Pages - Menu

Menu

Kamis, 10 Desember 2015

TAREKAT NAQSABANDIYAH





A.    Pendahuluan
Kita tahu bahwa di Indonesia ini memiliki banyak aliran-aliran tarekat. Salah satu aliran tarekat yang berpengaruh di Indonesia adalah tarekat Naqsyabandiyah. Pada umumnya tarekat ini paling banyak pengikutnya di Jawa sejak abad ke-19 sampai saat ini. Tarekat ini adalah tarekat terbesar di dunia, juga di Indonesia, dan dianggap paling terawat baik. Tarekat ini merupakan sebuah tarekat yang mempunyai dampak dan pengaruh yang sangat besar kepada masyarakat muslim diberbagai wilayah yang berbeda-beda.
Tarekat ini memiliki ciri-ciri yang menonjol, yaitu: Pertama, diikutinya syariat secara ketat, keseriusan dalam beribadah yang menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, dan lebih menyukai dzikir dalam hati. Kedua, upaya yang serius dalam memengaruhi kehidupan dan pemikiran golongan penguasa serta mendekatkan negara pada agama. Markasnya di Jawa ada di Jombang, Semarang, Sukabumi, Labuhan Haji (Aceh) di pesantren Syaikh Waly, Khal.
Oleh karena itu, banyak yang harus diketahui tentang tarekat Naqsyabandiyah agar dapat membedakan antara tarekat satu dengan yang lainnya. Yang terpenting adalah pengertian tarekat Naqsyabandiyah yang sesungguhnya, siapa pendiri tarekat Naqsyabandiyah, penyebaran tarekat Naqsyabandiyah bisa sampai di Indonesia, dan berbagai ritual dan teknik spiritual tarekat Naqsyabandiyah.

B.     Pengertian Tarekat Naqsyabandiyah
Menurut Syekh Najmuddin Amin dalam kitab “Tanwirul Qulub” berasal dari dua buah kata arab “naqsyنقس artinya ukiran atau gambaran yang dicap pada sebatang lilin atau benda lain. Dan “bandy” بند artinya bendera atau layar besar.
Jadi “Naqsyabandiyah” artinya ukiran atau gambaran yang tertulis pada suatu benda, melekat tidak terpisah lagi, seperti tertera pada sebuah benda atau spanduk besar. Dinamakan Naqsyabandiyah karena Syekh Bahauddin ahli dalam memberikan gambaran kehidupan yang gaib-gaib.[1]
Syekh Ahmad Khatib Bin Abdul Lathif (1276-1334 H) dalam kitabnya “al-Ayatul” hal 23 menyatakan bahwa tarekat Naqsyabandiyah ialah tarekat Nabi SAW. yang diajarkan dan diasuh Bahauddin Syekh Naqsyabandi dan diamalkan oleh murid-muridnya dan ini disebut sebagai Ibu ketiga setelah tauhid, fiqh kemudian tasawuf.[2]

