untuk menempatkan diri pada suasana psikologi orang lain. Empati mencerminkan kesediaan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain.[5] Empati memang sangat tipis batasnya dengan kepedulian dan kepekaan atas apa yang terjadi pada orang lian, karena kedua hal ini bersumber dari asal yang sama yaitu semangat untuk memenpatkan diri kita pada orang lain yang tidak semata hanya berfikir mengenai dirinya sendiri.
Lihatlah apa yang dilakukan Umar bin Khatab RA. Terhadap pencuri yang kemudian dibebaskan oleh Umar karena alasan bahwa motif dia mencuri karena dia tidak memiliki sesuatu apapun yang dapat dia makan dengan keluarganya. Umar tahu bahwa mencuri ialah perbuatan melanggar dan harus dikenakan sanksi berupa potong tangan. Namun pemahamannya akan penderitaan orang lain kemudian mendorongnya untuk membebaskan sang pencuri itu.
“ Dikisahkan disebuah desa, hiduplah dua orang sahabat . keduanya sma-sma telah hidup sebatang kara dan tidak mempunyai snak saudara lagi. Apa yang menyatukan mereka? Cacat dan keterbatasan fisik. Si lumpuh, begitu orang biasa memanggil namanya, adalah seorang tua renta yang telah mengalami kelumpuhan sejak usia balita. Ia tidak bisa pergi kemana-mana tanpa dipapah orang lain. Untuk dapat makn sehari- hari saja, ia sangat bergantung kepada belah kasihan orang. Sementara sahabatnya, si buta,lelaki paruh baya yang menderita kebutaan sejak lahir. Sudah sejak beberapa tahun terakhir, kedunya tidak memiliki tempat tinggal yang tetap, dan hidup berpindah-pindah.
Ada hal yang menyentuh hati semua orang yang melihat mereka berdua. Si buta berhati mulia, tidak tega meninggalkan si lumpuh sendirian tanpa ada orang yang merawatnya. Maka, ditengah keterbatasannya sendiri, ia pun merelakan menggendong orang tua yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri itu, setiap kali mereka harus pindah dari satu tempat ketempat yang lain. Si lumpuh kemudian berperan sebagi penunjuk jalan, memberikan aba-aba kepada si buta, arah mana yang mereka tempuh. Demikianlah, selam bertahu –tahun, keduanya menjalani kehidupan mereka dengan cara itu.
Kisah diatas memberikan sebuah illustrasi pada diri kita tentang arti dari sebuah kerjasama. Setiap diri kita tentu memiliki beragam keinginan dan kebutuhan namun pada saat yang bersamaan kita memiliki keterbatasan dan ketidakberdayaan dalam memenuhi segala kebutuhan dan keinginan itu.[6]
Tahap pembentukan tim efektif
1)      Tahap Forming
Pada tahap ini masing-masing individu masih belum saling mengenal denga baik (tahap awal perkenalan individu) dan masih mencoba untuk saling mendekati diri agar dapat saling mengenal antar invidu.
2)      Tahap Storming
Dalam tahap ini individu-individu sudah mulai mengenal yang lain, sehingga muncul beberapa hal yang menurut dirinya tidak ideal seperti yang dia inginkan, muncul masalah dalam hubungan antar pribadi. Maka pada tahap ini, individu atau kelompok mulai mencoba mengatasi masalah dalam tubuh sendiri.
3)      Tahap Norming
Yaitu tahap masa percobaan dalam membina hubungan antar individu. Pada tahap ini masing- masing individu mulai mencoba menjalin hubungan yang baik dengan membuat kesepakatan bersama tentang nilai-nilai yang mungkin dalam melanggengkan kerja dalam kelompok tersebut.
4)      Tahap Performing
Setelah antar individu terjadi kesepakatan dan mulai mengenal dengan baik serta mulai memahami dan menghargai antar karakter dan posisi masing-masing, maka di sinilah mulia terlihat efektivitas saling bekerja sama.
5)      Tahap Maturity
Tahap kedewasaan yang ditandai dengan upaya saling memahami, menghargai, membantu secara positive, dan selalu melakukan sesuatu yang terbaik dan memberikan kemanfaatan yang banyak kepada orang lain.[7]
Kiat praktis membangun kerjasama yang efektif
a.       Milikilah nilai- nilai dan Visi yang disepakati bersama
b.      Ciptakan keterbukaan dalam berkomunikasi
c.       Biasakan berfikir positif antar sesama
d.      Bangunlah sikap saling memahami dan saling pengertian.
e.       Berempatilah, maka akan terlahir simpati
f.       Ciptakan organisasi positif
g.      lakukan

KESIMPULAN

Kerjasama adalah suatu usaha antara perorangan atau kelompok manusia diantara kedua belah pihak untuk tujuan bersama sehingga mendapatkan hasil yang lebih cepat dan lebih baik. Kepedulian ialah minat atau ketertarikan kita untuk membantu orang lain. Lingkungan terdekat kita yang berpengaruh besar dalam menentukan tingkat kepedulian sosial kita. karakter adalah kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi.
Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia membutuhkan orang lain dan lingkungan sosialnya sebagai sarana untuk bersosialisasi. Pembangunan pada dasarnya merupakan proses upaya terencana yang ditujukan bagi perbaikan dan kemaslahatan masyarakat secara berkeadilan.


DAFTAR PUSTAKA

Majid Abdul, dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung:PT Remaja Rosdakarya Offset,2012.
Saleh Muwafik, Membangun Karakter dengan Hati Nurani: pendidikan karakter untuk generasi bangsa, Erlangga,2012.
Lickona Thomas. Educating for Character. Newyork, Terjemahan oleh Juma Abdu Wamaungo. Jakarta:Bumi Aksara,1991.
Muslich Masnur, Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: BUMI AKSARA,2011.







[1] Abdul Majid, dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya Offset,2012)hlm.11
[2] Abdul Majid, dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya Offset,2012)hlm.11
[3] Thomas Lickona.(1991) Educating for Character. Newyork,Bantam
[4] Abdul Majid, dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya Offset,2012)hlm.11
[5] Muwafik Saleh, Membangun Karakter dengan Hati Nurani: pendidikan karakter untuk generasi bangsa, Erlangga,2012.hlm.225
[6] Saleh Muwafik, Membangun Karakter.,375-376

[7] Saleh Muwafik, Membangun Karakter.,377-378

Tidak ada komentar:

Posting Komentar