Pages - Menu

Menu

Kamis, 10 Desember 2015

PENDIDIKAN KARAKTER




PENDAHUUAN
A.    Pengantar
Karaktar itu sama dengan akhlak dalam pandangan Islam. Akhlak dalam pandangan Islam adalah kepribaddin. Kepribadian itu komponennya tiga yaitu tahu (pengetahuan), sikap, dan perilaku. Yang dimaksud kepribadian utuh ialah bila pengetahuansama dengan sikap, sama dengan perilaku. Kepribadian pecah ialah bila pengetahuan sama dengan sikap tetapi tidaksama dengan perilakunya,atau pengetahuan tidak sama dengan sikap, tidak sama dengan perilaku. Dia tahu jujur itu baik, dia siap menjadi orang jujur, tetapi perilakunya sering tidak jujur, ini contoh kepribadian pecah. Akhlak itu sangat penting, ia menjadi penanda manusia, bila akhlaknya baik makaia adalah manusia, bila tidak, bukan.
Para Nabi diutus Tuhan untuk menyempurnakan akhlak manusia, supaya manusia dapat melaksanakan tugasnya, tugas manusia ialah menjadi manusia. Inilah takdir bagi manusia, manusia harus menjadi manusia. Kelaknya, Inilah tugas pendidikan yaitu membantu manusia menjadi manusia. Menurut kitab suci, seseorang manusia, sekelompok manusia, akan hancur oleh buruknya akhlaknya. Menurut buku sejarah, seseorang, sekelompok orang, negara, juga hancur disebabkan oleh akhlaknya. Menurut kenyataan sehari-hari, seseorang, sekelompok orang, negara, juga hancur karena akhlaknya. Jelaslah bahwa akhlak atau karakter itu sangat penting. Ia menjadi penanda bahwa seseorang itu layak atau tidak layak disebut manusia. Karena itu, pendidikan akhlak adalah bidang pendidikan yang terpenting.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Makna Pendidikan ?
2.      Apa Pengertian Karakter ?
3.      Apa Pengertian Pendidikan Karakter
4.      Apa  Beda Karakter dan Beda Karakter
5.      Bagaimana Tinjauan Islam Tentang Pendidikan Karakter ?



A. Makna pendidikan
Secara etimologi, pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Paedagogiek. Pais berarti anak, gogos artinya membimbing/tuntunan, dan iek artinya ilmu. Jadi secara etimologi paedagogiek adalah ilmu yang membicarakan bagaimana memberikan bimbingan kepada anak. Dalam bahasa inggris pendidikan diterjemahkan menjadi education.  Education  berasal dari bahasa yunani eduare yang berarti membawa keluar yang tersimpan dalam jiwa anak, untuk dituntun agar tumbuh dan berkembang. [1]