C.     Pendiri Tarekat Naqsyabandiyah
Muhammad bin Muhammad Bahauddin al Bukhari lebih dikenal sebagai Khwajah Naqsyabandi lahir di desa Qasr-I Hinduwn (717 H/ 1318 M/ 791 H/ 1389 M), tidak jauh dari Bukhara di wilayah Uzbekistan Modern, Asia Tengah. Saat kanak-kanak, khwajah dido’akan oleh Muhammad Baba Sammasi, seorang tokoh spiritual lokal terkemuka. Dia meramalkan bahwa anak kecil tersebut akan menjadi seorang bintang dalam spiritualitas dan gnosis islam suatu hari nanti.[3]
Ia berasal dari keluarga dan lingkungan yang baik. Ia mendapat gelar Syekh yang menunjukkan posisinya yang penting sebagai seorang pemimpin spiritual. Setelah ia lahir segara dibawa oleh ayahnya kepada Baba Al-Samasi yang menerimanya dengan gembira. Ia belajar tasawuf kepada Baba Al-Samasi ketika berusia 18 tahun. Selama ia menetap di Bukhara, dia menikah dan akhirnya pulang kampong setealah menyelesaikan study formalnya. Kemudian ia belajar ilmu tarekat kepada seorang quthb di Nasaf, yaitu Sayyid Amir Kulal Al Bukhari (w.772/1371). Kulal adalah seorang khalifah Muhammad Baba Al-Samasi. Dari kulal inilah ia pertama belajar tarekat yang didirikannya. Selain itu Naqsyabandi pernah juga belajar pada seorang arif bernama Al Dikkirani selama sekitar 1 tahun. Ia pun pernah bekerja untuk Khalil penguasa Samarkand, kira-kira selama dua belas tahun. Ketika sang penguasa digulingkan pada tahun 748/1347M, ia pergi ke Zirwartun. Disana ia mengembalakan binatang ternak selama tujuh tahun, dan tujuh tahun berikutnya dalam pekerjaan perbaikan jalan. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari pendidikan dan pembinaan mistisnya untuk memperdalam sumber-sumber rasa kasih sayang dan cinta kepada sesama manusia serta membangkitkan perasaan pengabdian dalam mamasuki lingkungan mistis.
Meskipun Khawajah Naqsyabandi menjalani pengasingan diri, pengorbanan, dan ketaatan terhadap nilai-nilai ideal dan praktek islam, dia sangat tahu bahwa seseorang tidak akan sukses dalam bidang apapun tanpa berkah dan kemurahan hati Allah. Oleh karena itu, menurut khawajah, seseorang tidak dalam memilih untuk menjadi seorang sufi karena sebenarnya sebuah berkah spiritual itu diberikan, bukannya di raih, meskipun seseorang tidak boleh kunjung menyerah untuk mendapatkan kasih sayang dan kemurahan Allah.
Khawajah sangat rajin mengamalkan spiritual islam mengasingkan diri. Sampai-sampai dia menolak menerima makanan atau hadiah yang ditawarkan para penguasa lokal kepadanya, kalau-kalau mereka mendapatkannya secara illegal. Satu kali, ketika dia ditanya mengapa menolak mempekerjakan seorang pelayan, dia menjawab: “kepemilikan tidak dikenal dalam kewalian.” Sebagai penganut islam tradisional yang ketat, dia sangat mempercanyai pengasingan diri dan membenci praktek-praktek hedonis. Karenanya dia mendefinisikan mistisisme islam sebagai jalur al-urwa al-wutsqa, yakni sebuah ikatan kokoh dalam mengikuti al-qur’an dan sunnah. Dengan kata lain sember dari spiritualitas dan gnosis islam tidak lain adalah Al-qur’an dan As-sunnah.
Jalur spiritual pertama kali terbentang di hadapan Khawajah dalam bentuk visi ketika dia masih muda. Dalam visi itu, dia melihat tiga buah lampu dan sebuah singgasana. Ketiga lampu mewakili seluruh tokoh sufi masa lalu, semetara singgasana tidak lain adalah sufi terkemuka Abdul Khaliq Ghujdawani. Khawajah diberitahu bahwa dia diberkati, dan suatu hari nanti akan menjadi seorang sufi besar dan penyebar spiritualitas dan gnosis yang berpengaruh.
Didirikan oleh khawajah Yusuf hamadani pada abad ketujuh, tarekat naqsyabandiyah tumbuh dan menyebar ke seluruh Asia Tengah di bawah pengawasan para sufi terkemuka, seperti Abdullah Barqi, Hasan Andaqi, Ahmad Yisiwi, dan Abdul Khaliq Ghujdawani, sebelum akhirnya khawajah naqsyabandi muncul untuk menjadi salah satu pendukungnya yang paling berpengaruh.
Sebagai salah satu tokoh sufi paling terkenal dari Sgenerasinya, khawajah naqsyabandi merupakan orang yang paling mampu dan tepat untuk menyatukan dan mengonsolidasikan berbagai aliran mistik di Asia Tengah.  Dan walaupun memiliki pengetahuan yang luas tentang islam dan sangat terberkati secara spiritual, khawajah tahu bahwa tugas yang ia hadapi tidaklah mudah. Oleh karena itu, setelah menimbang secara masak-masak, ia memulai sebuah gerakan spiritual islam massal yang nantinya dikenal sebagai tarekat naqsyabandiyah. Dengan begitu, dia memberikan kontribusi dalam penyebaran islam ke seluruh Asia tengah.
Gerakan yang diluncurkan khawajah ini menjadi sangat populer. Seiring berjalannya waktu, gerakan ini menjadi salah satu tarekat sufi paleng berpengaruh, selain tarekat qadiriyah yang didirikan oleh Abdul Qadir Al-Jilani. Terinspirasi oleh khawajah Naqsyabandi, para pengikutnya menyebar di seluruh Asia tengah, dan juga merambah sampai India. Di sana, syaikh Ahmad Sirhindi, seorang tokoh dan pembaru islam terkenal dari India, menjddai salah satu penafsir terkemuka dari tarekat ini. Para pengikut terkenal lainnya adalah Raja Jahangir, syah waliullah dari delhi, Sayyid ahmad barlevi, dan syah ghulam ali.
Ketika islam ditekan secara brutal di seluruh Asia tengah oleh para penguasa berpaham selain dari kerajaan Soviet, pengikut tarekat inilah yang menjaga kobar islam tetap menyala dikawasan itu. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa gerakan spiritualitas islam yang dirintis oleh khawajah naqsyabandi nyaris tidak ada bandingannya dalam sejarah islam. Dia wafat pada usia tujuh puluh dua tahun dan dimakamkan di desa kelahirannya, tempat nantinya sebuah monument didirikan untuk mengenang dirinya.


