Pages - Menu

Menu

Kamis, 10 Desember 2015

STRATEGI MEMBANGUN INTERAKSI BERBASIS KARAKTER





A.    LATAR BELAKANG
Pendidikan karakter sesungguhnya merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai sebuah bangsa. Namun dalam konteks pendidikan formal tanpa kiprah guru yang memang di titahkan sebagai pendidik professional kepada siapa lagi pendidikan karakter secara formal akan di pasrahkan. Pendidikan tidak hanya di fokuskan terhadap sekolah saja, namun bagaimana pendidikan untuk anak dikelola dengan tepat di rumah sehingga terjadi keseimbangan optimalisasi peran keluarga menjadi faktor penting dalam pendidikan karakter di rumah. 
Dalam Pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan secara efektif dan efisien apabila didukung oleh sumber daya manusia yang professional untuk mengoperasikannya, dana yang cukup, sarana prasarana yg memadai untuk mendukung proses pembelajaran, serta dukungan masyarakat. Dukungan masyarakat disini sangat dibutuhkan kembali, karena krisis multidimensi telah memperlemah kemampuan bersekolah dan menimbulkan dampak negatif, diantaranya menurunnya akhlak, moral, dan karakter peserta didik. Bahkan karakter masyarakat pada umumnya.
 Sejak zaman orde lama, orde baru, orde reformasi sampai sekarang pendidikan nasional belum tertangani oleh ahlinya secara professional. Sehingga untuK meningkatkan kualitas pendidikan harus melakukan reformasi total terhadap manajemen dan sistem pendidikan nasional. Jika hal ini tidak dilakukan, maka hancurlah bangsa ini.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian Strategi ?
2.      Bagaimana Prinsip-Prinsip penggunaan Strategi Pembelajaran ?
3.      Metode apakah yang di gunakan dalam mengembangkan interaksi berbasis karakter ?