Pendidikan merupakan bagian pentinng dari kehidupan manusia yang  tak pernah  bisa ditinggalkan. Sebagai sebuah  proses, ada dua asumsi  yang berbeda mengenai pendidikan dalam kehidupan manusia. Pertama, ia  bisa dianggap  sebagai sebuah  proses  yang terjadi secara tidak sengaja atau berjalan secara alamiah.  Dalam  hal ini, pendidikan mengguunakan  metode-metode yang dipelajari serta berdasarkan aturan-aturan yang telah disepakati  mekannisme penyelenggaraannya oleh suatu komonitas masyarakat (negara), melainkan lebih merupakan bagian dari kehidupan yang memang telah berjalan sejak  manusia  itu ada. Pengertian ini merujuk pada fakta bahwa pada dasarnya manusia secara alamiah merupakan makhluk yang belajar dari peristiwa alam dan gejala-gejala  kehidupan yang ada untuk mengembangkan kehidupannya.
Pada kenyataanya, alam adalah “sekolah” besar yang telah mangajari manusia dengan situasi geraknya (gerak alam). Alam yang bergerak dan berubah, dengan tingkat  kesulitan dan kemudahan yang dihadapi manusia,  direspons oleh manusia dan menggerakkan cara pandangnya, kemampuan mengambil kesimpulan, dan mengakumulasi pengetahuan yang didapat dari pengalaman-pengalaman dialektis terhadap alam. Hal itu belangsung dalam waktu yang lama sebelum pendidikan direduksi (disempitkan) derajatnya menjadi sekolah. Ribuan dan jutaan tahun manusia belajar dari alam , telah menghasilkan berbagai macam pengetahuan, keterampilan, teknologi, dan nilai-nilai yang mengikuti perkembangan masyarakat tersebut. Di sinilah, pendidikan berjalan secara alamiah tanpa rekayasa untuk kepentingan pihak tertentu yang secara sengaja mendesain pendidikan untuk membangun sistem kekuasaan.
Kedua, pendidikan bisa dianggap sebagai proses yang terjadi secara sengaja, direncanakan, didesain, dan diorganisasi berdasarkan aturan yang berlaku, terutama perundang-undangan yang dibuat atas dasar kesepakatan masyarakat. Misalnya, kita punya UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang merupakan dasar penyelenggaraan   pendidikan. Oleh karena itulah, kata pendidikan yang berasal dari bahasa Inggris education berasal dari bahasa Latin educare atau educere, yang artinya melatih atau menjinakkan (seperti dalam konteks manusia melatih hewan-hewan yang liar menjadijinak sehingga bisa diternakkan); juga berarti menyuburkan (membuat tanah menjadi baik yang siap menjadi persemaian tumbuhanyang berkembang baik tanahnya digarap dan diolah). Pendidikan sebagai sebuah kegiatan danproses aktivitas yang disengaja ini merupakan gejala masyarakat ketika sudah mulai disadari pentingnya upaya untuk membentuk, mengarahkan, dan mengatur manusia sebagaimana dicita-citakan masyarakat terutama cita-cita orang-orang yang mendapatkankekuasaan. [2]
B.  Pengertian Karakter
Seorangfilsuf Yunani bernama  Aristoteles mendefinisikan karakter yang baik sebagai kehidupan  dengan melakukan tindakan-tindakan yang benar sehubungan dengan diri seseorang dan orang lain. Aristoteles mengingatkan kepada kita tentang apa yang cenderung kita lupakan di masa sekarang ini. Kehidupan yang berbudi luhur termasuk kebaikan yang berorientasi pada diri sendiri (seperti kontrol diri dan moderasi) sebagaimana halnya dengan kebaikan yang berorientasi pada hal lainnya (seperti kemurahan hati dan belas kasihan), dan kedua jenis kebaikan ini berhubungan. Kita perlu mengendalikan diri kita sendiri, keinginan kita, hasrat kita, untuk melakukan hal yang baik bagi orang lain.
Menurut Simon Philips, karakteradalah kumpulan tata nilai yang menuju pada  suatu sistem, yang melandasi pemikiran,sikap, dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan Doni Koesoema A. Memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadiandianggap  sebagai ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri  seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yangditerima dari lingkungan misalnya keluarga pada masa kecil, juga bawaan sejak lahir. Memang, karakter dan kepribadian sering digunakan secara  rancu. Ada yang menyamakan antara keduanya. Menurut M. Newcomb, kepribadian merupakan organisasi dari sikap-sikap (predispositions) yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perikelakuan. Kepribadian  menunjuk pada organisasi dari sikap-sikap seseorang untuk  berbuat, mengetahui, berpikir, dan merasakan secara khususnya apabila diaberhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu keadaan. Karena kepribadian tersebut merupakan abstraksi dari indiidu dan kelakuannya sebagaimana halnya dengan masyarakat dan kebudayaan, ketiga aspek tersebut mempunyai hubungan yang saling memengaruhi. Sementara itu, menurut Roucek and Warren, kepribadian adalah organisasi dari faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku individu-individu. Kepribadian mencakup kebiasaan-kebiasaan, sikap, dan lain-lain sifat yang khas dimiliki seseorang yang berkembang apabila orang tadi berhubungan dengan orang lain.[3] 
C. Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter pada hakikatnya adalah sebuah perjuangan bagi setiap individu untuk menghayati kebebasannya dalam relasi mereka dengan orang lain dan lingkungannya, sehingga ia dpat semkain mengukuhkan dirinya sebagai pribadi yang unik dan khas serta memiliki integritas moral yang dapat dipertanggung jawabkan.
Pengertian pendidikan karakter tersebut selain sejalan dengan pengertian karakter itu sendiri, yakni sebagai cetak biru, format dasar, sidik jari, sesuatu yang khas dan chemistry, juga merupakan struktur antropologi manusia; karena disanalah manusia menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasan dirinya. Struktur ontropologis ini melihat bahwa karakter  bukan sekadar hasil dari sebuah tindakan, melainkan secara struktur merupakan hasil dan proses. Menurut Doni Koesoema A., (2007: 3) dinamika ini menjadi semacam dialektika terus-menerus dalam diri manusia untuk menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasannya.

Lebih lanjut pendidikan karakter juga terkait dengan tiga matra pendidikan, yaitu pendidikan individual, pendidikan social dan pendidikan moral. Selanjutnya pendidikan social terkait dengan kemampuan mnusia dalam membangun hubungan dengan manusia dan lembaga lain secara harmonis dan funngsional yang selanjutnya menjadi cermin kebebasannya dalam mengorganisasi dirinya.
Dengan demikian, karakter yang dihasilkan melalui tiga matra pendidikan tersebut merupakan kondisi dinamis dari struktur antropologi individu, yaitu individu yang tidak mau sekedar berhenti atas determinasi kodratnya, melaikan juga sebuah uusaha hidup untuk menjadi semakin integral mengatasi determinasi alam dalam dirinya, dan proses penyempurnaan dirinya secara terus-menerus. Pendidikan karakter dalam arti yang demikian itu, menurut Ahmad Amin, dalam etika (1983:143) adalah pendidikan yang sejak lama telah diperjuangkan oleh para filusuf, ahli pikir, bahkan para Rosul utusan Tuhan. Yaitu pendidikan karakter yang bersifat integral, holistik, dinamis, komprehensif dan terus-menerus hingga terbentuk sosok manusia yang terbina seluruh potensi dirinya, serta memiliki kebebasan dan tanggung jawab untuk mengekspresikan dalam seluruh aspek kehidupan.