  1. Penyebaran tarekat naqsyabandiyah
Baha’ al-din naqsyabandi sebagai pendiri tarekat ini, dalam menjalankan aktivitas dan penyebaran tarekatnya mempunyai 3 orang khalifah utama, yakni ya’qub carkhi, ‘ala’ al-din ‘aththar dan muhammad parsa. Guru yang paling menonjol dari angkatan selanjutnya yang berasal dari khalifah ya’qub carkhi adalah khwaja ‘ubaidillah ahrar Ramadhan.[4] Dalam sejarah tarekat naqsyabandiyah, tidak ada syekh yang memiliki banyak lahan, kekayaan, atau harta seperti ‘ubaidillah ahrar. ia sangat dihormati oleh seluruh lapisan masyarakat atas maupun bawah. Ia memiliki watak sangat sederhana dan ramah, menerima para tamu dengan segala kerendahan hati. Dia tidak suka dengan kesombongan dan keangkuhan. Ia menganggap kesombongan dan keangkuhan merendahkan tingkat moral manusia dan melemahkan tali pengikat spiritual. Dalam penyebaran tarekat naqsyabandiyah ia berjasa dalam menetapkan sebuah pola yang banyak diadopsi oleh banyak syekh-syekh naqsyabandiyah selanjutnya, yaitu menjalin hubungan akrab dengan kalangan istana. Berkat situasi dan pengaruh yang besar dari ubaidillah, kemudian tarekat naqsyabandiyah ini pertama kali menyebar ke luar Asia Tengah.
Tokoh lain yang juga mempunyai peran besar dalam penyebaran tarekat ini secara geografis adalah sa’id al-din kashghari. Ia di antaranya telah membaiat penyair dan ulama besar ‘abd. Al-rahman jami’, yang berjasa mempopulerkan tarekat ini di luar istana. Penyebaran tarekat naqsyabandiyah kemudian memasuki wilayah india (yang kemudian berpengaruh ke wilayah indonesia), sekitar abad 10/16 M atau tepatnya pada tahun 1526. Dan sepanjang abad itu telah terjadi gelombang perpindahan kaum Naqsyabandiyah Asia ke India.
Di antara syekh-syekh Naqsyabandiyah yang datang ke India adalah Baqi’ Billah (971-1012 H/1563-1603 M). ia disayangi orang banyak karena kepribadiannya yang sangat ramah. Hampir semua pengikut naqsyabandiyah di seluruh dunia ini menarik garis keturunan spiritual mereka melalui Baqi Billah dan khalifahnya ahmad sirhindi. Ketika sirhindi berasil mengukuhkan dirinya sebagai penerus khanaqah Baqi Billah di delhi, taj al-Din seorang khalifah Baqi Billah yang dianggap sebagai saingannya dan gigih dalam membela konsep wahdat al-wujud dengan kecewa meninggalkan delhi kemudian menetap di makkah. Selanjunya taj aldin mengangkat dua orang khalifah di yaman, ahmad bin ‘ujail dan Muhammad ‘abd al-baqi. Muhammad ‘abd al-baqi ini adalah pembimbing yusuf makassari yang tercatat sebagai orang pertama yang memperkenalkan tarekat naqsyabandiyah di Indonesia.
yusuf makassari mempelajari tarekat ketika berada di madinah dibawah bimbingan syekh ibrahim al-kurani. Ia berasal dari kerajaan islam gowa, sebuah kerajaan kecil di sulawesi selatan, dan mempunyai pertalian darah dengan keluarga kerajaan di daerah itu. Menurut martin, apa yang diperkenalkan oleh syekh yusuf al-makassari saat itu bukanlah tarekat naqsyabandiyah sebagai sebuah organsasi, melainkan hanya sebatas teknik-tekniknya saja seperti bacaan dzikirnya dan juga metode pengaturan nafas ketika melakukan zikir. Tarekat ini baru menjadi sebuah organisasi di indonesia pada paruh kedua abad ke-19, sebagai akibat dari berbagai perubahan yang terjadi di Indonesia sendiri dan pengaruh dari dunia muslim lainnya.[5]
Penyebarannya terjadi terutama pada abad ke-19 dan masuk melalui pelajar-pelajar indonesia yang belajar di makkah atau melalui para jemaah haji yang pulang ke Indonesia. Pada perkembangan selanjutnya di indonesia , tarekat naqsyabandiyah berkembang dalam bentuknya sendiri-sendiri, yaitu: a) tarekat naqsyabandiyah khalidiyah, bersumber dari syekh ismail al-khalidi di minangkabau yang penyebarannya diawali dari daerah asalnya. b) tarekat naqsyabandiyah muzhariyah, bersumber dari sayyid muhammad salih al-zawawiyang penyebarannya sampai menyentuh dunia internasional. Pada tahun 1997, syekh anzim adil haqqani mengunjungi indonesia dan kemudian hampir setiap tahun datang ke indonesia. Kunjungan tersebut cukup menggembirakan karena berhasil membangun zawiyah naqsyabandiyah haqqani di kampung melayu, jakarta selatan. Orang pertama yang diangkat sebagai wakil syekh anzim adil untuk indonesia adalah KH. Musthafa mas’ud, yang pembaiatannya dilakukan oleh syekh Muhammad Hisyam Kabbani pada 5 april 1997.[6]
  1. Berbagai ritual dan teknik spiritual tarekat naqsyabandiyah
Seperti pada tarekat yang lain, tarekat naqsyabandiyah mempunyai tata cara peribadatan, teknik ritual dan spiritual sendiri. Naqsyabandiyah sebagai tarekat terorganisasi punya sejarah dalam rentang masa yang hampir enam abad dan penyebaran secara geografis meliputi tiga benua. Maka tidaklah mengherankan warna dan tata cara naqsyabandi menunjukan aneka variasi mengikuti masa dan tempat tumbuhnya, adaptasi terjadi karena keadaan memang berubah dan masing-masing guru dalam memberikan penekanan dalam arah yang sama.
  1. Ajaran dasar
Penganut thariqah Naqsyabandiyah mengenal sebelas asas thariqah. Delapan dari asas itu dirumuskan oleh Abd. Al-Kholiq Ghujdawani, sedangkan sisanya adalah penambahan dari syeh baha’ Al-Din Naqsyabandi.
Ajaran dasar tersebut adalah
1.      Hush bar dam: “sadar waktu bernafas”, sufis yang bersangkutan harus selalu sadar setiap menarik nafas dan menghembuskan nafas akan keberadaan Allah.
2.      Nazhar dar qadam: “menjaga langkah”, sewaktu berjalan sang murid harus menjaga langkah-langkahnya agar tujuan-tujuan ruhaniah tidak dikacaukan oleh hal-hal yang tidak relevan.
3.      Safar dar wathan: “melakukan perjalanan di tanah kelahirannya”, yaitu meninggalkan segala bentuk ketidaksempurnaan sebagai manusia menuju pada hakikat manusia sebagai makhluk yang mulia.
4.      Khalawat dar anjuman: “sepi ditengah keramaian”, yaitu hati sepi selalu ingat kepada Allah disuasana ramai. Berkholwat terbagi atas dua bagian, yaitu:
a)      Khalwat lahir, yaitu orang yang bersuluk mengasingkan diri ke sebuah tempat tersisih dari masyarakat ramai.
b)      Khalwat batin, yakni mata hati menyaksikan rahasia kebesaran Allah dalam pergaulan sesama makhluk.
5.      Yard kard: “ingat, menyebut”, terus menerus mengulangi nama Allah dengan Dzikir tauhid.
6.      Bas gasyt: “kembali, memperbarui”. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan hati agar tidak condong kepada hal-hal yang menyimpang.
7.      Nigah dasyt: “ waspada”, yaitu menjaga perasaan dan pikiran terus menerus sewaktu melkukan Dzikir tauhid.
8.      Yaq dasyt: “ mengingat kembali”, adalah menghadapkan diri kepada nur dzat Allah Yang Maha Esa, tanpa berkata-kata.


Adapun tiga asas lainnya yang berasal dari Syaikh Baha’ al-Din Naqsyabandi adalah:
1)      Wuquf zamani: “ memeriksa penggunaan waktu”, yaitu mengamati secara teratur bagaimana orang menghabiskan waktunya.
2)      Wuquf ’adadi: “ memeriksa hitungan Dzikir seseorang”. Dengan berhati-hati berapa kali seseorang mengulangi kalimat Dzikir dan Dzikir diucapkan dalam jumlah hitungan ganjil.
3)      Wuquf qalbi: “Menjaga hati tetap terkontrol”. Kehadiran hati serta kebenaran tiada yang tersisa, sehingga perhatian seseorang secara sempurna sejalan dengan zikir dan maknanya.[7]
  1. Dzikir dan Wirid
Teknik dasar Naqsyabandiyah, seperti kebanyakan tarekat lainnya adalah dzikir, yaitu berulang-ulang menyebut nama Allah atau menyatakan kalimat  laa ilaaha illaah.  Tujuan latihan itu adalah untuk mencapai kesadaran akan Tuhan yang lebih langsung dan permanen.
Tarekat naqsyabandi mengajarkan dzikir-dzikir yang sangat sederhana, namun lebih mengutamakan dzikir dalam hati dari pada dzikir dengan lisan. Ada enam yang dipakai sebagai pegangan untuk mencapai tujuan dalam tarekat ini, yaitu: a) Tobat; b) Uzla (mengasingkan diri dari masyarakat ramai yang telah dianggapnya telah mengingkari ajaran-ajaran Allah dan beragam kemaksiatan, sebab ia tidak mampu memperbaikinya); c) zuhud; d) taqwa; e) qanaah (menerima dengan senang hati segala sesuatu yang dianugerahkan oleh Allah SWT); dan f) taslim.[8]
Dzikir dapat dilakukan baik secara jamaah atau sendiri-sendiri begi mereka yang bermukim dekat dengan mursyid mereka melakukan dzikir dengan jamaah secara rutin dua kali dalam seminggu yaitu hari jum’at dan malam selasa. Apabila seorang pengamal tarekat naqsyabandiyah secara rutin mengamalkan dan tidak lepas dari bimbingan guru, insyaAllah nafsu-nafsu pada dirinya akan selalu terkontrol dan akan melahirkan satu perbuatan baik yang berakhlakul karimah.
  1. Muraqabah
Muraqabah merupakan serangkaian latihan mistik yang pada umumnya diajarkan bagi mereka yang sudah tinggi tingkatannya, paling tidak sudah menguasai dzikir pada semua lathifah (memusatkan kesadarannya kepada Allah dengan disertai getaran dan memancarkan panas pada tujuh titik halus pada tubuh). Muraqabah merupakan teknik konsentrasi dan meditasi yang bertujuan untuk pengendalian diri.
Muraqabah ini diterapkan dengan konsentrasi penuh waspada dengan segala kekuatan jiwa, pikiran dan imajinasi serta pemeriksaan yang dengannya sang hamba mengawasi dirinya sendiri dengan cermat.[9] Ahmad dhiya’ al-Din gumusy khanawi menyebutkan ada 10 tingkatan dalam muraqabah yaitu ihsan, ahadiyah, aqrabiyah, basyariyah, ilmiyah, fa’iyah, malikiyah, hajatiyah, mahbudiyah dan tauhid syuhudi.
  1. Suluk
Suluk adalah perjalanan di jalan spiritual menuju sang sumber. Ini adalah metode perjalanan melalui berbagai keadaan dan kedudukan, di bawah bimbingan seorang guru spiritual. Seseorang yang menempuh jalan ini disebut salik. Seang hamba yang telah jauh berjalan menuju Allah adalah yang telah sungguh-sungguh menunjukkan penghambaanya kepada Allah.[10]
Khalwat adalah penarikan diri dan penyendirian spiritual. Semula khalwat dilakukan secara fisik. Dengan menarik diri dari gangguan-gangguan luar yang potensi menyimpangkan seseorang dalam kontemplasinya atas nama dan sifat-sifat amal, yang biasa dilakukan di gua-gua atau tempat-tempat yang sepi. Akhirnya, penarikan diri menjdai semata-mata bersifat spiritual ketika hati senantiasa hadir terus-menerus bersama Allah, maka hal ini dikatakan berkhalwat. [11] Kebanyakan syekh naqsyabandiyah mempunyai ruang khusus tempat para muridnya dapat menjalankan suluk. Selama dalam menjalankan khalwat, seorang santri makan dan minum sedikit sekali, hampir seluruh waktunya untuk sholat, dzikir dan meditasi serta tidak diizinkan berbicara hal-hal yang bermanfaat.
  1. Tawajjuh
Konsentrasi, perhatian atau menghadapkan wajah pada sesuatu. Tawajjuh dapat mengacu pada konsentrasi spiritual yang terjadi antara mursyid dan murid. Pada tataran makna yang lebih tinggi, tawajjuh berarti perhatian Allah pada sesuatu yang mungkin yang menyebabkan sesuatu itu menjdai mewujud.[12] Tawajjuh dal ritual naqsyabandiyah merupakan perjumpaan dimana seseorang membuka hatinya pada syekhnya dan membanyangkan hatinya itu disirami berkah sang syekh yang akhirnya membawa hati itu ke hadapan Nabi Muhammad. Hal ini disimbulkan dengan berupa pertemuan kening guru dan syekhnya.
Asy-syaikh musthafa bin abu bakar ghiyatsuddin an-naqsyabandi manyatakan dalam risalahnya ath-thariqah an-naqsyabandiyah thariqah muhammadiyah bahwa thariqah ini memiliki tiga marhalah:
  1. Hendaklah anggota badan kita berhias dengan dhohirnya syari’ah muhammadiyah.
  2. Hendaklah jiwa-jiwa kita bersih dari nafsu-nafsu yang hina, yaitu hasad, thama’, riya’, nifaq dan ‘ujub pada diri sendiri. Karena hal itu merupakan sifat yang paling buruk dan karenanya iblis mendapatkan laknat.
  3. Berteman dengan para shodiqin (orang orang berhati jujur).[13]

  1. Silsilah guru-guru naqsyabandiah mengikuti garis nabi Muhammad SAW.
Silsilah tarekat naqsyabandiyah menurut hawash ‘abdullah adalah sebagai berikut:
  1. Allah SWT.
  2. Muhammad SAW
  3. Abu Bakar al-Shiddiq
  4. Salman al-Farisi
  5. Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr al-Shiddi
  6. Ja’far al-shiddiq (w.148/765)
  7. Abu yazid thaifur al-Bisthami (w.260/874)
  8. Abu al-Hasan al-kharaqani (w.425/103)
  9.  Ali al-farmadni (w.477/1084)
  10. syekh Abu yusuf ya’qub bin ayyub al-hamadani (w. 535/1140)
  11. syekh ‘abd al-khalik al-fujawani (w.617/1220)
  12. syekh ‘Arif riyukiri (w. 657/1259)     
  13. Syekh Mahammad anjiri al- faghnawi (w.643/1245 atau 670/1272)
  14. syekh ‘Ali al-Ramitani (w. 705/1360 atau 721/1321)
  15. syekh Muhammad Baba al-Syammasi (w. 740/1340 atau 755/1354)
  16. syekh Sayyid amir Kulal (w. 722/1371)
  17. syekh Baha’ al-Din Naqsyabandi (717-791/1318-1389)
  18. syekh muhammad ala’ al-din al-athhari
  19. syekh ya’qub al-jarkhi
  20. syekh muhammad ubaidillah al-ahrari
  21. syekh muhammad zahid
  22. syekh darwis muhammad
  23. syekh khaujani al-amkani
  24. syekh muhammad baqi’ billah
  25. syekh yusuf al-makasari.[14]
  1. Kesimpulan
Naqsyabandiyah artinya ukiran atau gambaran yang tertulis pada suatu benda, melekat tidak terpisah lagi, seperti tertera pada sebuah benda atau spanduk besar. Tarekat ini didirikan oleh seseorang yang bernama Muhammad bin Muhammad Bahauddin al bukhari. Khawajah sangat rajin mengamalkan spiritual islam mengasingkan diri. gerakan spiritualitas islam yang dirintis oleh khawajah naqsyabandi nyaris tidak ada bandingannya dalam sejarah islam. Dia wafat pada usia tujuh puluh dua tahun dan dimakamkan di desa kelahirannya, tempat nantinya sebuah monument didirikan untuk mengenang dirinya.
yusuf makassari yang tercatat sebagai orang pertama yang memperkenalkan tarekat naqsyabandiyah di Indonesia. yusuf makassari mempelajari tarekat ketika berada di madinah dibawah bimbingan syekh ibrahim al-kurani. Penyebarannya terjadi terutama pada abad ke-19 dan masuk melalui pelajar-pelajar indonesia yang belajar di makkah atau melalui para jemaah haji yang pulang ke Indonesia. Di Indonesia memiliki 3 aliran tarekat naqsyabandiyah, yaitu: tarekat naqsyabandiyah khalidiyah, tarekat muzhariyah dan tarekat naqsyabandiyah haqqani.
Berbagai ritual dan teknik spiritual tarekat naqsyabandiyah, yaitu: ajaran dasar, dzikir dan wirid, muraqabah, suluk dan tawajjuh. Silsilah tarekat naqsyabandiyah berawal dari Allah SWT.


   
DAFTAR PUSTAKA
Syamsul, Rijai Hamid. Buku Pintar Agama Islam (edisi yang disempurnakan). Bogor: cahaya islam, 2008.
Khoirul, anam. Ajaran tarekat naqsyabandiyah dalam membangun akhlaqul karimah.(Skripsi, STAIN Kediri, Kediri, 2005).
Muhammad, mojlum khan. 100 muslim (paling berpengaruh sepanjang masa). Jakarta: Noura books, 2012.
Sri, mulyani. Mengenal dan memahami tarekat-tarekat mukhtabarah di Indonesia. Jakarta: prenada media, 2007.
Abdul wadud kasyful humam. Satu tuhan seribu jalan (sejarah, ajaran, dan gerakan tarekat di indonesia). Yogyakarta: forum, 2013.
Amatullah, amstrong. Kunci memasuki dunia tasawuf. Bandung : mizan, 1996.
Chabib, thoha. Mengenal thariqah (panduan pemula mengenal jalan menuju Allah Ta’ala). Jakarta: aneka ilmu semarang,2005.
Abdul wadud kasyful humam. Satu tuhan seribu jalan (sejarah, ajaran, dan gerakan tarekat di indonesia). Yogyakarta: forum, 2013.

Tarekat Naqsyabandiyah
Makalah ini dikerjakan untuk memenuhi tugas mata kuliah studi tarekat
Dosen pengampu:
A.   Halil Thahir, M.HI