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Strategi
Strategi dalam pendidikan diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang serangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. [1]
Strategi dapat dimaknai pula dalam kitannya dengan kurikulum, strategi kaitannya dengan tokoh serta strategi kaitannya dengan metodologi. [2]
Dari hal tersebut, ada hal yang harus di perhatikan. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan termasuk metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya pembelajaran. Kedua, srtategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh sebab itu, sebelum menentukan strategi harus dirumuskan terlebih dahulu tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Maka strategi dalam kegiatan pembelajaran harus dikerjakan oleh pendidik maupun peserta didik agar apa yang menjadi tujuan dapat tercapai.
Dalam berbagai hal, strategi sering diartikan dengan metode, padahal antara keduanya mempunyai perbedaan yang jelas. Strategi menunjuk kepada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara untuk melaksanakan strategi.[3]
Dalam pendidikan karakter menuju terbentuknya akhlak mulia dalam diri setiap siswa ada tiga tahapan strategi yang harus dilakukan, yaitu :[4]
1.      Moral Knowing/Learning to know
Pada tahapan ini merupakan tahapan awal dalam pendidikan karakter. Dalam tahapan ini tujuan diorientasikan pada penguasaan pengetahuan tentang nilai-nilai. Oleh karena itu, siswa harus mampu membedakan nilai-nilai akhlak mulia dan tercela serta nilai-nilai universalnya, memahami secara logis dan rasional bahwa pentingnya akhlak mulia dan bahayanya akhlak tercela, mengenal sosok Nabi Muhammad SAW sebagai figure teladan akhlak mulia melalui hadits-hadits dan sunnahnya.
2.      Moral Loving/Moral Feeling
Dalam tahapan ini, perlunya belajar mencintai dengan cinta tanpa syarat. Dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa cinta dan rasa butuh terhadap nilai-nilai akhlak mulia. Sasaran dalam hal ini ialah guru, karena merupakan dimensi emosional siswa, hati, atau jiwa, bukan lagi akal, rasio, atau logika.
3.      Moral Doing/Learning to do
Pada tahapan inilah puncak keberhasilan mata pelajaran akhlak, siswa mempraktikkan nilai-nilai akhlak itu dalam perilakunya sehari-hari. Siswa menjadi semakin sopan, ramah, hormat, penyayang, jujur, disiplin, cinta, kasih dan saying, adil sera murah hati.
B.     Prinsip-prinsip penggunaan Strategi pembelajaran
Dalam Diknas Nomor 19 Tahun 2005 mengatakan bahwa proses pembelajaran pendidikan di selenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik. [5]
1.      Interaktif
Prinsip ini mengandung bahwa mengajar tidak hanya sekedar menyampaikan pengetahuan dari pendidik ke peserta didik, akan tetapi mengajar dianggap sebagai proses mengatur lingkungan yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar. Dengan cara tersebut, dimungkinkan kemampuan peserta didik akan berkembang baik secara mental-spiritual, intelektual, emosional, sosial, dan fisik.
2.      Inspiratif
Proses pembelajaran dapat dikatakan inspiratif jika proses pembelajaran memungkinkan peserta didik untuk melakukan sesuatu . Disini, pendidik harus membuka berbagai peluang agar peserta didik dapat melakukan sesuatu yang terkait dengan materi pelajaran.
3.      Menyenangkan
Proses pembelajaran yang menyenangkan atau bermakna dapat dilakukan pendidik dengan cara  pertama : dengan menata ruangan yang bagus dan menarik. Kedua : pengelolaan pembelajaran yang hidup dan bervariasi yaitu dengan menggunakan model pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber  belajar yang relevan.
4.      Menantang
Proses pembelajaran haruslah membuat peserta didik tertantang untuk mengembangkan kemampuan berpikir, kemampuan keterampilan aplikatif dan keterampilan bersosial. Dan kemampuan tersebut dapat ditumbuhkan dengan cara mengembangkan rasa ingin tahu dengan kegiatan mencoba-coba, berpikir secara intuitif dan analisis. 
5.      Motivasi
Motivasi merupakan daya dorong yang kuat yang memungkinkan peserta didik untuk bertindak atau melakukan sesuatu. Peserta didik harus ingat pepatah kuno Romawi : Decimus non scholae set vitae (terjemahan bebasnya : kita belajar bukan untuk sekolah/cari ijazah, tetapi untuk hidup). Motivasi belajar yang utama adalah kebutuhan untuk dapat hidup dikemudian hari dengan baik, bukan untuk mencari gelar atau ijazah.
C.    Metode mengembangkan Interaksi strategi berbasis Karakter
Istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Atas dasar tersebut, maka model belajar mengajar adalah kerangka konseptual dan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.[6]
Untuk mengembangkan strategi ini, terlebih dahulu perlu memahami model-model pengembangan strategi pada umumnya. Model ini di sajikan untuk memperkaya pemahaman tentang pengembangan strategi sehingga kita benar-benar siap untuk mengembangkan model strategi pendidikan karakter dengan sukses.
Penerapan pendidikan karakter dalam kegiatan sehari-hari[7]
1.      Keteladanan/contoh
Kegiatan seperti ini merupakan pemberian contoh/teladan  yang biasa dilakukan oleh pengawas, kepala sekolah, staf administrasi di sekolah yang dapat dijadikan model bagi peserta didik.
2.      Kegiatan Spontan
Kegiatan yang dilaksanakan secara spontan pada saat itu juga. Biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui sikap/tingkah laku peserta didik yang kurang baik.
3.      Teguran
Seorang pendidik perlu menegur apabila peserta didik melakukan perilaku buruk dan mengingatkannya agar mengamalkan nilai-nilai yang baik.
4.      Pengkondisian Lingkungan
Suasana sekolah dikondisikan sedemikian rupa dengan penyediaan sarana fisik. Missal : penyediaan tempat sampah, jam dinding, tata tertib, dan lain-lain sehingga peserta didik dapat mudah membaca dan menerapkannya.
5.      Kegiatan Rutin
Kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Missal : berbaris masuk kelas, berdoa sebelum dan sesudah belajar, mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain.
Penerapan Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran[8]
1.         Model Tadzkirah
Yaitu model untuk mengantarkan peserta didik agar senantiasa memupuk , memelihara dan menumbuhkan rasa keimanan yang telah di Ilhamkan oleh Allah SWT agar mendapat wujud konkretnya yaitu amal saleh yang dibingkai dengan ibadah yang ikhlas sehingga melahirkan suasana hati yang lapang dan ridha atas ketetapan Allah SWT.
Tadzkirah sendiri diartikan Peringatan. Dalam QS.Al-Muddatsir : 54-55.
كَلَّا إِنَّهُ تَذْكِرَةٌ #  فَمَن شَاء ذَكَرَهُ . ٥٥-٥٤
“Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah peringatan. Maka barang siapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran dari padanya”.