Dalam pendidikan agama memberikan sumbangan bagi pendidikan karakter dalam hal menanamkan fondasi yang lebih kokoh, kemertabatan yang paling luhur, kekayaan yang paling tinggi dan sumber kedamaian manusia yang paling dalam. Pendidikan agama berperan amat penting dibandingkan pendidikan moral dan nilai sebagaimana tersebut di atas, dalam hal mempersatukan diri manusia dengan realitas terakhir yang lebih tinggi, yaitu Tuhan Sang Pencipta yang menjadi fondasi kehidupan manusia. Pendidikan agama yang memberikan sumbangan bagi pendidikan karakter tesebut, menurut Nurcholis Madjid, dalam membangun kembali Indonesia, (2004: 39), adalah pendidikan agama yang tidak hanya berhenti pada sebatas simbol-simbol dan pelaksanaan ritualistic. Melaikan pendidikan agama yang mampu mengajak peserta didik untuk mampu menangkap makna hakiki yang ada di baliknya.

Pendidikan karakter yang ditopang oleh pendidikan moral, pendidikan nilai, pendidikan agama, dan pendidikan kewarganegaraan sama-sama membantu siswa untuk tumbuh secara lebih matang dan kaya, baik sebagai individu, maupun sebagai makhluk sosial dalam konteks kehidupan bersama.

Keberhasilan suatu bangsa dalam memperoleh tujuannya tidak hanya ditentukan oleh mlimpah ruahnya sumber daya alam, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa “Bangsa yang besar dapat dilihat dari kualitas/karakter bangsa (manusia) itu sendiri.”
Sejak 2500 tahun yang lalu, Socratestelah berkata bahwa tujuan paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi good and smart. Dalam sejarahIslam, sekitar 1400 tahun yang lalu, Muhammad saw. Sang Nabi terakhir dalam ajaran Islam, juga menegaskan bahwa misi utamanya dalam mendidik manusia adalah untuk menyempurnakan akhlak dan mengupayakan pembentukan karakter yanag baik (good character). Berikutnya, ribuan tahun setelah itu, rumusan tujuan utama pendidikan tetap pada wilayah serupa,yakni pembentukan kepribadian manusia yang baik.[4]
Penjelasan mengenai pendidikan karakter di berikan oleh para ahli misalnya :
1.      Pendidikan Karakter Menurut Lickhona
Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
2.      Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
Suyanto mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.

3.      Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi
Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.[5]
D. Pengertian Beda Karakter dan Kepribadian.
Kepribadian adalah hadiah dari Tuhan Sang Pencipta saat manusia dilahirkan dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya di aspek kehidupan sosial dan masing-masing pribadi. Kepribadian manusia secara umum ada 4, yaitu :
1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.
2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan social dan bersenang-senang.
3. Phlegmatis :  tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.
4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.
Saat setiap manusia belajar untuk mengatasi dan memperbaiki kelemahannya, serta memunculkan kebiasaan positif yang baru, inilah yang disebut dengan Karakter. Misalnya, seorang dengan kepribadian Sanguin yang sangat suka bercanda dan terkesan tidak serius, lalu sadar dan belajar sehingga mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus, itulah Karakter. Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya).
Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu proses yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.Banyak kami perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter Anda tidaklah demikian. Karakter Anda selalu merupakan hasil pilihan Anda.Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter, lebih dari apapun dan akan menjadikan Anda seorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala sesuatu yang Anda hargai dalam kehidupan ini.Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Anda memiliki kontrol penuh atas karakter Anda, artinya Anda tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter Anda yang buruk karena Anda yang bertanggung jawab penuh. Mengembangkan karakter adalah tanggung jawab pribadi Anda.
      E.  Pendidikan Karakter dalam Islam
Puncak  karakter seorang muslim adalah taqwa, dan indikator ketaqwaannya adalah terletak pada akhlaknya. Bangsa yang Beradab adalah bangsa yang maju. Tujuan pendidikan yaitu manusia berkarakter taqwa yaitu manusia yang memiliki akhlak budi pekerti yang luhur. Karakter  dibangun berdasarkan pemahaman tentang hakikat dan struktur kepribadian manusia secara integral. Sehingga manusia berkarakter taqwa adalah gambaran manusia ideal yaitu manusia yang memiliki kecerdasan spiritual (spiritual quotient).
Kecerdasan spiritual inilah yang seharusnya paling ditekankan dalam pendidikan. Hal ini dilakukan dengan penanaman nilai-nilai etis religius melalui keteladanan dari keluarga, sekolah dan masyarakat, penguatan pengamalan peribadatan, pembacaan dan penghayatan kitab suci Al-Qur’an, penciptaan lingkungan baik fisik maupun sosial yang kondusif.
Apabila spiritualitas anak sudah tertata, maka akan lebih mudah untuk menata aspek-aspek kepribadian lainnya.  Maksudnya, kalau kecerdasan spiritual anak berhasil ditingkatkan, secara otomatis akan meningkatkan kecerdasan-kecerdasan lainnya seperti kecerdasan emosional (emotional quotient), kecerdasan memecahkan masalah (adversity quotient) dan kecerdasan intelektual (intellectual quotient). Inilah sebenarnya kunci mengapa aktifitas pendidikan yang berbasis agama lebih banyak berhasil dalam membentuk kepribadian anak. 
Keterpaduan, keserasian dan pencahayaan Godspot (ruh) terhadap kalbu, akal dan nafsu dan jasad jelas akan memaksimalkan kecerdasan dan fungsi masing-masing. Dalam konteks tujuan pendidikan, hal ini akan mampu membentuk anak didik yang memiliki kekokohan akidah (quwwatul aqidah), kedalaman ilmu (quwwatul ilmi), ketulusan dalam pengabdian (quwwatul ibadah) dan keluhuran pribadi (akhlakul karimah). 
Abdurrahman Saleh Abdullah mengatakan bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk memberikan keperibadian sebagai khalifah Allah SWT. Tujuan utama khalifah Allah adalah beriman kepada Allah dan tunduk serta patuh secara total kepadanya yang didasarkan pada sifat dasar manusia, yaitu tubuh, ruh, dan akal yang masing-masing harus dijaga. 
Pendidikan karakter seharusnya berangkat dari konsep dasar manusia: fitrah. Setiap anak dilahirkan menurut fitrahnya, yaitu memiliki akal, nafsu (jasad), hati dan ruh. Konsep inilah yang sekarang lantas dikembangkan menjadi konsep multiple intelligence. Dalam Islam terdapat beberapa istilah yang sangat tepat digunakan sebagai pendekatan pembelajaran. Konsep-konsep itu antara lain: tilâwah, ta’lîm’, tarbiyah, ta’dîb, tazkiyah dan tadlrîb. Tilâwah menyangkut kemampuan membaca; ta’lim terkait dengan pengembangan kecerdasan intelektual (intellectual quotient);  tarbiyah menyangkut kepedulian dan kasih sayang secara naluriah yang didalamnya ada asah, asih dan asuh; ta’dîb terkait dengan pengembangan kecerdasan emosional (emotional quotient); tazkiyah terkait dengan pengembangan kecerdasan spiritual (spiritual quotient); dan tadlrib terkait dengan kecerdasan fisik atau keterampilan (physical quotient atau adversity quotient). 
Metode pembelajaran yang menyeluruh dan terintegrasi. Pendidik yang hakiki adalah Allah, guru adalah penyalur hikmah dan berkah dari Allah kepada anak didik. Tujuannya adalah agar anak didik mengenal dan bertaqwa kepada Allah, dan mengenal fitrahnya sendiri. Pendidikan adalah bantuan untuk menyadarkan, membangkitkan, menumbuhkan, memampukan dan memberdayakan anak didik akan potensi fitrahnya. 
Untuk mengembangkan kemampuan membaca, dikembangkan metode tilawah tujuannya agar anak memiliki kefasihan berbicara dan kepekaan dalam melihat fenomena. Untuk mengembangkan potensi fitrah berupa akal dikembangkan metode ta’lîm, yaitu sebuah metode pendidikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menekankan pada pengembangan aspek kognitif melalui pengajaran. Dalam pendidikan akal ini sasarannya adalah terbentuknya anak didik yang memiliki pemikiran jauh ke depan, kreatif dan inovatif. Sedangkan output-nya adalah anak yang memiliki sikap ilmiah, ulûl albâb dan mujtahid. Ulul Albab adalah orang yang mampu mendayagunakan potensi pikir (kecerdasan intelektual/IQ) dan potensi dzikirnya untuk memahami fenomena ciptaan Tuhan dan dapat mendayagunakannya untuk kepentingan kemanusiaan. Sedangkan mujtahid adalah orang mampu memecahkan persoalan dengan kemampuan intelektualnya. Hasilnya yaitu ijtihad (tindakannya) dapat berupa ilmu pengetahuan maupun teknologi. Outcome dari pendidikan akal (IQ) terbentuknya anak yang saleh (waladun shalih). 
Pendayagunaan potensi pikir dan zikir yang didasari rasa iman pada gilirannya akan melahirkan kecerdasan spiritual (spiritual quotient/SQ). Dan kemampuan mengaktualisasikan kecerdasan spiritual inilah yang memberikan kekuatan kepada guru dan siswa untuk meraih prestasi yang tinggi. 
Metode tarbiyah digunakan untuk membangkitkan rasa kasih sayang, kepedulian dan empati dalam hubungan interpersonal antara guru dengan murid, sesama guru dan sesama siswa. Implementasi metode tarbiyah dalam pembelajaran mengharuskan seorang guru bukan hanya sebagai pengajar atau guru mata pelajaran, melainkan seorang bapak atau ibu yang memiliki kepedulian dan hubungan interpersonal yang baik dengan siswa-siswinya. Kepedulian guru untuk menemukan dan memecahkan persoalan yang dihadapi siswanya adalah bagian dari penerapan metode tarbiyah. 
Metode ta’dîb digunakan untuk membangkitkan raksasa tidur, kalbu (EQ) dalam diri anak didik. Ta’dîb lebih berfungsi pada pendidikan nilai dan pengembangan iman dan taqwa. Dalam pendidikan kalbu ini, sasarannya adalah terbentuknya anak didik yang memiliki komitmen moral dan etika. Sedangkan out put-nya adalah anak yang memiliki karakter, integritas dan menjadi mujaddid. Mujaddid adalah orang yang memiliki komitmen moral dan etis dan rasa terpanggil untuk memperbaiki kondisi masyarakatnya. Dalam hal mujaddid ini Abdul Jalil (2004) mengatakan: “Banyak orang pintar tetapi tidak menjadi pembaharu (mujaddid). Seorang pembaharu itu berat resikonya. Menjadi pembaharu itu karena panggilan hatinya, bukan karena kedudukan atau jabatannya”. 
Metode tazkiyah digunakan untuk membersihkan jiwa (SQ). Tazkiyah lebih berfungsi untuk mensucikan jiwa dan mengembangkan spiritualitas. Dalam pendidikan Jiwa sasarannya adalah terbentuknya jiwa yang suci, jernih (bening) dan damai (bahagia). Sedang output-nya adalah terbentuknya jiwa yang tenang (nafs al-mutmainnah), ulûl arhâm dan tazkiyah. Ulûl arhâm adalah orang yang memiliki kemampuan jiwa untuk mengasihi dan menyayangi sesama sebagai manifestasi perasaan yang mendalam akan kasih sayang Tuhan terhadap semua hamba-Nya. Tazkiyah adalah tindakan yang senantiasa mensucikan jiwanya dari debu-debu maksiat dosa dan tindakan sia-sia (kedlaliman). 
Metode tadlrîb (latihan) digunakan untuk mengembangkan keterampilan fisik, psikomotorik dan kesehatan fisik. Sasaran (goal) dari tadlrîb adalah terbentuknya fisik yang kuat, cekatan dan terampil. Output-nya adalah terbentuknya anaknya yang mampu bekerja keras, pejuang yang ulet, tangguh dan seorang mujahid. Mujahid adalah orang yang mampu memobilisasi sumber dayanya untuk mencapai tujuan tertentu dengan kekuatan, kecepatan dan hasil maksimal. 
Sebenarnya metode pembelajaran yang digunakan di sekolah lebih banyak dan lebih bervariasi yang tidak mungkin semua dikemukakan di sini secara detail. Akan tetapi pesan yang hendak dikemukakan di sini adalah bahwa pemakaian metode pembelajaran tersebut adalah suatu bentuk mission screed yaitu sebagai penyalur hikmah, penebar rahmat Tuhan kepada anak didik agar menjadi anak yang saleh. Semua pendekatan dan metode pendidikan dan pengajaran (pembelajaran) haruslah mengacu pada tujuan akhir pendidikan yaitu terbentuknya anak yang berkarakter taqwa dan berakhlak budi pekerti yang luhur. Metode pembelajaran dikatakan mengemban misi suci karena metode sama pentingnya dengan substansi dan tujuan pembelajaran itu sendiri.
Pendekatan dan metode pendidikan dan pengajaran (pembelajaran) mengacu pada tujuan akhir pendidikan yaitu terbentuknya anak yang berkarakter taqwa dan berakhlak budi pekerti yang luhur. Serta bagi mereka yang sudah dewasa tetap dituntut adanya pengembangan diri agar kualitas keperibadian meningkat serempak dengan meningkatnya tantangan hidup yang selalu berubah. Dalam hubungan ini dikenal apa yang disebut Pendidikan sepanjang hidup. Pembentukan pribadi mencakup pembentukan cipta, rasa, karsa (kognitif, afektif, psikomotor) yang sejalan dengan pengembangan fisik.
Belajar adalah pertualangan seumur hidup, perjalanan eksplorasi tanpa akhir untuk menciptakan pemahaman personal kita sendiri. Pertualangan itu haruslah melibatkan kemampuan-kemampuan untuk secara terus menerus menganalisis dan meningkatkan cara belajar. Juga, kemampuan untuk sadar akan proses belajar dan berfikir secara mandiri. Belajar harus dimulai jauh sebelum hari pertama anak dan terus berlangsung seumur hidupnya. Seharusnya kita tidak boleh berhenti belajar dan mengemplementasikan apa yang telah kita pelajari.


1.  Karakter Pribadi Rasullullah Sebagai Simpul Akhlak Islam
Implementasi akhlak dalam Islam tersimpul dalam karakter pribadi Rasullullah Saw. Dalam pribadi Rasul, bersemai nilai-nilai akhlak yang mulia dan agung. Al-Qur’an dalam surah al-Ahzab/33ayat 21menyatakan :”sesungguhnya telah ada pada diri Rasullullahsuri teladan yang baik”. Dalam suatuhadis juga dinyatakan: “sesungguhnya aku diutus didunia itu tak lain untuk menyempurnakan akhlakbudi pekerti yang mulia” (HR. Ahmad).
Akhlak tidak diragukan lagi memiliki peran besar dalam kehidupan mannusia. Pembinaan akhlak mulia dari individu. Hakikat akhlak itu memangindividual, yang kemudian diproyeksikan menyebar ke individu-individu lainnya, lalu setelah jumlah individu yang tercerahkan secara akhlak menjadi banyak, dengan sendirinya akan mewarnai kehidupan masyarakat. Pembinaan akhlak selanjutnya dilakukan dalam lingkungan keluarga dan harus dilakukan sedini mungkin sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Melalui pembinaan akhlak pada setiap individu dan keluarga akan tercipta peradaban masyarakat yang tentram dan sejahtera.
Dalam Islam, akhlak menempatikedudukan penting dan dianggap memiliki fungsi yang vital dalam memandu kehidupan masyarakat. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat an-Nahl/16 ayat 90: “sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) belaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji kemungkaran dan permusuhan, Dia memberi pengajarankepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. Pendidikan akhlak dalam Islam diperuntukkan bagi m,anusia yang merindukan kebahagiaan dalam arti yang hakiki, bukan kebahagiaan semu. Akhlak Islam adalah akhlak yang benar-benar memelihara eksisitensi manusia sebagai makhluknterhormat sesuai dengan fitrahnya, sebagaimana Rasullullah Sww. Bersabda: “kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu, tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan akhlak yang baik” (HR.Abu Yu’la dan Al-Baihaqi).






BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Pendidikan  karakter mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif atau baik, bukan yang negatif atau buruk. Dengan demikian bahwa :
1.      Pendidikan  karakter dalam islam  adalah fokus, bertahap dan konsisten terhadap pembinaan sejak dini.
2.      Mengutamakan  bahasa perbuatan lebih baik dari perkataan. Aisyah menyebut Rasulullah SAW sebagai Al Qur’an yang berjalan.
3.      Menanamkan  keyakinan bersifat ideologis sehingga menghasilkan nilai moral dan etika dalam mengubah masyarakatnya.



Daftar Pustaka

Ahmad Tafsir. Pendidikan KarakterPerspektif Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012
Barnawi & Arifin M. Strategi Dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012
Lickona Thomas. Pendidikan Karakter, Bandung: Nusa Media, 2013
Mu’in Fatchul. Pendidikan Karakter: Konstruksi Teoritik dan Praktik, Jogjakarta:Ar-Ruzz Media, 2011




[1] Eko Susilo, Dasar-Dasar Pendidikan. Semarang: Effhar Offset, 1990) hlm. 12
[2] Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter: Konstruksi Teoritik & Praktik, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011) hlm. 288

[3] Ibid, hlm. 161
[4] Ahmad Tafsir, Pendidikan Karakter Perspektif Islam,  (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2012) hlm. 2
[5] Barnawi& M.Arifin, Strategi & Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2012) hlm. 20

KONSEP DASAR MASYARAKAT BERKARAKTER




 PENDAHULUAN

A . Latar Belakang

Salah satu realisasi visi dan misi bangsa Indonesia pada masa mendatang telah termuat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara yaitu mewujudkan sistem dan iklim  pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu guna memperteguh akhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisplin dan bertanggung  jawab, berketerampilan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka mengembangkan kualitas manusia Indonesia. Terlihat dengan jelas GBHN mengamanatkan tentang arah kebijakan dibidang pendidikan diantaranya yaitu meningkatkan kemampuan akademik dan profesional serta meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan, sehingga tenaga pendidik mampu berfungsi secara optimal terutama dalam peningkatan watak atau karakter pendidik dan budi pekerti.
  
B. Rumusan Masalah

1.      Apakah pengertian pendidikan karakter ? 
2.      Apa saja konsep pendidikan karakter dalam masyarakat?
3.       Apa saja faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan di masyarakat?
4.      Apa pentingnya pendidikan dalam masyarakat
PEMBAHASAN

A. DEFINISI PENDIDIKAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER 

 a.Pengertian Pendidikan
 Pada dasarnya pengertian pendidikan ( UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 ) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan  proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata “didik” dan mendapat imbuhan “pe” dan akhiran “an”, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusiamelalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Dari beberapa pengertian pendidikan menurut ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan adalah Bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.[1]
 
b.Pengertian Pendidikan Karakter
Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education) dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek,  penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter. Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakanbahwa karakter yang  baikdidukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan dibawah ini merupakan bagan kterkaitan ketiga kerangka pikir ini.

c. Nilai Pendidikan Karakter
 Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal.
Karakter dasar manusia yang bersumber dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai dasar  tersebut. Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas.
B. KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MASYARAKAT
 Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).
Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya).
Lingkungan masyarakat merupakan lingkungan masyarakat kelompok manusia yang berada di sekeliling kita, bekerja bersama-sama, saling menghormati, saling membutuhkan dan dapat mengorganisasikan lingkungan tersebut sebagai satu kesatuan sosial dalam batas tertentu. Setiap orang tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan masyarakat sekitarnya. Pergaulan masyarakat akan berjalan dengan baik jika berlaku yang baik jika berlaku akhlaq yang berisikan hak dan kewajiban yang harus ditaati oleh setiap anggota dalam masyarakat itu.
a. Akhlaq yang berlaku dalam pergaulan lingkungan masyarakat, antara lain :
·         Menunjukkan wajah yang jernih dan hati yang suci kepada mereka
·         Menjaga lisan dan perbuatan
·         Menghormati dan tenggang rasa kepada mereka
·         Saling memberi pertolongan jika ada anggota masyarakat yang membutuhkan
·         Dalam pergaulan harus menggunakan bahasa yang baik dan benar
·         Saling mengucapkan salam bila bertemu
·         Menyesuaikan diri jika di majelis pertemuan
·         Minta izin jika mau masuk rumah orang atau tempat-tempat lain
·         Berkelakar dengan sopan
·         Menjenguk orang sakit
·         Berta’ziyah dan menyelenggarakan upacara pemakaman

b. Konsep-konsep dasar itu meliputi :
1. Kebudayaan
2. Tradisi
3. Pengetahuan
4. Ilmu
5. Teknologi
6. Norma
7. Lembaga
8. Seni
9. Bahasa
10. Lambang

Konsep lain yang memegang peranan kunci dalam kehidupan masyarakat dan budaya adlah nilai serta norma. Nilai dan norma sangat erat kaitannya , namun demikian memiliki perbedaan yang mendasar. Dalam alam fikiran manusia sebagai anggota masyrakat melekat apa yang di katakana baik dan buruk, sopan dan tidak sopan, tepat dan tidak tepat, salah dan benar dan sebagainya. Hal itu semua merupakan nilai yang mengatur , membatasi, dan menjaga keserasian hidup bermasyarakat orang yang tidak sopan dengan orang tua, orang yang di tuakan dan orang yang lebih tua , di katakana bahwa orang yang bersangkutan tidak tahu nilai.
Dalam tindakan, perilaku dan perbuatan, seseorang selalu sesuai dengan tradisi, kebiasaan dan aturan-aturan yang berlaku. Orang tersebut dikatakan mengetahui nilai dan berpegang pada nilai yang berlaku. Sedangkan norma, lebih mengarah pada ukuran dan aturan kehidupan yang berlaku di masyarakat.

Selanjutnya, Koentjaraningrat mencontohkan juga pranata yang berfungsi memenuhi keperluan kekerabatan yaitu perkawinan, tolong-menolong, sopan santun, pergaulan antar kerabat dan sebangsanya. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan matapencaharian , yaitu pertanian, peternakan, industry, perdagangan dsb.

Bahasa sebagai suatu konsep dasar, memiliki pengertian konotatif yang luas. Bahsa sebagai suatu konsep, bukan hanya merupakan suatu rangkaian kalimat tertulis atupun lisan, melainkan pengertiannya itu lebih jauh dari pada hanya sekedar rangkaian kalimat. Bahasa sebagai suatu konsep, meliputi pengertian sebagai bahasa anak, remaja, bahasa orang dewasa, bahasa bisnis dsb. Namun demikian, makna dan nialai bahasa sebagai suatu konsep terletak pada kedudukannya sebagai alat mengungkapkan perasaan, fikiran dan komunikasi dengan pihak atau orang lain. Bahasa merupakn alat untuk saling mengerti bagi berbagai pihak sehingga mampu mengembangkan hidup dan kehidupan ketingkat atu taraf yang lebih sejahtera. Tidak justru menjadi alat untuk menyengsarakan masyarakat.

C. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS PENDIDIKAN DI MASYARAKAT
·         Mahalnya biaya pendidikan Untuk yang satu ini tanpa saya jabarkan tentu semuanya telah paham akan hal ini.
·         Sarana dan prasarana Di beberapa tempat masih banyak gedung sekolah yang kurang layak  pakai dikarenakan berbagai bencana maupun usia bangunan yang cukup tua sehingga menurunkan semangat dalam belajar. Bahkan penanganan  pemerintah untuk menindak lanjuti hal ini pun dirasa kurang tanggap.  
·         Kesejahteraan pendidik Banyak dari para guru yang mengeluhkan bahwa penghargaan terhadap  pahlawan tanpa tanda jasa ini begitu kurang, bahkan sebagian dari tenaga pendidik tersebut memiliki sambilan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
·         Kualitas Pendidik Hal ini merupakan imbas dari kurangnya perhatian pemerintah terhadap  peran tenaga pendidik. Bahkan beberapa tenaga pendidik ada yang melakukan kekerasan, pelecehan seksual dan tindakan-tindakan kriminal lainnya.
·         Kurang Minat belajar Indikator : Mahasiswa yang jadi panutan bagi tingkat dibawahnya ternyata masih begitu banyak yang tidak mengetahui seberapa besar tanggung jawab yang harus dipangkunya, dalam pendidikannya tanpa disadari telah banyak menghabiskan uang pajak rakyat. Coba kita  bayangkan berapa besar uang untuk pembangunan kampus, perbaikan serta dana pengembangan mahasiswa yang dikucurkan pemerintah.

D. PENTINGNYA PENDIDIKAN DI MASYARAKAT
 Pendidikan karakter menjadi kunci terpenting kebangkitan Bangsa Indonesia dari keterpurukan untuk menyongsong datangnya peradaban  baru.Di Indonesia, akhir-akhir ini menjadi isu yang sangat hangat sejak Pendidikan Karakter dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada saat Peringatan Hari Pendidikan Nasional, pada tanggal 2 mei 2010 lalu.Tekad Pemerintah tersebut bertujuan untuk mengembangkan karakter dan budaya bangsa sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan Nasional yang harus didukung secara serius. Karakter bangsa dapat dibentuk dari program-program pendidikan atau dalam proses pembelajaran yang ada di dalam kelas.Akan tetapi, apabila pendidikan memang bermaksud serius untuk membentuk suatu karakter generasi bangsa, ada banyak hal yang harus dilakukan, dan dibutuhkan penyadaran terhadap para pendidik dan juga terhadap  pelaksana kebijakan pendidikan.Jika kita pahami arti dari Pendidikan secara luas, pendidikan sebagai proses penyadaran, pencerdasan dan  pembangunan mental atau karakter, tentu bukan hanya identik dengan sekolah.Akan tetapi, berkaitan dengan proses kebudayaan yang secara umum sedang berjalan, dan juga memliki kemampuan untuk mengarahkan kesadaran,membentuk cara pandang, dan juga membangun karakter generasi muda.Artinya, karakter yang menyangkut cara pandang dan kebiasaan siswa, remaja, dan juga kaum muda secara umum sedikit sekali yang dibentuk dalam ruang kelas atau sekolah, akan tetapi lebih  banyak dibentuk oleh proses sosial yang juga tak dapat dilepaskan dari  proses ideoogi dan tatanan material-ekonomi yang sedang berjalan.
Mendidik budaya dan karakter bangsa adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui Pendidikan hati, otak, dan fisik. Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam  mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan adalah suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi muda bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan.
 Keberlangsungan tersebut dapat ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa.Oleh karena itu,  pendidikan merupakan proses pewarisan budaya dan karakter bangsa  bagi generasi muda dan juga proses pengembangan budaya karakter  bangsa untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang mengembangkan potensi peserta didik.
Pendidikan adalah suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi muda bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Keberlangsungan tersebut dapat ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa.Oleh karena itu,  pendidikan merupakan proses pewarisan budaya dan karakter bangsa  bagi generasi muda dan juga proses pengembangan budaya karakter  bangsa untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang. Dalam proses pendidikan budaya dan karakter bangsa, secara aktif  peserta didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses interalisasi, dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian dalam  bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang  bermartabat.
Berdasarkan pengertian budaya, karakter bangsa,dan pendidikan yang telah dikemukakan diatas maka pendidikan budaya dan karakter  bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai  budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga memiliki nilai dan karakter sebagai karakter diri, yang menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga Negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Atas dasar  pemikiran itu, pengembangan pendidikan budaya dan karakter sangat strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang. Perkembangan tersebut harus dilakukan melalui perencanaan yang  baik, pendekatan yang sesuai, dengan metode belajar serta pembelajaran yang efektif. Sesuai dengan sifat suatu nilai, pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama sekolah oleh karenanya harus dilakukan secara bersama oleh semua guru dan pemimpin sekolah.
            Melalui semua mata pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah. Fungsi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa adalah  perkembangan potensi peserta didik agar menjadi berperilaku baik, dan  bagi peseta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa, untuk memperkuat  pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam perkembangan  potensi peserta didik yang bermartabat, dan juga untuk menyaring  budaya bangsa sendiri dengan bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.














 
A.          KESIMPULAN

 Bangsa Indonesia telah berusaha untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu  pendidikan karakter melalui sekolah-sekolah, terutama Sekolah Menengah Pertama (SMP), karena anak usia SMP sangat cocok untuk diberi pembelajaran tentang pendidikan karakter dalam masyarakat. Guru adalah orang tua para siswa. Karenanya, Rosulullah melarang para orangtua (guru) mendoakan keburukan bagi anak-didiknya. Mendoakan keburukan kepada anak merupakan hal yang berbahaya. Dapat mengakibatkan kehancuran anak dan masa depannya. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. Bila pendidikan karakter telah mencapai keberhasilan dalam masyarakat, tidak diragukan lagi kalau masa depan bangsa Indonesia ini akan mengalami perubahan menuju kejayaan. Dan bila pendidikan karakter ini mengalami kegagalan sudah pasti dampaknya akan sangat besar bagi bangsa ini, negara kita akan semakin ketinggalan.















DAFTAR PUSTAKA

Lickona, Thomas. Mendidik untuk membentuk karakter. Terj. Juma A. Wamaungo, Jakarta: Bumi Aksara, 2012
Majid, Abdul. Pendidikan karakter Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012
Mu’in, Fathul. Pendidikan karakter: konstruksi Teoritik dan Praktik. Yogjakarta:Ar-Ruzz Media


[1] Fathul Mu’in, Pendidikan Karakter: Kontruksi Teoritik dan Praktik, (Yogjakarta:Ar-Ruzz Media,2011),160