Disusun oleh:
Churin Maqshurotin fil khiyam
(933610313)

Akhlak tasawuf
Ushuluddin dan ilmu sosial
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri




[1] Syamsul, Rijai Hamid. Buku Pintar Agama Islam (edisi yang disempurnakan). Bogor: cahaya islam, 2008. Hal: 568
[2] Khoirul, anam. Ajaran tarekat naqsyabandiyah dalam membangun akhlaqul karimah.(Skripsi, STAIN Kediri, Kediri, 2005). Hal:18.
[3] Muhammad, mojlum khan. 100 muslim (paling berpengaruh sepanjang masa). Jakarta: Noura books, 2012. Hal: 539
[4] Sri, mulyani. Mengenal dan memahami tarekat-tarekat mukhtabarah di Indonesia. Jakarta: prenada media, 2007. Hal: 92
[5] Abdul wadud kasyful humam. Satu tuhan seribu jalan (sejarah, ajaran, dan gerakan tarekat di indonesia). Yogyakarta: forum, 2013.hal: 90
[6] Ibid. Hal: 91-92
[7] Sri, mulyani. Mengenal dan memahami tarekat-tarekat mukhtabarah di Indonesia. Jakarta: prenada media, 2007. Hal: 103 - 105
[8] Syamsul, Rijai Hamid. Buku Pintar Agama Islam (edisi yang disempurnakan). Bogor: cahaya islam, 2008. Hal: 569
[9] Amatullah, amstrong. Kunci memasuki dunia tasawuf. Bandung : mizan, 1996. Hal: 197
[10] Amatullah, Armstrong. Kunci memasuki dunia tasawuf. Bandung : mizan, 1996. Hal: 268


[12] Amatullah, Armstrong. Kunci… Hal: 292

[13] Chabib, thoha. Mengenal thariqah (panduan pemula mengenal jalan menuju Allah Ta’ala). Jakarta: aneka ilmu semarang,2005. Hal: 16
[14] Abdul wadud kasyful humam. Satu tuhan seribu jalan (sejarah, ajaran, dan gerakan tarekat di indonesia). Yogyakarta: forum, 2013.hal:104

Tidak ada komentar:

Posting Komentar