2.      Tunjukan Teladan
Keteladanan dan kecintaan yang dipancarkan dari seorang pendidik kepada peserta didik, serta modal kedekatan yang dibina bersamanya, akan membawa mereka mempercayai pada kebenaran perilaku, sikap dan tindakan pendidik. Dengan demikian, menabung kedekatan dan cinta kasih sayang kepada peserta didik akan memudahkan  pendidik nantinya membawa mereka pada kebaikan-kebaikan.
3.      Arahkan (Berikan Bimbingan)
Dijelaskan dalam QS.Ar-Rum: 30
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ -٣٠-
 Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah Menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS.Ar-Rum:30)
            Fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah. Manusia Diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar.
            Pada dasarnya anak telah diciptakan oleh Allah sesuai dengan fitrahnya, yaitu cenderung pada kebenaran. Apabila anak tersebut di arahkan sejak kecil dalam hal tidak baik, maka akan menimbulkan kebiasaan sampai dewasa. Bimbingan orang tua kepada anaknya, guru kepada muridnya perlu di berikan alasan, penjelasan, pengarahan mengenai hal tersebut. [9]
            Bimbingan lebih merupakan suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang di bimbing agar tercapai kemandirian diri. Bimbingan dapat berupa lisan, latihan, dan keterampilan.
4.      Dorongan
Kebersamaan orang tua dan guru dengan anak tidak sekedar memberi makan, minum,pakaian, dan lain-lain. Akan tetapi juga memberikan pendidikan yang tepat. Seorang anak harus memiliki motivasi yang kuat dalam pendidikan, sehingga pendidikan menjadi efektif. Anak yang memiliki motivasi akan memungkinkan ia untuk mengembangkan dirinya sendiri.
Sabda Rasululloh SAW : “Allah akan memberi rahmat kepada orang tua yang membantu  kepada anaknya untuk berbuat baik kepadanya. Yakni orang tua yang tidak menyuruh anaknya berbuat sesuatu yang sekiranya anak tersebut tidak mampu mengerjakan.”
5.      Kontinuitas (Sebuah Proses Pembiasaan dalam Belajar, Bersikap, dan Berbuat)
Al-Qur’an menjadikan kebiasaan sebagai salah satu teknik atau metode pendidikan. Kemudian ia mengubah sifat baik menjadi kebiasaan, sehingga jiwa dapat menunaikan kebiasaan tersebut tanpa susah payah.
Al-Qur’an mempergunakan cara bertahap dalam menciptakan kebiasaan yang baik, begitu juga dalam menghilangkan kebiasaan yang buruk dalam diri seseorang. Dalam upaya tersebut, Al-Qur’an menempuhnya melalui dua cara : Pertama, dicapainya melalui bimbingan dan latihan. Kedua, dengan cara mengkaji aturan-aturan Allah yang terdapat di alam raya yang bentuknya amat teratur.
Menurut Al-Ghazali “Kewajiban utama dari seorang pendidik ialah mengajarkan kepada anak-anak, apa-apa yang mudah dan gampang di pahaminya, oleh karena masalah-masalah yang pelik akan mengakibatkan kekacauan pikiran dan menyebabkan ia lari dari ilmu.”
Ada beberapa strategi pembelajaran yang harus di lakukan[10] :
1.      Pembelajaran Kontekstual.
Contextual Teaching and Learning (CTL) ialah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang di pelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan yang nyata, sehingga mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka.
2.      Strategi Pembelajaran Inkuiri (Wina, 2008)
Merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang di pertanyakan.
Ciri-ciri dari pembelajaran ini ialah Pertama, strategi ini menekankan kepada aktivitas peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Peserta didik disini menempatkan sebagai subjek belajar. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan peserta didik di arahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang di pertanyakan, sehingga di harapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri. Ketiga : tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis. Sehingga peserta didik tidak hanya dituntut agar menguasai materi pembelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.
3.      Strategi pembelajaran Kooperatif
Model dari pembelajaran ini adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh peserta didik dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah di rumuskan. Strategi ini selain mampu untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik, juga mampu meningkatkan hubungan sosial, meningkatkan toleransi dan meningkatkan harga diri. Kemudian dapat memenuhi berbagai kebutuhan peserta didik dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan.
4.      Strategi Pembelajaran Ekspositori (SPE)
Merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dengan maksud agar peserta didik dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. SPE ini mempunyai karakteristik, Pertama, cara penyampaian materi secara lisan/ceramah. Kedua, materi pelajaran sudah jadi, sehingga peserta didik tinggal menghafal. Ketiga, tujuan utama pembelajaran adalah menguasai materi pembelajaran itu sendiri.
Implementsi pendidikan karakter di sekolah memberikan kewenangan kepada daerah dan sekolah untuk mengembangkan kurikulum pendidikan karakter, terutama dalam mengidentifikasi karakter, dan mengembangkan silabus sesuai dengan kebutuhan daerah, kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Oleh karena itu, pembelajaran yang dilakukan akan memberikan makna bagi setiap peserta didik dalam mengembangkan potensinya masing-masing. [11]
Dalam pelaksanaannya sistem nilai yang harus di sampaikan kepada peserta didik, harus memuat baik nilai lokal, nilai nasional, maupun nilai global. Sehingga peserta didik tidak hanya mampu memahami dan bertindak sesuai dengan tuntutan lokal, dan nasional, tetapi juga di persiapkan untuk berpikir secara global.[12]


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Strategi dalam pendidikan diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang serangkaian kegiatan yang di desain untuk mrncapai tujuan pendidikan tertentu. Untuk membentuk suatu akhlak yang mulia dalam diri setiap siswa terdapat tiga strategi yaitu : Moral Knowing/Learning to know, Moral Loving/Moral Feeling, Moral Doing/Learning to do.
Dalam Diknas Nomor 19 Tahun 2005 mengatakan bahwa proses pembelajaran pendidikan di selenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik.
Untuk Mengembangkan strategi interaksi berbasis karakter dapat dilakukan dengan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam  sistem pembelajaran.



DAFTAR PUSTAKA
Majid, Abdul. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2012.
Samani, Muchlas, dan Hariyanto. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011.
Adisusilo, Sutarjo. Pembelajaran Nilai-Nilai Karakter. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2012.
Muslich, Masnur. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta : PT Bumi Aksara, 2011.
Muyasa, Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta : PT Bumi Aksara, 2011.  




[1] Sutarjo Adisusilo, J.R, Pembelajaran Nilai Krakter (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2012), hlm. 85.
[2] Muchlas Samani, hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 444.
[3] Ibid, hlm. 86.
[4] Abdul Majid, Pendidikan Karakter Perspektif Islam (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 112.
[5] Ibid, hlm. 87.
[6] Abdul Majid, Pendidikan Karakter Perspektif Islam.  hlm. 112.
[7] Masnur Muslich, Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2011), hlm. 175.
[8] Abdul Majid, Pendidikan Karakter Perspektif Islam. hlm. 112..
[9] Abdul Majid, Pendidikan Karakter Perspektif Islam. hlm. 118.
[10] Ibid, hlm. 90.
[11] Muchlas Samani, hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Hlm 447.  


[12] Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2011), hlm. 71.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar